Kelangkaan chip memori kini tidak hanya dirasakan industri teknologi, tetapi juga mulai menekan sektor yang sangat bergantung pada rantai pasok yang stabil, termasuk otomotif. Lonjakan permintaan dari pusat data AI membuat kapasitas produksi chip memori global terserap lebih besar, sehingga pasokan untuk sektor lain ikut menyempit.
Kondisi itu memunculkan kekhawatiran baru di Amerika Serikat karena sejumlah kelompok industri menilai situasinya bisa memicu gangguan produksi dan tekanan harga di banyak sektor. Kekhawatiran tersebut bahkan sudah disampaikan langsung kepada Departemen Keuangan dan Departemen Perdagangan AS melalui surat bersama.
Tekanan pasokan merambat ke banyak sektor
Yang ikut menandatangani surat itu bukan hanya pelaku otomotif. Alliance for Automotive Innovation, yang mewakili sejumlah produsen kendaraan besar di Amerika Serikat, berada di barisan depan bersama National Retail Federation, Medical Device Manufacturers Association, NCTA – The Internet & Television Association, dan Telecommunications Industry Association.
Mereka sama-sama menilai permintaan chip memori untuk AI telah menciptakan tekanan besar pada ketersediaan komponen di pasar. Saat kapasitas produksi lebih banyak mengalir ke kebutuhan pusat data, sektor lain harus berebut sisa pasokan yang tersedia.
Situasi ini membuat banyak pihak teringat pada krisis semikonduktor global beberapa tahun lalu. Bedanya, kali ini pemicunya datang dari kebutuhan AI yang terus membesar dan mengubah arah alokasi produksi chip di industri semikonduktor.
Industri mobil paling sensitif terhadap gangguan chip
Bagi industri otomotif, persoalan ini bukan sekadar kekurangan komponen tambahan. Jika chip memori sulit diperoleh, produsen kendaraan bisa menghadapi hambatan produksi yang berujung pada terganggunya lini perakitan.
Industri mobil dikenal sangat sensitif terhadap gangguan rantai pasok. Pengalaman saat krisis semikonduktor global sebelumnya menunjukkan bahwa kekurangan chip dapat memperlambat produksi dan menekan distribusi kendaraan ke pasar.
Kekhawatiran baru muncul karena pusat data AI kini menjadi pembeli besar chip memori. Ketika pasokan terbatas dan produsen lebih tertarik mengarahkan kapasitas ke segmen yang dianggap bernilai ekonomi lebih tinggi, sektor otomotif ikut berada dalam posisi yang rentan.
Harga chip naik, efeknya menjalar ke berbagai produk
Kelompok industri juga menyoroti kenaikan harga chip memori yang disebut sudah terjadi dalam skala belum pernah terlihat sebelumnya. Di saat yang sama, pasokan untuk industri manufaktur dan produk konsumen semakin terbatas.
Dampaknya tidak berhenti pada kendaraan. Biaya produk elektronik dan perangkat teknologi informasi ikut tertekan, sementara pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi juga menghadapi beban tambahan.
Sektor perangkat medis pun masuk daftar yang rawan terdampak. Jika kelangkaan chip memori terus berlangsung, pasokan perangkat medis dan berbagai produk manufaktur lain dapat ikut terganggu.
Pasar lain sudah lebih dulu merasakan dampaknya
Tanda-tanda tekanan ini sudah terlihat di pasar smartphone global. Counterpoint Research memperkirakan pengiriman smartphone dunia turun 13,9 persen sepanjang tahun ini menjadi sekitar 1,08 miliar unit.
Penurunan itu salah satunya dipicu memburuknya pasokan chip memori. Segmen yang paling terkena dampak adalah smartphone kelas entry level karena produsen chip lebih memprioritaskan kapasitas produksi untuk kebutuhan AI.
Persaingan memperebutkan chip memori yang makin terbatas juga sudah terlihat sebelumnya. Reuters pada Desember lalu melaporkan bahwa perusahaan AI dan produsen elektronik konsumen sama-sama berebut pasokan yang terus menyempit, dan situasi itu ikut mendorong harga komponen penyimpanan data naik.
Bagi pelaku otomotif, perkembangan tersebut menjadi sinyal bahwa ancaman pasokan bukan lagi sekadar teori. Ketika sektor elektronik konsumen saja sudah mulai terdampak, industri mobil melihat risiko gangguan serupa bisa merembet ke produksi kendaraan jika pasokan chip memori tidak segera membaik.
Source: otomotif.kompas.com