Luar Angkasa Bikin Hati Lebih Cepat Menua, Dalam 24 Jam Saja Sudah Terlihat

Author: Redaksi Android62

Paparan radiasi di luar angkasa ternyata tidak hanya mengancam otot dan tulang. Penelitian baru menunjukkan bahwa kondisi itu juga dapat memicu perubahan biologis yang menyerupai penuaan, bahkan pada organ hati dalam waktu sangat singkat.

Temuan tersebut datang dari studi yang dipublikasikan dalam jurnal GeroScience dan dilaporkan mediaindonesia.com dari Earth.com. Hasilnya menyoroti bahwa mikrogravitasi dan radiasi kosmik dapat mempercepat kerusakan sel serta memunculkan tanda-tanda penuaan biologis lebih cepat dari yang selama ini diperkirakan.

Hati Menjadi Organ Paling Disorot

Tim yang dipimpin Profesor Michal Masternak dari University of Central Florida memilih hati sebagai fokus utama penelitian. Organ ini dipandang penting karena berperan dalam metabolisme, pengaturan energi, penyimpanan cadangan nutrisi, dan penetralan racun.

Masternak menjelaskan bahwa perubahan pada hati muncul jauh lebih cepat dari perkiraan. Ia menyebut, “Kami memfokuskan penelitian pada hati karena organ ini merupakan salah satu pusat metabolisme utama dalam tubuh. Yang kami temukan adalah, hanya 24 jam setelah terpapar radiasi, terjadi banyak perubahan genetik pada hati yang sangat mirip dengan proses yang terjadi saat seseorang menua.”

Menurut dia, semakin lama paparan berlangsung, semakin besar pula risiko kerusakan yang dapat terjadi. Karena itu, hati kini menjadi salah satu indikator penting untuk membaca dampak kesehatan misi antariksa jangka panjang.

Simulasi Ke Mars Mengungkap Kerusakan Tambahan

Untuk menguji dampak perjalanan luar angkasa yang lebih panjang, peneliti membuat simulasi di laboratorium. Model hewan ditempatkan selama 14 hari dalam kondisi mikrogravitasi buatan dan dipaparkan radiasi kosmik galaksi serta radiasi dari peristiwa partikel Matahari.

Skema paparan itu dilakukan di NASA Space Radiation Laboratory dan dirancang menyerupai dosis yang diperkirakan akan diterima astronaut dalam misi menuju Mars. Hasilnya menunjukkan peningkatan cellular senescence, yaitu kondisi ketika sel menua dan berhenti bekerja normal.

Peneliti juga menemukan peningkatan peradangan dan fibrosis pada hati. Fibrosis adalah pembentukan jaringan parut yang dapat mengganggu fungsi organ, dan jika berlangsung terus-menerus berpotensi berujung pada penurunan fungsi hingga kegagalan organ.

Aspek Penelitian Detail Dampak yang Diamati
Organ yang diteliti Hati Perubahan genetik mirip penuaan
Durasi simulasi 14 hari Paparan mikrogravitasi dan radiasi
Jenis paparan Radiasi kosmik galaksi dan partikel Matahari Peningkatan cellular senescence, peradangan, dan fibrosis
Tempat simulasi NASA Space Radiation Laboratory Menyerupai paparan misi ke Mars

Temuan Pada Manusia Menguatkan Pola yang Sama

Untuk memastikan temuan itu relevan bagi manusia, tim membandingkannya dengan sampel darah dari NASA Twins Study dan astronaut yang mengikuti misi Inspiration4. Hasil perbandingan memperlihatkan pola perubahan genetik yang serupa.

Masternak menilai hasil tersebut memberi petunjuk penting tentang target molekuler yang suatu hari dapat dipakai untuk melindungi astronaut dalam misi berdurasi panjang. Ia juga menekankan bahwa percepatan perubahan biologis di luar angkasa bisa membantu ilmuwan mempelajari penuaan dalam waktu yang lebih singkat.

Antagomir Muncul sebagai Harapan Perlindungan

Penelitian ini juga membuka peluang perlindungan baru melalui molekul antagomir. Molekul tersebut bekerja dengan memengaruhi microRNA, yaitu pengatur aktivitas gen di dalam sel.

Melalui mekanisme itu, antagomir diperkirakan dapat membantu menekan dampak penuaan sel dan peradangan akibat paparan radiasi yang menyerupai kondisi di luar angkasa. Meski masih tahap awal, temuan ini dinilai berpotensi menjadi dasar pengembangan terapi bagi astronaut sekaligus bagi penyakit terkait penuaan pada manusia di Bumi.

Dengan demikian, luar angkasa tidak hanya dipandang sebagai arena eksplorasi, tetapi juga sebagai laboratorium alami untuk memahami bagaimana tubuh menua. Dari sana, ilmu yang dihasilkan berpeluang memberi manfaat jauh lebih luas daripada misi ke Mars semata.

Source: mediaindonesia.com
Berita Terbaru