Maskapai Pangkas Jadwal Saat Bahan Bakar Jet Melonjak, Ribuan Penerbangan Terancam Hilang

Maskapai penerbangan di berbagai negara mulai menahan laju operasional setelah biaya bahan bakar jet melonjak dan menekan margin keuntungan. Dampaknya paling terlihat pada rencana penerbangan bulan Mei, ketika kapasitas global turun sekitar 3 poin persentase setelah hampir seluruh dari 20 maskapai terbesar memangkas layanan mereka.

Perubahan itu membuat proyeksi industri bergeser jauh dari perkiraan awal. Yang sebelumnya sempat dinilai masih bisa tumbuh 4% hingga 6%, kini menurut data Cirium Ltd berbalik menjadi kemungkinan penurunan hingga 3% karena perusahaan perebangan berusaha mengurangi risiko kerugian di tengah biaya yang terus membengkak.

Tekanan biaya mendorong penyesuaian jadwal

Lonjakan harga bahan bakar jet datang bersamaan dengan gangguan pasokan minyak yang dipicu konflik di Iran dan blokade angkatan laut Amerika Serikat di Selat Hormuz. Meski Iran sempat menyatakan selat tersebut kembali terbuka untuk lalu lintas komersial, pasar energi masih menilai risiko gangguan lanjutan tetap tinggi.

Kondisi itu membuat banyak maskapai tidak lagi leluasa mempertahankan jadwal yang sebelumnya sudah disusun. Richard Evans, konsultan senior di Cirium, menilai tekanan ini belum akan cepat mereda dan mengatakan akan ada lebih banyak pengurangan di masa mendatang jika harga tetap tinggi.

Rute yang tipis keuntungan mulai disisir

Di tengah lonjakan ongkos, maskapai mulai memeriksa ulang rute yang hanya memberi margin kecil. Ed Bastian, CEO Delta Air Lines Inc., menyebut setiap penerbangan di batas keuntungan akan ditinjau kembali agar tidak berubah menjadi beban tambahan bagi perusahaan.

Pernyataan itu menggambarkan perubahan prioritas industri dari ekspansi menuju efisiensi. Bastian juga menyebut kondisi saat ini sebagai ujian besar bagi penerbangan global karena hampir semua pemain besar menghadapi tekanan yang sama pada waktu yang bersamaan.

Lufthansa dan Cathay ambil langkah tegas

Lufthansa menjadi salah satu maskapai yang bergerak paling cepat dalam pengetatan operasi. Di Eropa, perusahaan menutup unit CityLine, menarik 27 pesawat dari layanan operasional, serta mengurangi penggunaan jet berbadan lebar yang lebih boros bahan bakar.

Kepala petugas keuangan grup Lufthansa, Till Streichert, menegaskan bahwa percepatan penyesuaian armada dan kapasitas tidak bisa dihindari. Ia mengaitkan langkah itu dengan kenaikan tajam biaya bahan bakar jet dan ketidakstabilan geopolitik yang masih berlangsung.

Cathay Pacific juga mengambil langkah serupa di Asia dengan memangkas 2% frekuensi penerbangan di kawasan Asia-Pasifik. Pada unit berbiaya rendah HK Express, pengurangan bahkan mencapai 6% setelah harga bahan bakar terus menekan struktur ongkos perusahaan.

Sebelumnya, Cathay sudah menerapkan pungutan bahan bakar hingga $400 pada layanan jarak jauh. Namun, kebijakan tersebut belum cukup menutup lonjakan biaya, sehingga pemangkasan jadwal tetap harus dilakukan.

Lavinia Lau, Kepala Bagian Pelanggan dan Komersial Cathay, mengatakan perusahaan sudah berupaya menjaga penerbangan tetap normal. Ia menambahkan bahwa langkah efisiensi yang diambil masih belum memadai untuk meredam kenaikan biaya bahan bakar yang signifikan.

Risiko pasokan masih jadi bayangan

Ancaman bagi industri tidak berhenti pada harga minyak yang tinggi. Badan Energi Internasional menyebut Eropa hanya memiliki persediaan bahan bakar jet untuk sekitar enam minggu ke depan, sementara Uni Eropa menyiapkan rencana aksi bersama jika gangguan pasokan di Selat Hormuz berlanjut.

Kekhawatiran itu ikut memengaruhi keputusan maskapai di wilayah lain. United Airlines di Amerika Serikat telah memangkas 5% kapasitas tahun ini, sedangkan pembatasan serupa juga terjadi pada maskapai di Tiongkok dan Nigeria.

Dudley Shanley, analis di Goodbody, menilai pembatalan dan pengurangan penerbangan masih bisa bertambah jika harga bahan bakar jet tidak segera turun. Ia menyebut industri penerbangan akan menghadapi lebih banyak penyesuaian jadwal apabila harga tetap tinggi dalam jangka panjang.

Berita Terkait