Petanque Indonesia mendapat dorongan besar setelah seluruh 10 atlet yang dikirim ke SEA Games Thailand 2025 pulang membawa medali. Hasil itu menjadi sinyal kuat bahwa pembinaan cabang olahraga ini mulai menunjukkan arah yang menjanjikan.
Pencapaian tersebut membuat berbagai pihak semakin serius menyiapkan ruang kompetisi yang lebih berkualitas. Turnamen internasional seperti Bola Baja Cup pun dipandang sebagai salah satu kunci agar atlet Indonesia bisa terus naik kelas.
Prestasi yang memperlihatkan progres nyata
Wakil Rektor IV UNESA sekaligus Ketua Pengprov FOPI Jawa Timur, Dwi Cahyo Kartiko, menyebut Indonesia meraih satu emas, dua perak, dan tiga perunggu di SEA Games Thailand 2025. Dengan komposisi raihan itu, petanque Indonesia dinilai memiliki modal penting untuk bersaing di level Asia.
Hasil tersebut juga memperkuat keyakinan bahwa pembinaan yang berkelanjutan tidak sia-sia. Ketika seluruh atlet yang berangkat bisa kembali dengan medali, kualitas persiapan dan pengalaman bertanding tampak mulai memberi dampak nyata.
Turnamen internasional dipakai sebagai alat pembinaan
KONI Pusat menempatkan ajang internasional sebagai bagian penting dalam pembinaan atlet, bukan sekadar pertandingan biasa. Ketua Umum KONI Pusat Marciano Norman menilai, semakin baik kualitas kompetisi yang diikuti, semakin besar peluang lahirnya atlet petanque kelas dunia.
Marciano melihat International Invitational Petanque Tournament “Bola Baja Cup” sebagai contoh kompetisi yang mampu menguji kemampuan atlet dalam suasana yang lebih menantang. Ajang ini digelar di Laboratorium Petanque Cak Hasan, Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan UNESA.
Turnamen tersebut diselenggarakan dalam rangka Bastille Day dan Dies Natalis ke-62 UNESA. Kehadiran Direktur Institut Français d’Indonésie, Vincent Padare, juga menegaskan bahwa kegiatan ini memiliki nilai kerja sama Indonesia dan Prancis yang kuat.
Kolaborasi kampus, federasi, dan KONI
Marciano menilai sinergi antara PB FOPI, Pengprov FOPI Jawa Timur, UNESA, KONI, dan Prancis dapat memberi dampak yang lebih luas bagi perkembangan petanque nasional. Ia optimistis kerja sama itu bisa membuat olahraga ini semakin dicintai masyarakat Indonesia.
Di sisi lain, partisipasi dalam turnamen juga dinilai menunjukkan ekosistem petanque yang mulai berkembang lebih solid. Ajang tersebut diikuti 10 provinsi serta tim dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur.
Dalam laporan penyelenggaraan yang disampaikan Nurhasan melalui Dwi Cahyo Kartiko, partisipasi luas itu menjadi salah satu tanda bahwa pembinaan tidak lagi berjalan sendiri-sendiri. Semakin banyak daerah terlibat, semakin besar pula peluang lahirnya atlet yang siap bersaing di panggung yang lebih tinggi.
Target medali dan panggung dunia
Dukungan terhadap petanque kini tidak berhenti pada capaian medali di ajang regional. Dengan turnamen berkualitas dan dukungan lembaga yang konsisten, Indonesia berharap bisa menambah prestasi di level internasional yang lebih tinggi.
Marciano menegaskan bahwa kompetisi semacam Bola Baja Cup bukan hanya mengasah teknik, tetapi juga mental bertanding atlet. Dari sana, petanque Indonesia diharapkan terus berkembang dan melahirkan atlet yang mampu menembus persaingan dunia.
Source: www.viva.co.id






