Marc Márquez kembali menjadi pusat perhatian di Brno setelah merebut kemenangan, dan Pedro Acosta melihat hal itu sebagai bukti bahwa naluri juaranya tidak pernah hilang. Bagi pembalap KTM tersebut, kembalinya Márquez ke podium tertinggi bukanlah kejutan, melainkan pengingat bahwa kualitas seorang juara besar tetap bertahan meski sempat diganggu cedera berat.
Acosta menegaskan bahwa Márquez kembali dari masa sulit dengan kemampuan yang masih utuh. Ia bahkan menyoroti betapa seriusnya cedera yang pernah dialami sang pembalap, sampai lengan Márquez disebut nyaris tergantung, namun kemampuan menunggangi motor tidak berubah.
Márquez dinilai tetap berada di level tertinggi
Menurut Acosta, kemenangan Márquez di Brno tidak lahir dari kebetulan. Ia menilai, pembalap dengan sembilan gelar dunia tidak mungkin meraih pencapaian sebesar itu tanpa kualitas yang konsisten dalam jangka panjang.
Acosta juga menyebut bahwa banyak pihak memang sudah memperkirakan Márquez akan kembali tampil kuat. Dari sudut pandangnya, performa seperti itu justru menegaskan mengapa nama Márquez masih begitu disegani di MotoGP.
Brno berakhir pahit bagi Acosta
Di sisi lain, balapan Acosta sendiri berakhir dengan kekecewaan teknis. Ia terpaksa mundur ketika sedang berada dalam persaingan untuk posisi lima besar, setelah motor KTM miliknya mengalami masalah mesin yang kembali muncul dengan pola yang sama seperti pada Jumat.
Acosta menjelaskan bahwa ia sudah menjalani bagian awal balapan dengan baik. Ia start dengan bagus, mencatat putaran yang menjanjikan, lalu harus mengelola penurunan tekanan pada ban depan yang memaksanya menyesuaikan ritme.
Situasi itu membuatnya memberi jalan kepada Diggia yang tampak lebih cepat. Setelah itu, Acosta berusaha memanfaatkan rombongan di belakang untuk menaikkan tekanan ban hingga kembali masuk ke rentang kerja yang tepat.
Ia mengatakan sempat bertahan cukup lama di belakang Mir demi mencapai tekanan ideal. Saat merasa sudah siap menuntaskan pekerjaan untuk mengamankan posisi lima besar, masalah datang satu putaran terlalu lambat dan membuat peluangnya hilang.
Masalah mesin KTM belum selesai
Acosta menuturkan bahwa motor yang dikendarainya mati dengan gejala yang sama persis seperti pada hari Jumat. Karena itu, perangkat tersebut akan dibawa ke Austria agar tim bisa memahami sumber gangguan yang terus berulang.
Ia menegaskan bahwa kerusakan seperti itu tidak berada dalam kendalinya sebagai pembalap. Meski kecewa, Acosta mengaku tidak keluar dari garasi dalam keadaan marah karena masalah tersebut bukan sesuatu yang bisa ia perbaiki sendiri.
Ia juga menilai finis di posisi lima besar tetap mungkin dicapai pada akhir pekan yang terasa sulit. Karena itu, kegagalan finis terasa makin menyakitkan, apalagi ketika hasil itu sebenarnya masih berada dalam jangkauan.
Pandangan Acosta untuk seri berikutnya
Acosta turut menyinggung Grand Prix berikutnya di Belanda, yang berpotensi kembali membatasi tingkat putaran mesin. Namun, ia mengaku lebih tenang menghadapi situasi itu dibandingkan saat di Brno.
Alasannya, Yamaha sudah lama tampil di sana tanpa memiliki motor paling bertenaga di lintasan. Dengan pertimbangan itu, Acosta memilih fokus untuk mengeluarkan kemampuan maksimal dari paket yang tersedia, apa pun kondisi teknisnya nanti.
Sorotan lain di Brno
Brno juga menyisakan perhatian pada insiden yang melibatkan Marco Bezzecchi, yang mendapat sanksi setelah menabrak seorang marshall. Acosta enggan membahasnya panjang lebar, tetapi menyebut kemungkinan itu sebagai salah satu hukuman terberat yang pernah terlihat di MotoGP.
Meski begitu, sorotan terbesarnya tetap tertuju pada Márquez. Bagi Acosta, kebangkitan sang pembalap menunjukkan bahwa kecepatan, naluri, dan kepercayaan diri seorang juara besar tidak hilang hanya karena cedera berat pernah mengganggu jalannya karier.
Source: www.motosan.es






