Kylian Mbappe kini menjadi sasaran kemarahan sebagian suporter Real Madrid setelah sebuah petisi daring menuntut dirinya segera dilepas dari skuad. Situs mbappeout.com disebut telah mengumpulkan 44.340.304 tanda tangan per Jumat (8/5) siang WIB, angka yang menunjukkan betapa besar tekanan publik yang sedang mengarah kepadanya.
Gelombang kritik itu tidak muncul dari ruang hampa. Madrid sedang menjalani periode yang goyah dan terancam menutup musim tanpa gelar utama untuk kedua kalinya secara beruntun, sehingga rasa frustrasi suporter mencari pelampiasan yang paling mudah terlihat. Dalam situasi seperti ini, pemain dengan nama sebesar Mbappe otomatis berada di garis depan sorotan.
Tekanan saat tim sedang goyah
Masalah Madrid di musim ini berawal dari hasil yang tidak stabil di kompetisi besar. Klub itu tersingkir di perempatfinal Liga Champions dan babak 16 besar Copa del Rey pada musim 2025/2026.
Di LaLiga, Los Blancos juga disebut kesulitan mengejar Barcelona dalam perebutan gelar. Kondisi tersebut membuat suasana di kalangan Madridista semakin panas dan memperbesar kritik terhadap tim secara keseluruhan.
Mbappe lalu ikut terseret karena statusnya sebagai nama paling besar di skuad. Kedatangannya sempat dipandang sebagai jawaban untuk memperkuat tim, tetapi hasil yang diharapkan belum benar-benar terlihat.
Produktif, tetapi tetap disorot
Secara individu, Mbappe masih menunjukkan angka yang kuat. Sejak bergabung pada musim panas 2024, ia sudah mencetak 85 gol dari 100 penampilan.
Meski begitu, catatan itu belum cukup untuk menghentikan kritik yang terus berkembang. Banyak pihak tidak hanya menilai kontribusinya dari gol, tetapi juga dari dampak kolektifnya terhadap permainan Real Madrid yang dinilai belum lebih stabil.
Itulah yang membuat posisinya serba rumit. Di satu sisi, Mbappe tetap menjadi salah satu pemain paling tajam di skuad, tetapi di sisi lain hasil tim belum ikut naik setinggi ekspektasi yang sempat melekat padanya.
Langkah di luar lapangan ikut memicu reaksi
Kemarahan suporter juga dipengaruhi aktivitas Mbappe saat menjalani pemulihan cedera hamstring. Ia diketahui pergi berlibur ke Italia bersama kekasihnya, Ester Esposito, di tengah situasi klub yang sedang menuntut fokus penuh.
Bagi sebagian pendukung, keputusan itu terasa tidak selaras dengan kondisi Madrid yang sedang berjuang. Pelatih Real Madrid, Alvaro Arbeloa, sempat membela Mbappe dan mengatakan perjalanan tersebut dilakukan dengan izin manajemen.
Namun pembelaan itu belum cukup meredakan kemarahan publik. Nama Mbappe semakin ramai dibicarakan lagi karena ia baru kembali ke Madrid pada Minggu (3/5) malam, hanya beberapa menit sebelum laga tandang kontra Espanyol dimulai.
Ruang ganti yang juga tidak tenang
Tekanan terhadap Mbappe datang bersamaan dengan kabar bahwa ruang ganti Madrid juga sedang panas. Dalam sepekan terakhir, muncul insiden fisik antara Antonio Ruediger dan Alvaro Carreras, lalu perselisihan antara Aurelien Tchouameni dan Federico Valverde.
Insiden terakhir bahkan membuat Valverde harus mendapatkan perawatan di rumah sakit. Rangkaian peristiwa itu memperlihatkan bahwa masalah Madrid tidak hanya terjadi di lapangan, tetapi juga merembet ke suasana internal tim.
Di tengah semua kegaduhan itu, Mbappe diperkirakan tetap akan tampil saat Madrid bertandang ke markas Barcelona pada akhir pekan ini. Hingga kini, Real Madrid dikabarkan belum memiliki rencana menjualnya, sementara sang pemain masih terikat kontrak hingga musim panas 2029.







