Mediasi AS-Iran Menahan Lonjakan Harga Minyak, Ancaman Houthi Belum Reda

Harga minyak dunia melemah terbatas setelah muncul sinyal mediasi antara Amerika Serikat dan Iran. Perundingan tersebut memberi harapan deeskalasi, tetapi ancaman terhadap jalur laut membuat pasar belum lepas dari kewaspadaan.

Minyak mentah Brent turun 35 sen atau 0,4 persen menjadi US$88,87 per barel pada perdagangan Selasa (21/7). Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate atau WTI AS bergerak stabil pada US$82,47 per barel.

Jenis MinyakHargaPergerakan
BrentUS$88,87 per barelTurun 35 sen atau 0,4 persen
WTI ASUS$82,47 per barelStabil

Pergerakan terbatas itu menunjukkan pasar sedang menimbang dua sentimen yang berlawanan. Diplomasi berpotensi meredakan konflik, sedangkan gangguan perdagangan laut dapat kembali menekan pasokan energi.

Pasar Menunggu Hasil Diplomasi

Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Teheran telah menerima proposal mediator mengenai gencatan senjata selama 10 hari. Usulan itu ditujukan untuk menyelamatkan kesepakatan sementara yang ditandatangani pada 17 Juni.

Kesepakatan sementara tersebut diarahkan sebagai jalur menuju perjanjian permanen untuk mengakhiri perang yang dimulai pada 28 Februari. Konflik itu disebut bermula setelah serangan provokasi Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Dorongan perundingan muncul setelah sejumlah kota di Iran dihujani serangan Amerika Serikat sepanjang malam. Garda Revolusi Iran kemudian membalas dengan menyerang aset militer Amerika Serikat di berbagai wilayah Timur Tengah.

Analis pasar IG Tony Sycamore menilai harga minyak masih berpeluang bergerak naik. Namun, pasar kini membutuhkan kepastian bahwa mediasi AS-Iran benar-benar dapat menghasilkan kesepakatan.

“Apakah pembicaraan damai itu akan membuahkan hasil masih harus dilihat,” ujar Sycamore dalam catatan risetnya. Pernyataan itu mencerminkan kehati-hatian investor yang belum mengesampingkan kemungkinan eskalasi baru.

Ancaman Jalur Laut

Risiko pasokan tetap mengemuka setelah kelompok Houthi Yaman pada 20/7 menyatakan akan memberlakukan blokade laut terhadap Arab Saudi. Langkah tersebut berpotensi membuka front baru dalam konflik Amerika Serikat dan Iran di luar kawasan Teluk.

Kepala Analis Pasar KCM Trade Tim Waterer menilai ancaman itu sangat penting bagi pasar global. Arab Saudi merupakan salah satu eksportir minyak utama dunia sehingga gangguan terhadap lalu lintas laut dapat berdampak luas.

“Ancaman blokade laut terhadap Arab Saudi oleh Houthi sangat signifikan karena meningkatkan risiko gangguan terhadap salah satu eksportir minyak utama dunia,” kata Waterer kepada Reuters. Ancaman itu juga dapat memperbesar tekanan pada pasokan energi dan perdagangan global.

Selain perkembangan geopolitik, survei awal Reuters pada Senin memperkirakan persediaan minyak mentah Amerika Serikat turun pada pekan lalu. Stok bensin diproyeksikan menurun, sedangkan persediaan produk sulingan atau distillate diperkirakan meningkat.

Penurunan stok minyak mentah dapat menopang harga di tengah risiko gangguan jalur laut. Meski demikian, arah harga minyak berikutnya masih bergantung pada perkembangan diplomasi dan ancaman blokade di kawasan.

Source: www.cnnindonesia.com
Berita Terkait