Tekanan terhadap Israel atas perlakuan kepada aktivis armada bantuan menuju Gaza kini tidak lagi hanya muncul dari para penyelenggara flotilla. Sejumlah pemerintah Eropa mulai meminta penjelasan, sementara aparat hukum di Italia disebut membuka penyelidikan atas kemungkinan kejahatan yang berkaitan dengan penahanan para aktivis itu.
Sorotan itu menguat setelah para aktivis yang dibebaskan melaporkan adanya kekerasan selama ditahan pasukan Israel. Dari berbagai kesaksian yang beredar, tuduhan yang muncul tidak hanya soal pemukulan, tetapi juga cedera serius, penolakan akses hukum, hingga dugaan kekerasan seksual.
Tuduhan yang makin luas
Penyelenggara Global Sumud Flotilla menyebut para aktivis yang kembali dari tahanan Israel mengalami kekerasan berat selama penahanan. Dalam pernyataan di Telegram, mereka mengatakan puluhan orang mengalami patah tulang dan beberapa lainnya ditembak peluru karet dari jarak dekat.
Luca Poggi, ekonom asal Italia yang ikut dalam flotilla, mengatakan para aktivis ditelanjangi, dilempar ke tanah, dan ditendang. Ia juga menyebut banyak orang disetrum, sebagian mengalami kekerasan seksual, dan sebagian lainnya ditolak akses ke pengacara.
Ilaria Mancosu, aktivis Italia lainnya, menggambarkan para peserta dipindahkan dari kapal mereka ke dua kapal tahanan yang ia sebut sebagai “prison ships”. Menurut dia, kelompok di salah satu kapal mengalami perlakuan lebih keras, dikurung dalam kontainer, lalu dipukuli oleh lima tentara hingga mengalami patah tulang rusuk dan lengan.
Mancosu juga menyebut ada aktivis yang mengalami cedera serius pada mata dan telinga akibat taser. Ia menambahkan, mereka menghabiskan dua hari di kapal tahanan tanpa air mengalir dan tanpa selimut, lalu hanya memakai kardus serta plastik untuk menghangatkan diri pada malam hari.
Kesaksian saat tiba di darat
Sesampainya di darat, para aktivis disebut dipaksa berlutut selama berjam-jam. Mancosu mengatakan mereka ditendang dan didorong jika bergerak atau berbicara, lalu dibawa ke penjara dan dipindahkan dari satu ruangan ke ruangan lain agar tidak bisa tidur.
Sabrina Charik, yang membantu mengatur kepulangan 37 warga Prancis dari flotilla, mengatakan lima peserta Prancis dirawat di rumah sakit di Turkiye. Ia menyebut sebagian di antaranya mengalami patah tulang rusuk atau tulang belakang, dan ada yang membuat tuduhan rinci tentang kekerasan seksual, termasuk pemerkosaan.
Di media sosial, kelompok aktivis juga menampilkan Adrien Jouen, warga Prancis, dengan memar di punggung dan lengan bawah. Penyelenggara mengatakan sebagian dugaan kekerasan terjadi di laut setelah intersepsi oleh angkatan laut Israel, dan sebagian lagi setelah para aktivis dibawa dan dipenjara di Israel.
Kementerian Luar Negeri Jerman mengatakan sejumlah warganya yang berada di flotilla juga terluka. Seorang juru bicara kementerian menyebut pejabat konsuler yang bertemu aktivis Jerman di Istanbul melaporkan beberapa orang mengalami cedera dan sedang menjalani pemeriksaan medis.
Eropa mulai menekan Tel Aviv
Pemerintah Jerman menyatakan perlakuan manusiawi terhadap warganya adalah “prioritas mutlak”. Kementerian itu juga meminta penjelasan penuh karena sebagian tuduhan dinilai serius.
Di Italia, sumber hukum menyebut jaksa sedang menyelidiki kemungkinan kejahatan yang terkait dengan insiden tersebut. Dugaan yang diperiksa mencakup penculikan dan kekerasan seksual, sehingga kasus ini kini ikut memasuki jalur hukum di Eropa.
Spanyol juga ikut meminta kejelasan. Menteri Luar Negeri Jose Manuel Albares mengatakan 44 anggota flotilla asal Spanyol dijadwalkan tiba di Madrid dan Barcelona dengan penerbangan dari Istanbul, dan empat orang di antaranya mendapat perawatan medis atas luka-luka yang dialami.
Reaksi politik terhadap Israel ikut menguat setelah muncul pula video yang dirilis Itamar Ben-Gvir. Menteri keamanan nasional sayap kanan Israel itu menampilkan dirinya mengejek aktivis asing di sebuah penampungan sementara di Ashdod, ketika para aktivis terlihat diborgol kabel dan berlutut saat lagu kebangsaan Israel diperdengarkan.
Penangkapan di laut lepas dan riwayat flotilla
Sekitar 430 orang di atas 50 kapal ditangkap pasukan Israel di perairan internasional pada hari Selasa saat mereka berupaya membawa bantuan ke Jalur Gaza. Para penyelenggara menyebut kapal-kapal itu membawa relawan dan pasokan kemanusiaan.
Gerakan flotilla sendiri muncul pada 2006, ketika perang Israel di Lebanon, lalu berkembang setelah Israel memberlakukan blokade atas Gaza pada 2007. Sejak itu, ratusan kapal dari kelompok solidaritas internasional berulang kali mencoba mencapai wilayah itu dengan bantuan kemanusiaan dan aktivis.
Pada 2008, dua kapal Free Gaza Movement menjadi yang pertama berhasil mencapai Gaza lewat laut meski blokade masih berlangsung. Namun sejak 2010, hampir setiap flotilla dicegat pasukan Israel di perairan internasional.
Pada 2010 pula, komando Israel menyerbu kapal Turkiye Mavi Marmara, menewaskan 10 aktivis dan melukai puluhan lainnya. Sejak saat itu, tuduhan perlakuan buruk terhadap aktivis yang dibawa ke Israel setelah dicegat di laut terus muncul, sementara penyelenggara mengatakan mereka khawatir sanksi dan tuduhan palsu hubungan dengan Hamas dipakai untuk membenarkan pengetatan lebih lanjut.
