Lotus Ubah Haluan, Mobil Listrik Penuh Ditunda dan Mesin Bensin Kembali Diberi Ruang

Lotus kini menempuh jalur yang lebih lentur di tengah pasar mobil sport listrik yang belum bergerak secepat harapan. Setelah sebelumnya sangat agresif mendorong elektrifikasi penuh, merek Inggris itu kembali memberi tempat bagi mesin bensin dan hibrida.

Perubahan arah ini menegaskan bahwa Lotus tidak lagi memaksakan transisi total dalam waktu singkat. Perusahaan baru akan melangkah penuh ke elektrifikasi ketika pasar dinilai sudah siap.

Fokus bergeser ke margin, bukan volume semata

CEO Lotus Technology Feng Qingfeng mengatakan perusahaan kini menghadapi pasar yang rumit. Karena itu, Lotus tidak akan lagi mengejar pertumbuhan penjualan secara membabi buta dan mulai mengutamakan margin laba yang lebih tinggi.

Feng juga menyebut target perusahaan adalah mencetak laba tahun depan. Arah baru ini menunjukkan Lotus ingin lebih hati-hati dalam membaca permintaan pasar sekaligus menjaga kesehatan keuangan.

Mesin bensin dan hibrida tetap masuk rencana

Dalam surat kepada karyawan, Feng menyampaikan bahwa Lotus akan merilis Emira 420 dalam beberapa pekan ke depan. Model itu masih memakai mesin pembakaran internal, sehingga menjadi penegasan bahwa mesin bensin belum ditinggalkan.

Lotus juga menyiapkan Type 135, sebuah hypercar hibrida, pada 2028. Kehadiran model ini memperlihatkan bahwa elektrifikasi tetap menjadi tujuan akhir, tetapi tidak lagi ditempuh lewat satu jalur yang kaku.

Melalui rencana Focus 2030, Lotus memilih portofolio yang lebih fleksibel dengan menjual mobil bermesin bensin, kendaraan hibrida plug-in, dan mobil listrik berbasis baterai. Komposisi targetnya sekitar 60:40 antara hibrida dan mobil listrik baterai selama masa transisi menuju listrik penuh.

Strategi lama melambat di pasar nyata

Perubahan ini muncul setelah ambisi lama Lotus berjalan lebih lambat dari perkiraan. Seusai masuk di bawah Geely pada 2017, Lotus menyusun rencana kebangkitan 10 tahun dengan target beralih penuh ke kendaraan listrik dan mobil pintar berbasis perangkat lunak pada 2028.

Dari strategi itu lahir model listrik seperti Evija, Eletre, dan Emeya. Namun, penjualan global justru turun 46 persen tahun lalu menjadi 6.520 unit, sementara pendapatan merosot 44 persen menjadi 519 juta dolar AS.

Tekanan biaya dan upaya efisiensi

Rugi bersih Lotus juga membaik, berkurang 58 persen menjadi 464 juta dolar AS. Perbaikan itu didorong oleh bauran produk yang lebih baik dan pengendalian biaya.

Untuk menekan ongkos, Lotus menggabungkan riset, pengembangan, dan produksi mobil sport di Inggris bersama platform elektrifikasi serta teknologi cerdas yang berbasis di China. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menjaga daya saing di tengah tekanan pasar.

Merek klasik yang beberapa kali berpindah tangan

Lotus punya sejarah panjang di industri otomotif sejak didirikan pada 1948. Merek ini pernah masuk jajaran produsen mobil sport papan atas dunia bersama Porsche dan Ferrari.

Namun, masalah keuangan membuat Lotus beberapa kali berpindah tangan. Perusahaan sempat diakuisisi General Motors pada 1986, lalu Proton pada 1996, sebelum akhirnya Geely mengambil alih pada 2017.

Di pasar modal, saham Lotus di Nasdaq dengan kode LOT ditutup turun 3,4 persen ke 1,43 dolar AS di New York. Angka itu mencerminkan respons pasar terhadap perubahan strategi yang kini lebih pragmatis.

Bagi Lotus, langkah terbaru ini menandai fase baru yang lebih berhati-hati. Perusahaan tetap bergerak menuju elektrifikasi, tetapi kini memberi ruang lebih besar bagi bensin dan hibrida di tengah pasar yang belum sepenuhnya siap menerima mobil listrik penuh.

Source: voi.id

Berita Terkait