Industri manufaktur Indonesia masih menunjukkan daya tahan di tengah tekanan eksternal yang belum mereda. Pada April 2026, Indeks Kepercayaan Industri atau IKI masih berada di level ekspansif 51,75, meski turun tipis 0,11 poin dari Maret 2026 yang tercatat 51,86.
Dari 23 subsektor industri pengolahan yang dipantau, 16 subsektor masih berada dalam kondisi ekspansif. Kelompok subsektor itu menyumbang sekitar 78,9 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas pada triwulan IV 2025, sehingga pergerakannya tetap menjadi penopang penting bagi ekonomi nasional.
Di antara subsektor yang mencatat kinerja tertinggi, industri pengolahan tembakau dan industri kertas serta barang dari kertas menjadi dua nama yang paling menonjol. Namun, masih ada tujuh subsektor lain yang berada dalam kontraksi, sehingga sinyal pemulihan itu tetap harus dijaga dengan kebijakan yang cepat dan terarah.
Di saat yang sama, pemerintah memperkuat koordinasi lewat langkah baru untuk meredam dampak ketidakpastian global. Presiden telah menerbitkan Keputusan Presiden Nomor 4 Tahun 2026 untuk membentuk Satuan Tugas Percepatan Program Pemerintah untuk Mendukung Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi.
Satgas ini disiapkan sebagai alat koordinasi agar percepatan program pemerintah bisa bergerak lebih efektif dan langsung menyentuh kebutuhan pelaku usaha. Pemerintah menempatkan mekanisme ini sebagai salah satu cara untuk menjaga ekonomi nasional tetap berjalan ketika tekanan global makin sulit diprediksi.
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, menilai ketidakpastian global tidak bisa dibaca sebagai gangguan sesaat. Ia menyebut dampaknya berpotensi berlangsung beberapa bulan ke depan dan dapat merembet ke banyak sektor ekonomi.
Karena itu, koordinasi yang lebih intensif dianggap penting agar investor dan pelaku industri tetap memperoleh kepastian saat menghadapi situasi yang rumit. Percepatan program juga diarahkan bukan hanya pada tataran kebijakan, tetapi pada kebutuhan ekonomi yang terasa langsung di lapangan.
Manufaktur di garis depan risiko
Sektor manufaktur berada pada posisi yang sensitif terhadap gangguan rantai pasok. Keterbatasan bahan baku, kendala logistik, dan lonjakan harga input produksi dapat menekan produksi sekaligus distribusi dalam skala yang luas.
Susiwijono juga mengingatkan bahwa dinamika global dapat menjalar ke inflasi, nilai tukar, dan daya beli masyarakat. Karena itu, pemerintah menempatkan stabilitas makroekonomi sebagai prioritas sambil menjaga sinergi kebijakan fiskal dan moneter secara hati-hati.
Untuk mendukung industri, pemerintah menyiapkan rangkaian mitigasi operasional. Langkah itu mencakup penyesuaian regulasi impor dan kemudahan akses bahan baku agar produksi nasional tetap berjalan.
Peluang bertahan di tengah tekanan
Meski tekanan eksternal meningkat, data terbaru menunjukkan industri pengolahan masih belum keluar dari fase ekspansi. Kondisi ini memberi ruang bagi pemerintah untuk menjaga momentum, tetapi juga mengingatkan bahwa daya tahan sektor ini belum sepenuhnya bebas dari risiko.
Ketahanan manufaktur menjadi penting karena perannya yang besar terhadap PDB, investasi, ekspor, dan penyerapan tenaga kerja. Saat tekanan geopolitik dan gangguan rantai pasok makin terasa, sektor ini kembali diposisikan sebagai tumpuan utama dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Dengan kombinasi antara satgas baru, penguatan koordinasi kebijakan, dan dukungan terhadap pasokan bahan baku, pemerintah berharap respons terhadap tekanan global bisa berlangsung lebih cepat. Dalam situasi seperti ini, manufaktur tidak hanya menjadi sektor andalan, tetapi juga barisan depan untuk menahan guncangan yang berpotensi menjalar lebih luas ke perekonomian.







