Di Bagerhat, Bangladesh, sebuah kolam di samping makam pendirinya justru menjadi salah satu daya tarik paling terkenal. Tempat itu dikenal lewat legenda dua buaya air tawar raksasa, Kalapahar dan Dhautopahar, yang membuat kawasan ini berbeda dari situs sejarah lain.
Kawasan ini juga menyimpan jejak kota kuno yang dulu bernama Khalifatabad. Di wilayah yang kini masuk Bangladesh, kawasan tersebut tumbuh sebagai pusat permukiman, pemerintahan, dan keagamaan dengan tata ruang yang terencana.
Kota tua yang ditata dengan serius
Sisa-sisa Khalifatabad masih menunjukkan bahwa wilayah ini pernah dibangun sebagai kota yang hidup dan teratur. Jalan, jembatan, waduk, dan bangunan umum pernah melengkapi kawasan itu untuk menunjang aktivitas warganya.
Jejak penataan tersebut membuat Bagerhat tidak hanya penting sebagai tempat ibadah. Kawasan ini juga memperlihatkan bagaimana sebuah pusat Islam tumbuh bersama sistem kota yang rapi di Bengal bagian selatan.
Julukan kota 360 masjid
Bagerhat dikenal luas sebagai kota 360 masjid karena banyaknya rumah ibadah dan bangunan keagamaan yang pernah berdiri di sana. Jumlah itu menggambarkan kuatnya pengaruh Islam pada masa kejayaan kawasan ini.
Bangunan-bangunan tersebut umumnya dibuat dari batu bata bakar. Salah satu yang paling dikenal adalah Masjid Shat Gombuj atau Sixty Dome Mosque, yang menjadi contoh penting arsitektur Islam awal di wilayah Bengal.
Peran Khan Jahan Ali
Nama Khan Jahan Ali tidak bisa dilepaskan dari sejarah Bagerhat. Ia dikenal sebagai sufi yang dihormati di Bengal pada abad ke-15, sekaligus ulama dan pemimpin militer yang memimpin pembangunan kawasan itu.
Khan Jahan Ali dan pengikutnya membuka hutan rawa untuk membangun kota mandiri. Kompleks makamnya kini menjadi bagian penting dari warisan Bagerhat dan masih ramai didatangi peziarah.
Pengakuan dunia dan nilai sejarahnya
Mosque City of Bagerhat ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada 1985. Pengakuan itu diberikan karena kawasan ini dianggap sebagai salah satu contoh penting kota Muslim abad pertengahan yang masih menyimpan banyak peninggalan sejarah.
UNESCO menilai Bagerhat memiliki nilai sejarah tinggi, arsitektur khas, dan tata kota yang terencana dengan baik. Karena itu, kawasan ini penting bukan hanya bagi Bangladesh, tetapi juga bagi sejarah peradaban Islam di Asia Selatan.
Legenda buaya di Thakur Dighi
Di samping makam Khan Jahan Ali terdapat kolam Thakur Dighi yang lekat dengan cerita rakyat setempat. Menurut legenda, kolam itu pernah menjadi tempat dua buaya air tawar raksasa bernama Kalapahar dan Dhautopahar yang dipelihara oleh Khan Jahan Ali dan dianggap memiliki kekuatan magis.
Buaya asli dari masa itu sudah mati, tetapi kolam tersebut masih diisi buaya penerus hingga sekarang. Area kolam kini dipagari rapat demi keamanan, dan pengunjung dilarang memberi makan buaya secara langsung agar kawasan tetap aman.
Di Bagerhat, sisa kota kuno, masjid-masjid bata, makam pendiri, dan kolam berbuaya membentuk satu warisan yang saling terkait. Dari Khalifatabad hingga Thakur Dighi, kawasan ini tetap menyimpan lapisan sejarah dan cerita rakyat yang terus hidup.
Source: www.idntimes.com






