Di Jepang, usia panjang ternyata tidak selalu dipandang sebagai kabar baik. Survei terbaru menunjukkan hanya 22 persen responden yang ingin hidup hingga melewati usia 100 tahun, sementara sekitar 70 hingga 80 persen di berbagai kelompok usia justru tidak menginginkannya.
Alasan paling dominan bukan penolakan terhadap umur panjang itu sendiri, melainkan kekhawatiran menjadi beban bagi orang lain. Sebanyak 59 persen responden menyebut alasan itu, disusul kekhawatiran kondisi fisik menurun sehingga kualitas hidup ikut turun sebesar 48,2 persen.
Kekhawatiran Finansial dan Kondisi Fisik
Survei yang dilakukan Japan Hospice Palliative Care Foundation di Distrik Kita, Kota Osaka, ini berlangsung secara daring pada September 2022. Sekitar 1.000 responden ikut serta, terdiri dari kurang lebih 500 pria dan 500 wanita berusia 20 hingga 70-an tahun dari seluruh Jepang.
Masalah ekonomi juga ikut memengaruhi pandangan mereka. Sebanyak 36,7 persen responden mengaku khawatir tidak mampu menghadapi kondisi finansial jika harus hidup sampai usia yang sangat lanjut.
| Hasil Survei | Persentase | Keterangan |
|---|---|---|
| Ingin hidup hingga 100 tahun | 22 persen | Total responden yang menjawab ingin |
| Tidak ingin hidup hingga 100 tahun | 70-80 persen | Mayoritas di seluruh kelompok usia |
| Perempuan yang tidak ingin mencapai 100 tahun | 83,5 persen | Lebih tinggi daripada pria |
| Pria yang tidak ingin mencapai 100 tahun | 72,4 persen | Lebih rendah daripada perempuan |
Kelompok yang Masih Menginginkan Umur Panjang
Di sisi lain, kelompok yang tetap ingin hidup hingga 100 tahun atau lebih punya motivasi yang berbeda. Sebanyak 68,2 persen menyebut ingin menikmati hidup selama mungkin sebagai alasan utama.
Selain itu, 38,6 persen responden ingin melihat anak dan cucu mereka tumbuh dewasa. Bagi mereka, usia panjang dipandang sebagai kesempatan untuk tetap terhubung dengan keluarga lebih lama.
Pandangan Soal Pasangan dan Fase Akhir Hidup
Survei yang sama juga menanyakan preferensi soal akhir hidup bersama pasangan. Lebih dari 60 persen pria di semua kelompok usia memilih ingin meninggal lebih dulu daripada pasangannya, dan pada pria usia 50 tahun ke atas angkanya mendekati 80 persen.
Perempuan cenderung ingin hidup lebih lama daripada pasangan, terutama pada kelompok usia di atas 50 tahun. Alasan paling umum bagi mereka yang ingin meninggal lebih dulu adalah tidak sanggup menghadapi kesedihan jika kehilangan pasangan, yang dipilih 58,6 persen responden.
Sementara itu, responden yang ingin meninggal setelah pasangannya umumnya khawatir terhadap kehidupan pasangan jika ditinggalkan, sebesar 53,6 persen. Sebanyak 48,1 persen lainnya ingin tetap mendampingi dan merawat pasangan hingga akhir hayat.
Yayasan tersebut juga menemukan 30 persen responden yang tinggal sendiri tidak memiliki pendamping saat harus menjalani rawat inap atau operasi. Temuan itu menyoroti kebutuhan dukungan bagi orang-orang yang menghadapi fase akhir kehidupan di Jepang.
Tekanan Demografi Jepang Makin Berat
Temuan ini muncul di tengah tekanan demografi yang semakin besar di Jepang. Jumlah penduduk lanjut usia terus meningkat, sementara angka kelahiran justru turun dan bertahan di level rendah.
Pada 2025, jumlah kelahiran di Jepang turun menjadi 671.236, atau berkurang 14.937 dibandingkan tahun sebelumnya. Tingkat kesuburan total juga turun 0,01 poin menjadi rekor terendah baru, yakni 1,14.
Tokyo kembali berada di bawah angka 1 untuk tahun kedua berturut-turut dengan 0,96, disusul Miyagi dan Hokkaido yang masing-masing mencatat 1,00. Okinawa menjadi prefektur dengan angka kelahiran tertinggi, yaitu 1,52, sementara sejumlah wilayah lain seperti Miyazaki, Fukui, Nagasaki, Shimane, Kagawa, dan Kumamoto juga masih berada di atas rata-rata nasional.
Jumlah pernikahan memang naik untuk tahun kedua berturut-turut menjadi 489.119, tetapi angka itu masih tergolong rendah. Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida menyebut rendahnya angka kelahiran dan bertambahnya populasi lansia sebagai ancaman besar bagi masyarakat Jepang, seraya menegaskan bahwa kebijakan anak dan pengasuhan harus menjadi prioritas.
