Menguap Ternyata Bisa Menular, Kedekatan Sosial dan Otak Ikut Berperan

Author: Redaksi Android62

Menguap yang berpindah dari satu orang ke orang lain ternyata bukan sekadar kebiasaan aneh yang muncul tanpa alasan. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa respons ini berkaitan dengan kerja otak, perhatian sosial, dan tingkat kedekatan antarsesama.

Fenomena tersebut dikenal sebagai menguap menular. Dalam kajian sains, perilaku ini dipandang lebih rumit daripada refleks tubuh biasa karena dapat muncul saat seseorang melihat, mendengar, atau bahkan memikirkan orang lain yang menguap.

Bukan hanya soal kantuk

Menguap umumnya dibagi menjadi dua jenis, yakni menguap spontan dan menguap menular. Menguap spontan muncul tanpa pemicu sosial, misalnya saat tubuh lelah, mengantuk, atau bergeser tingkat kewaspadaannya.

Sementara itu, menguap menular terjadi setelah seseorang terpapar orang lain yang menguap. Tinjauan penelitian dalam jurnal Frontiers in Neuroscience menyebut belum ada konsensus ilmiah mengenai fungsi utama menguap karena pemicunya beragam.

Otak ikut meniru gerakan yang dilihat

Salah satu penjelasan yang paling sering dibahas adalah teori neuron cermin atau mirror neurons. Sel saraf ini aktif bukan hanya saat seseorang melakukan tindakan, tetapi juga ketika ia melihat orang lain melakukan tindakan yang sama.

Saat seseorang melihat orang lain menguap, neuron cermin di otaknya ikut terpicu. Respons itu bisa mendorong tindakan meniru secara otomatis, sehingga orang tersebut ikut menguap meski sebelumnya tidak merasa mengantuk.

Mekanisme ini diduga membuat menguap menyebar cepat dalam kelompok. Fenomena serupa juga ditemukan pada beberapa hewan sosial, termasuk anjing, simpanse, bonobo, dan primata lain dalam penelitian yang terbit di jurnal seperti Current Biology, Animal Behaviour, dan Plos One.

Kedekatan sosial membuat respons lebih kuat

Menguap menular tidak muncul secara acak pada semua orang. Sejumlah studi menunjukkan hubungan sosial yang dekat membuat respons ini lebih mudah muncul dibandingkan ketika seseorang melihat orang asing menguap.

Penelitian di Plos One pada 2013 menemukan anjing lebih sering menguap setelah melihat pemiliknya menguap daripada saat melihat orang yang tidak dikenal. Para peneliti juga mencatat bahwa frekuensi respons itu berkaitan dengan kedekatan emosional antara anjing dan manusia yang diamatinya.

Fenomena ini dikenal sebagai familiarity bias, yaitu kecenderungan memberi perhatian lebih besar kepada individu yang sudah akrab. Pada manusia, pasangan, keluarga, atau teman dekat cenderung lebih mudah memicu respons serupa karena perhatian sosial terhadap mereka lebih tinggi.

Ada kaitan dengan perhatian dan empati

Sejumlah penelitian juga menghubungkan menguap menular dengan empati. Beberapa studi menyebut orang dengan empati lebih tinggi cenderung lebih mudah tertular, meski hubungan ini tidak selalu konsisten di semua penelitian.

Faktor perhatian tampaknya ikut berperan. Pada penelitian terhadap anak dengan autisme, perbedaan respons terhadap menguap menular dapat berkurang ketika mereka diminta lebih fokus pada orang yang menguap.

Temuan itu menunjukkan bahwa kemampuan memperhatikan stimulus sosial ikut menentukan apakah respons menguap akan muncul atau tidak. Dengan kata lain, otak tidak hanya meniru, tetapi juga memilih sinyal mana yang dianggap penting.

Berhubungan dengan kesiagaan kelompok

Beberapa ilmuwan menilai menguap menular juga punya fungsi yang berkaitan dengan kesiagaan. Salah satu teori menyebut menguap membantu mendinginkan otak, sehingga kemampuan berpikir dan konsentrasi tetap optimal.

Jika benar demikian, penyebaran menguap di dalam kelompok bisa memberi manfaat kolektif. Saat satu individu menguap dan yang lain ikut menguap, tingkat kewaspadaan kelompok bisa meningkat secara bersamaan.

Sejumlah penelitian bahkan menunjukkan bahwa sekadar melihat orang lain menguap dapat meningkatkan kemampuan mendeteksi ancaman. Dalam konteks evolusi, kondisi itu bisa menjadi keuntungan besar bagi nenek moyang manusia yang hidup di lingkungan penuh risiko.

Membantu menyamakan ritme dalam kelompok

Teori lain menyebut menguap menular membantu menyelaraskan ritme aktivitas dalam kelompok. Menguap sering muncul saat tubuh memasuki fase transisi, misalnya ketika akan beristirahat, bangun tidur, atau berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain.

Saat satu orang menguap lalu orang lain ikut menguap, respons itu dapat membantu menyamakan kondisi fisik dan perhatian antaranggota kelompok. Bagi hewan yang hidup berkelompok, keselarasan seperti ini penting untuk bergerak, berburu, beristirahat, atau menghindari ancaman bersama.

Dukungan terhadap gagasan ini juga muncul dari studi pada singa Afrika liar. Dalam penelitian tersebut, singa yang tertular menguap dari anggota kelompok lain cenderung lebih sering meniru gerakan dan aktivitas yang dilakukan singa pertama.

Tidak semua orang mudah tertular

Meski umum terjadi, tidak semua orang memiliki kerentanan yang sama terhadap menguap menular. Berbagai penelitian menyebut sekitar 40% hingga 60% orang dewasa akan menguap setelah melihat orang lain menguap.

Beberapa studi juga menemukan bahwa orang dengan empati lebih tinggi cenderung lebih mudah tertular. Sebaliknya, ada hubungan negatif antara menguap menular dan sifat psikopatik, meski hubungan ini tidak selalu muncul konsisten di semua penelitian.

Dalam kajian psikologi, menguap menular sering dipandang sebagai bentuk keterhubungan sosial yang terjadi tanpa disadari. Proses ini membantu seseorang merasa lebih selaras dengan orang-orang di sekitarnya dan dapat memperkuat kohesi kelompok.

Dari sudut pandang itu, menguap bukan hanya sinyal tubuh yang berkaitan dengan kantuk. Perilaku sederhana ini juga menjadi bagian dari cara otak manusia menjaga hubungan sosial dan merespons lingkungan sekitarnya secara otomatis.

Source: www.beritasatu.com
Berita Terbaru