Tekanan terhadap rupiah kembali terlihat saat mata uang Garuda ditutup di level Rp17.287 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi ketika pasar global ikut bergejolak akibat lonjakan harga minyak mentah yang dipicu memanasnya konflik AS dan Iran.
Di dalam negeri, sentimen juga tidak sepenuhnya membantu. Aksi jual obligasi pemerintah menambah kehati-hatian pelaku pasar, sehingga tekanan pada rupiah datang dari luar dan dari pasar domestik sekaligus.
Geopolitik Timur Tengah jadi sorotan utama
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menilai faktor geopolitik di Timur Tengah menjadi pendorong terbesar pelemahan rupiah. Menurut dia, kenaikan harga minyak dunia sangat terkait dengan perang AS dan Iran yang masih berlangsung dan memengaruhi jalur perdagangan energi penting.
Rully menjelaskan bahwa pelemahan rupiah pada perdagangan tersebut dipicu oleh lonjakan harga minyak yang muncul setelah konflik memanas dan memicu kekhawatiran soal penutupan Selat Hormuz. Kondisi itu membuat pasar cenderung menghindari aset berisiko atau bersikap risk-off.
Kekhawatiran tersebut semakin besar setelah negosiasi damai dan gencatan senjata putaran kedua di Pakistan tidak terlaksana. Iran tidak hadir dalam pertemuan itu sebagai bentuk protes atas langkah Amerika Serikat yang melakukan blokade di jalur perdagangan vital Selat Hormuz.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebut pelanggaran komitmen, blokade di Selat Hormuz, dan ancaman dari AS sebagai hambatan utama dalam proses negosiasi. Ia menegaskan Iran tetap terbuka terhadap dialog, tetapi menilai tindakan di lapangan justru bergerak berlawanan dengan seruan damai.
Harga minyak melonjak, pasar energi ikut tertekan
Laporan Anadolu menyebut ketidakpastian gencatan senjata memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global. Di tengah situasi itu, data Xinhua menunjukkan harga minyak mentah Brent naik ke 102,25 dolar AS per barel dan West Texas Intermediate atau WTI menguat ke 93,47 dolar AS per barel.
Lonjakan harga minyak biasanya memberi tekanan tambahan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Saat biaya energi meningkat, tekanan pada impor dan neraca perdagangan bisa bertambah, sehingga kondisi mata uang domestik ikut terbebani.
Selat Hormuz menjadi perhatian besar karena jalur itu merupakan salah satu rute perdagangan energi paling vital di dunia. Jika gangguan berlangsung lebih lama, kekhawatiran terhadap pasokan minyak dapat terus menekan sentimen global dan memberi tekanan tambahan pada mata uang di kawasan emerging market.
Pasar obligasi domestik ikut memberi sinyal hati-hati
Di sisi domestik, tekanan pada aset keuangan juga tercermin dari pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah yang naik di berbagai tenor. Kenaikan ini menunjukkan pasar meminta kompensasi risiko yang lebih tinggi dan menandakan kehati-hatian terhadap arah pasar ke depan.
Rully Nova menyebut imbal hasil tenor 1 tahun naik 9,5 basis points, tenor 2 tahun naik 2,1 bps, sedangkan tenor 3 dan 4 tahun masing-masing naik 10,2 bps dan 12,2 bps. Untuk tenor 5 tahun, imbal hasil naik 12,2 bps, sementara tenor acuan 10 tahun naik 9,1 bps menjadi 6,73 persen.
Pergerakan obligasi itu memperlihatkan tekanan pada rupiah tidak berdiri sendiri. Ketika minat terhadap aset berisiko menurun, rupiah dan surat utang pemerintah sama-sama bisa menerima tekanan jual.
Kurs acuan BI ikut melemah
Pelemahan rupiah juga tampak pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR Bank Indonesia. Posisi JISDOR ditutup di Rp17.308 per dolar AS, lebih lemah dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.179 per dolar AS.
Selisih antara kurs spot dan JISDOR menunjukkan tekanan berlangsung konsisten sepanjang perdagangan. Selama ketegangan geopolitik belum reda dan harga minyak masih tinggi, pasar diperkirakan tetap mencermati dampaknya terhadap rupiah dan obligasi pemerintah.
