Laba Ditahan Jadi Andalan, Mandiri Taspen Menatap KBMI 3 pada 2028

Bank Mandiri Taspen menempatkan laba ditahan sebagai mesin utama untuk mengejar status KBMI 3 pada 2028. Dengan kebijakan dividen yang hanya 10 persen, sekitar 90 persen laba kembali menguatkan modal inti perseroan.

Langkah itu membuat kenaikan kelas bank berjalan lebih bertumpu pada kinerja internal, bukan lagi pada penambahan modal eksternal. Sejak 2020, kebutuhan permodalan Bank Mantap disebut telah dipenuhi secara organik dari usaha yang terus tumbuh.

Modal inti kian mendekati ambang KBMI 3

Bank Mandiri Taspen baru naik dari KBMI 1 ke KBMI 2 pada April 2024. Saat itu, modal inti perseroan telah melampaui batas minimum KBMI 1 sebesar Rp 6 triliun dan kini nilainya disebut mendekati Rp10 triliun.

Posisi tersebut menjadi modal awal yang penting untuk masuk ke KBMI 3, yang mensyaratkan modal inti di atas Rp 14 triliun. Head of Strategic & Performance Management Department Bank Mandiri Taspen, Agus Syaiful Anwar, menyatakan optimisme itu dalam media gathering di Denpasar, Bali.

Kinerja keuangan tetap menjadi penentu

Menurut Agus, tren pertumbuhan harus dijaga agar modal inti terus naik dan menembus batas yang ditetapkan regulator. Ia menilai pertumbuhan laba akan langsung mempercepat akumulasi modal yang dibutuhkan untuk naik kelas.

Dalam laporan keuangan per akhir Maret 2026, rasio kecukupan modal atau KPMM Bank Mantap berada pada level 30,04 persen. Pada periode yang sama, modal inti Tier 1 atau CET1 mencapai Rp 9,34 triliun, tumbuh 18,3 persen secara tahunan dari Rp 7,90 triliun.

Tabel ringkas posisi keuangan Bank Mandiri Taspen

IndikatorPer akhir Maret 2026Pertumbuhan
KPMM30,04 persenTetap tinggi
CET1Rp 9,34 triliunNaik 18,3 persen secara tahunan
Laba bersih periode berjalanRp 464,2 miliarNaik 6,6 persen secara tahunan
Dana pihak ketigaRp 58,34 triliunNaik 17,6 persen secara tahunan
PembiayaanRp 51,63 triliunNaik 9,4 persen secara tahunan
Total asetRp 76,58 triliunNaik 14 persen secara tahunan

Pertumbuhan laba, dana, dan aset ikut menguat

Hingga akhir Maret 2026, laba bersih periode berjalan tercatat Rp 464,2 miliar, naik 6,6 persen dibanding Rp 435,6 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Agus menyebut target laba yang lebih tinggi dari tahun ke tahun menjadi salah satu kunci utama untuk mencapai KBMI 3.

Ia memperkirakan laba perseroan bisa bergerak bertahap, mulai dari Rp1,7 triliun, lalu Rp2 triliun, dan kemudian Rp2,5 triliun. Dengan pola tersebut, Bank Mandiri Taspen menilai peluang naik kelas ke KBMI 3 pada 2028 tetap terbuka lebar lewat jalur organik.

Di sisi intermediasi, dana pihak ketiga per akhir Maret 2026 mencapai Rp 58,34 triliun, naik 17,6 persen secara tahunan. Kenaikan itu ditopang dana murah atau CASA yang mencapai Rp 15,06 triliun, tumbuh 44,2 persen secara tahunan dan membantu efisiensi pendanaan.

Penyaluran kredit juga bergerak positif dengan pembiayaan Rp 51,63 triliun, tumbuh 9,4 persen secara tahunan. Total aset perseroan naik 14 persen menjadi Rp 76,58 triliun, memperkuat posisi Bank Mantap dalam mengejar target kenaikan kelas bank.

Dukungan modal eksternal kini bukan lagi tumpuan utama

Sebelum 2020, ekspansi bisnis Bank Mantap sempat ditopang oleh right issue pada periode 2017 hingga 2020. Saat itu, dukungan modal datang dari Bank Mandiri dan Taspen sebagai pemegang saham.

Setelah itu, arah penguatan berubah karena perseroan mampu membiayai pertumbuhan dari hasil usahanya sendiri. Dengan modal inti yang terus mendekati batas KBMI 3, KPMM yang masih tinggi, dan laba yang terus tumbuh, strategi organik kini menjadi jalur utama menuju target 2028.

Source: www.viva.co.id
Berita Terkait