Lonjakan harga chip memori membuat Apple berada dalam tekanan biaya yang makin nyata, dan Tim Cook mengakui dampaknya mulai sulit dihindari. Perusahaan disebut sudah berupaya menahan beban produksi selama mungkin agar tidak langsung dibebankan kepada pelanggan.
Tekanan itu datang dari pasar komponen yang tengah tersedot oleh kebutuhan pusat data AI. DRAM dan NAND, dua komponen penting untuk banyak perangkat elektronik termasuk iPhone dan Mac, kini menjadi salah satu titik paling panas dalam rantai pasok teknologi.
Permintaan AI Menggeser Prioritas Pemasok
Raksasa teknologi seperti Google, Microsoft, Meta, dan Amazon disebut memborong chip dalam jumlah besar untuk infrastruktur AI mereka. Kondisi tersebut membuat harga DRAM dan NAND melonjak tajam, bahkan disebut meroket hingga empat kali lipat dibandingkan tahun lalu.
Di saat permintaan AI terus menguat, para produsen chip seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron Technology juga disebut lebih memprioritaskan kontrak AI bernilai tinggi. Akibatnya, pasokan untuk perangkat konsumen semakin ketat dan risiko kelangkaan komponen diperkirakan bisa berlangsung hingga 2027.
Cook Sebut Situasi Rantai Pasok Sangat Langka
Dalam wawancara eksklusif dengan The Wall Street Journal yang dikutip Gizmochina, Cook mengatakan Apple telah berupaya semaksimal mungkin untuk melindungi pelanggan dari kenaikan harga. Ia menegaskan perusahaan sudah mencoba menyerap kenaikan biaya selama mungkin.
Cook juga menggambarkan kondisi rantai pasok saat ini sebagai sesuatu yang sangat langka. Ia menyamakan situasi itu dengan “banjir seratus tahun” untuk menjelaskan besarnya gangguan yang sedang terjadi pada pasokan komponen global.
Mac dan iPad Dinilai Lebih Dulu Terkena
Cook tidak menyebut produk mana yang akan paling cepat terdampak, tetapi sejumlah pengamat menilai lini Mac dan iPad berpotensi menjadi yang awal mengalami penyesuaian harga. Penilaian itu muncul karena dua lini tersebut sangat bergantung pada komponen yang sedang mahal.
Apple sebelumnya juga menaikkan harga awal Mac Mini, yang dibaca pasar sebagai sinyal bahwa perusahaan mulai menyesuaikan strategi harga. Dari sana, perhatian kemudian bergeser ke iPhone generasi berikutnya, termasuk iPhone 18 dan perangkat iPhone lipat pertama Apple.
Tekanan Harga Bisa Merembet ke iPhone Pro
Analis TechInsights memperkirakan lonjakan biaya komponen dapat menambah harga sekitar 270 dolar AS atau setara Rp4,8 juta pada model iPhone Pro generasi mendatang. Perkiraan itu membuat potensi kenaikan harga iPhone semakin menjadi sorotan, terutama jika tekanan pada komponen memori belum mereda.
Cook menyebut Apple masih menimbang opsi untuk memanfaatkan kekuatan neraca keuangannya demi mengamankan pasokan memori dalam jangka panjang. Namun, langkah tersebut tidak mudah karena banyak pemasok sudah terikat kontrak AI multi-tahun dengan pembayaran di muka bernilai besar.
Persaingan Pasokan Semakin Ketat
Kondisi itu membuat Apple harus bersaing lebih keras untuk mendapatkan pasokan komponen yang dibutuhkan. Pada saat yang sama, perusahaan juga perlu menjaga produk tetap kompetitif di tengah biaya global yang terus naik.
Fenomena ini menunjukkan bahwa gelombang AI tidak hanya mengubah arah industri teknologi dari sisi inovasi, tetapi juga memengaruhi harga perangkat yang dibeli konsumen sehari-hari. Jika permintaan chip AI terus melonjak, tekanan harga pada iPhone, Mac, dan perangkat elektronik lain masih berpotensi berlanjut.
