Gelombang penggunaan material daur ulang di industri mobil tidak lagi berhenti pada plastik interior atau komponen kecil. Perubahan itu kini merambah ke strategi produksi utama, dan dorongan terbesarnya datang dari tuntutan keberlanjutan yang makin ketat di pasar global.
Tekanan tersebut paling kuat terasa di Eropa, lalu bergerak menjadi acuan bagi pabrikan di berbagai negara. Industri otomotif pun mulai menilai mobil bukan hanya dari emisi saat digunakan di jalan, tetapi juga dari jejak karbon sejak tahap produksi.
Yannes Martinus Pasaribu dari Institut Teknologi Bandung menilai semakin banyak produsen yang merakit mobil dengan material daur ulang. Ia menyebut dorongan itu datang dari kebutuhan industri untuk lebih berkelanjutan sekaligus dari besarnya pasar otomotif dunia.
“Sekarang itu makin banyak produsen yang merakit mobil pakai material daur ulang karena adanya tekanan struktural berupa regulasi sustainable development goals yang sangat ketat yang diinisiasi Eropa dan sekarang menjadi standar global sustainability,” kata Yannes saat dihubungi, Kamis (4/6).
Menurut Yannes, permintaan terhadap bahan ramah lingkungan tidak hanya muncul dari regulator. Konsumen dan negara-negara dengan standar keberlanjutan tinggi juga ikut mendorong pabrikan bergerak lebih cepat.
Dari Eropa dan Amerika ke strategi produksi utama
Dalam satu dekade terakhir, sejumlah merek besar asal Eropa dan Amerika Serikat menjadi penggerak awal pemakaian material daur ulang pada mobil. Volvo, BMW, Ford, Renault, Volkswagen, dan Audi termasuk yang aktif meningkatkan penggunaan recycled content pada interior, body, dan komponen kendaraan.
Langkah itu membuat material daur ulang tidak lagi diperlakukan sebagai program tambahan. Pendekatan tersebut kini mulai masuk ke strategi produksi utama karena pasar ikut menuntut standar yang sama.
Yannes menilai dua material yang paling potensial untuk didaur ulang dalam produksi mobil adalah plastik dan steel. Keduanya dipandang paling luas digunakan dan paling relevan untuk dikembangkan dalam skala besar.
Bahan yang dipakai semakin beragam
Pabrikan Asia juga ikut memperluas pemanfaatan material daur ulang, termasuk Hyundai. Pada mobil listrik Ioniq 6, Hyundai memakai bahan daur ulang yang lebih beragam di bagian interior.
Hyundai menggunakan bio-pete yang diekstraksi dari tebu untuk plafon atau headliner. Jala pancing bekas diolah menjadi karpet dan alas dasar, sementara tebu dipakai untuk memproses bahan pelapis jok yang dikombinasikan dengan plastik daur ulang.
Untuk menghasilkan pelapis jok seperti kulit, Hyundai juga menggunakan minyak dari bunga dan ekstrak jagung. Rangkaian bahan itu menunjukkan bahwa penggunaan material daur ulang kini tidak berhenti pada plastik dan logam saja.
Daur ulang baterai mulai jadi industri besar
Peralihan ke kendaraan listrik membuat isu daur ulang masuk ke wilayah yang lebih kompleks, yaitu baterai bekas. China disebut berada di garis depan karena banyak produsen kendaraan listrik berasal dari negara tersebut.
Negeri itu juga menerbitkan aturan ketat lewat “Interim Measures for the Management of Recycling and Comprehensive Utilization of Retired Power Batteries of NEVs”. Aturan yang berlaku 1 April itu bertujuan mengendalikan alur peredaran baterai bekas, termasuk mewajibkan baterai EV tetap melekat pada kendaraan saat dibongkar.
Kebijakan tersebut penting karena baterai bekas dapat berubah menjadi limbah berbahaya jika tidak dikelola dengan baik. Di sisi lain, baterai bekas menyimpan material bernilai tinggi yang bisa dipulihkan dan masuk kembali ke rantai pasok industri.
Pada Oktober 2025, dilaporkan sejumlah perusahaan lokal di China mampu memulihkan 96,5 persen litium serta 99,6 persen nikel, kobalt, dan mangan dari baterai bekas. Angka itu menunjukkan daur ulang baterai sudah bergerak dari tahap awal menuju skala industri.
Laporan Autohome juga menyebut lembaga riset di China memperkirakan jumlah baterai bekas akan mencapai 1 juta ton pada 2030. Proyeksi itu memperlihatkan bahwa tantangan limbah sekaligus peluang material sekunder akan terus membesar seiring bertambahnya kendaraan listrik di jalan.
Source: www.cnnindonesia.com