Malaysia resmi memasuki fase baru dalam industri kendaraan listrik setelah memulai produksi baterai lithium-ion berbasis graphene. Fasilitas tersebut digadang menjadi pabrik pertama di negara itu yang memproduksi teknologi baterai hasil pengembangan dalam negeri.
Teknologi itu dikembangkan oleh NanoMalaysia dan diproduksi melalui Gigafactory Malaysia, anak usaha yang sepenuhnya dimiliki perusahaan tersebut. Chief Executive Officer NanoMalaysia, Rezal Khairi Ahmad, mengatakan pabrik itu hampir beroperasi dan menjadi tonggak penting bagi penguatan industri baterai nasional.
Target performa yang dipasang cukup tinggi
Baterai yang dipakai mengusung kimia utama NMC, bukan LFP, dengan graphene sebagai material elektroda negatif yang menggantikan grafit. NanoMalaysia menyebut penggunaan graphene dapat meningkatkan kapasitas penyimpanan energi hingga tiga kali lipat dibanding baterai lithium-ion konvensional berbasis grafit.
Perusahaan juga mengklaim baterai tersebut mampu mendukung jarak tempuh hingga 640 kilometer dalam sekali pengisian. Selain itu, baterai ini sudah mendukung fast charging dan memiliki kepadatan energi lebih dari 200 Wh/kg.
Informasi utama proyek baterai NanoMalaysia
| Aspek | Informasi |
|---|---|
| Jenis baterai | Lithium-ion berbasis graphene |
| Kimia utama | NMC, bukan LFP |
| Material elektroda negatif | Graphene menggantikan grafit |
| Investasi | 20 juta ringgit Malaysia |
| Lokasi produksi | Gigafactory Malaysia, Suria, Sepang |
Investasi untuk pengembangan baterai ini sekitar 20 juta ringgit Malaysia atau setara Rp 89 miliar. NanoMalaysia berdiri sejak 2011 dan berada di bawah Kementerian Sains, Teknologi, dan Inovasi Malaysia.
Produksi awal dan kapasitas yang disiapkan
Fasilitas produksi perdana menempati area sekitar 15.000 kaki persegi di Kawasan Industri Suria, Sepang. Pada tahap awal, NanoMalaysia mengaku sudah menerima pesanan baterai 25 kWh dari salah satu organisasi lokal.
Perusahaan menargetkan kapasitas produksi naik ke skala megawatt-jam paling cepat pada September 2026. Jika beroperasi penuh, pabrik itu diperkirakan mampu menghasilkan kapasitas baterai sekitar 1 MWh per tahun atau setara sekitar 92.000 sel baterai.
Perbandingan dengan langkah Indonesia
Di kawasan ASEAN, Indonesia juga tengah menyiapkan kapasitas produksi baterai kendaraan listrik melalui pabrik milik PT Contemporary Amperex Technology Indonesia (CATIB) di Karawang, Jawa Barat. Bayu Hermawan selaku Director of Corporate Public Affairs PT CATIB mengatakan target operasional yang semula kuartal III/2026 dipercepat menjadi sekitar Juli 2026.
“Insha Allah, kami targetkan bisa mulai beroperasi pada pertengahan 2026,” ujar Bayu dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi XII DPR RI yang disiarkan secara daring, Senin (2/2/2026). Ia menambahkan, pabrik itu akan memproduksi battery cell, battery module, battery pack, hingga Battery Energy Storage System atau BESS.
| Proyek | Kapasitas Awal | Target Lanjutan | Investasi |
|---|---|---|---|
| Malaysia, NanoMalaysia | Tahap awal produksi di Sepang | Skala MWh pada September 2026 | 20 juta ringgit Malaysia |
| Indonesia, PT CATIB | 6,9 GWh | 15 GWh | Rp 7 triliun |
Pada tahap awal, fasilitas CATIB akan memiliki kapasitas 6,9 GWh dengan nilai investasi sekitar Rp 7 triliun. Ke depan, kapasitas itu ditargetkan naik menjadi 15 GWh untuk mendukung pengembangan ekosistem kendaraan listrik dan energi terbarukan di Indonesia.
Pabrik tersebut juga diproyeksikan menyerap sekitar 3.000 tenaga kerja dan menjadi bagian dari proyek Ekosistem Industri Baterai Kendaraan Listrik Terintegrasi Konsorsium Antam-IBC-CBL yang masuk Proyek Strategis Nasional. Dengan langkah Malaysia dan Indonesia, persaingan industri baterai EV di ASEAN kini bergerak dari rencana menuju produksi nyata.
Source: otomotif.kompas.com






