Mei 2026 akan dipenuhi deretan horor Indonesia yang datang dengan pendekatan berbeda-beda. Dari misteri tumbal, teror psikologis, horor komedi, hingga kisah kutukan yang dipicu amarah dan konflik keluarga, lima film ini membawa suasana mencekam dengan lapisan drama yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Menariknya, ancaman di film-film tersebut tidak hanya muncul lewat sosok menyeramkan atau kejutan visual. Banyak ceritanya justru berangkat dari dunia yang akrab bagi penonton, seperti media sosial, dunia medis, persahabatan lama, sampai persoalan desa dan proyek pembangunan.
Teror dari ambisi dan dunia medis
“Ain” menjadi salah satu judul yang membuka deretan film horor itu pada 7 Mei 2026. Film garapan Archie Hekagery yang juga menulis naskah ini dibintangi Britanny Fergie, Putri Ayudya, dan Bara Valentino.
Cerita berpusat pada Joy, seorang beauty influencer yang terobsesi pada popularitas lewat siaran langsung. Dorongan itu berasal dari pengalaman masa lalunya saat ia merasa diabaikan karena kondisi fisiknya.
Ambisi Joy membuatnya mengabaikan peringatan sahabatnya tentang bahaya penyakit ‘ain. Dari situ, hidupnya perlahan berubah menjadi teror yang menekan fisik dan mental.
Sesudah itu, perhatian beralih ke “Gudang Merica” yang dijadwalkan tayang pada 21 Mei 2026. Film ini disutradarai Imam Darto dengan Raam Punjabi sebagai produser, dan menempatkan Ardhito Pramono, Fatih Unru, Zulfa Maharani, Arla Ailani, Benidictus Siregar, serta Rizky Inggar dalam daftar pemain.
Berbeda dari horor pada umumnya, kisahnya mengambil latar rumah sakit sepi tempat para mahasiswa kedokteran menjalani masa koas. Suasana yang awalnya biasa berubah setelah seorang pasien tanpa identitas meninggal secara misterius.
Sejak itu, teror muncul satu per satu, termasuk hilangnya jenazah dari pengawasan. Para mahasiswa pun dipaksa menghadapi ketakutan sambil tetap berpegang pada logika medis yang mereka pelajari.
Misteri tumbal dan perjalanan yang berubah gelap
Pada 13 Mei 2026, “Tumbal Proyek” hadir membawa cerita yang lebih dekat ke misteri pembangunan besar. Film produksi Dee Company ini disutradarai sekaligus ditulis Jeropoint, dengan Callista Arum, Kiesha Alvaro, Karina Suwandi, Eduwart Manalu, dan Fuad Idris sebagai pemain.
Kisahnya menyoroti pembangunan sebuah jembatan besar yang menyimpan rahasia gelap. Tokoh utama, Yuda, berusaha mencari jawaban atas kematian ayahnya yang terjadi di area proyek tersebut.
Pencarian itu membawanya menyusup bersama keluarga untuk mencari bukti dugaan praktik tumbal manusia. Namun, langkah itu justru memunculkan kejadian aneh dan menegangkan yang memperlihatkan ada rahasia jauh lebih gelap di balik proyek itu.
Nuansa petualangan yang semula terasa seperti upaya penyelidikan perlahan berubah menjadi tekanan yang makin berat. Dari sana, film ini menempatkan rasa curiga dan ketakutan sebagai bagian utama dari konflik.
Persahabatan, desa, dan kutukan yang membesar
Lalu ada “Sekawan Limo 2: Gunung Klawih” yang dijadwalkan tayang pada 27 Mei 2026. Bayu Skak kembali duduk di kursi sutradara sekaligus tampil sebagai pemain, dengan dukungan Nadya Arina, Benidictus Siregar, Indra Pramujito, Firza Valaza, Jihane Almira, Elsa Japasal, dan Joshua Suherman.
Film ini melanjutkan kisah lima sahabat yang kembali terseret dalam kejadian mistis. Reuni yang awalnya hangat berubah menjadi ancaman ketika mereka berhadapan dengan pesugihan yang menyasar keluarga salah satu tokohnya.
Perjalanan ke Gunung Klawih yang seharusnya menjadi momen kebersamaan justru berubah menjadi petualangan penuh teror. Keadaan semakin genting saat salah satu dari mereka menghilang dan diduga masuk ke dunia gaib.
Di hari yang sama, “Badut Gendong” juga ikut meramaikan layar dengan pendekatan horor yang dipenuhi duka dan amarah. Film produksi Magma Entertainment ini disutradarai Charles Gozali, dengan Linda Gozali sebagai produser, dan dibintangi Marthino Lio, Clara Bernadeth, Derby Romero, Vonny Anggraini, Barry Prima, serta Jose Rizal Manua.
Cerita mengikuti Darso, pengamen jalanan yang mencari nafkah dengan kostum badut gendong. Hidupnya runtuh ketika istrinya, Darsi, yang sedang hamil, menjadi korban kekerasan brutal hingga tewas bersama bayi yang dikandungnya.
Dalam kesedihan mendalam, Darso membawa jasad istrinya dalam boneka yang ia gunakan. Saat pulang ke kampung halaman, ia justru terseret ke konflik desa yang melibatkan pihak pengembang.
Dari titik itu, situasi berubah kacau dan memicu ritual kutukan yang menghadirkan kekuatan gelap. Unsur dendam dan amarah menjadi bagian penting dari teror yang terus membesar dalam cerita tersebut.
Empat judul itu memperlihatkan bagaimana horor Indonesia terus bergerak ke arah yang lebih beragam. Mei 2026 pun menjadi bulan yang padat bagi penonton yang mencari cerita menyeramkan dengan lapisan konflik emosional, komedi gelap, dan tekanan psikologis yang kuat.
Source: www.medcom.id






