Pasien diabetes tipe 2 dapat menghadapi risiko kardiovaskular yang tinggi meski kadar gula darahnya sudah diperhatikan. Dalam forum ilmiah Perhimpunan Endokrinologi Indonesia di Bandung, PT Daewoong Pharmaceutical Indonesia menekankan bahwa pengelolaan kolesterol jahat atau LDL-C perlu masuk ke dalam perhatian utama terapi.
Penekanan itu muncul karena pengendalian gula darah saja tidak cukup untuk menekan komplikasi. Dislipidemia kerap menyertai diabetes tipe 2 dan ikut mendorong risiko penyakit jantung serta pembuluh darah.
Risiko LDL tidak selalu terlihat dari angka yang sama
Daewoong juga menyoroti bahwa dua pasien dengan kadar LDL-C serupa belum tentu memiliki risiko yang sama. Resistensi insulin dapat mengubah karakteristik partikel LDL dan meningkatkan jumlah small dense LDL yang lebih kecil, lebih padat, serta lebih mudah menembus dinding pembuluh darah.
Dengan kondisi itu, pengelolaan lipid pada pasien diabetes tipe 2 dinilai perlu lebih presisi. Pendekatan terapi tidak cukup berhenti pada satu parameter, karena risiko kardiovaskular residual masih dapat tersisa meski angka LDL-C tampak terkendali.
Target LDL-C masih sulit dicapai
Beban penyakit jantung di Indonesia masih besar. World Heart Federation mencatat penyakit kardiovaskular menyebabkan 765.660 kematian di Indonesia pada 2021.
Sejumlah riset juga menunjukkan target LDL-C pada pasien berisiko tinggi belum banyak tercapai. Studi registry multisenter yang dipublikasikan dalam Indonesian Journal of Cardiology pada 2025 mencatat hanya 4,9% pasien mencapai target LDL-C di bawah 55 mg/dL, sementara 21,2% mencapai target di bawah 70 mg/dL.
Temuan lain memperkuat kondisi tersebut. Studi yang dipublikasikan dalam Current Internal Medicine Research and Practice Surabaya Journal pada 2025 menemukan dislipidemia pada 74% dari 100 pasien diabetes tipe 2.
| Temuan | Angka | Sumber |
|---|---|---|
| Kematian akibat penyakit kardiovaskular di Indonesia | 765.660 | World Heart Federation |
| Pasien yang mencapai target LDL-C di bawah 55 mg/dL | 4,9% | Studi registry multisenter, Indonesian Journal of Cardiology |
| Pasien yang mencapai target LDL-C di bawah 70 mg/dL | 21,2% | Studi registry multisenter, Indonesian Journal of Cardiology |
| Pasien diabetes tipe 2 dengan dislipidemia | 74 dari 100 pasien | Current Internal Medicine Research and Practice Surabaya Journal |
Terapi kombinasi mulai diprioritaskan
Dalam simposium itu, terapi kombinasi ezetimibe/rosuvastatin diperkenalkan sebagai salah satu pilihan untuk pasien yang belum mencapai target terapi dengan monoterapi. Kombinasi ini bekerja dengan menargetkan sintesis kolesterol di hati sekaligus absorpsi kolesterol di usus.
Strategi tersebut dipandang relevan bagi kelompok pasien berisiko tinggi yang memerlukan penurunan LDL-C lebih baik. Daewoong menyebut pendekatan itu sebagai upaya menjawab kebutuhan terapi yang lebih sesuai dengan profil pasien diabetes tipe 2.
Panduan terbaru mengarah ke penilaian yang lebih luas
Panduan internasional juga mulai mendorong penilaian risiko yang lebih presisi. ACC/AHA 2026 merekomendasikan pengukuran kolesterol non-HDL dan apolipoprotein B atau ApoB sebagai penanda tambahan pada pasien diabetes tipe 2 atau cardiovascular-kidney-metabolic syndrome.
Rekomendasi tersebut membantu dokter menilai risiko kardiovaskular residual secara lebih lengkap. Dengan begitu, terapi dapat disesuaikan lebih cepat dan lebih tepat pada pasien yang memang memerlukan pengendalian lipid intensif.
Senior endocrinologist dari Universitas Indonesia, Sidartawan Soegondo, menilai pasien diabetes tipe 2 di Indonesia sering memiliki banyak faktor risiko kardiovaskular. Ia mengatakan penurunan LDL-C menjadi salah satu prioritas penting dalam praktik klinis.
Sidartawan juga menekankan perlunya optimalisasi terapi sesuai profil risiko masing-masing pasien. Menurutnya, ESC/EAS 2025 Focused Update dan ACC/AHA Guideline 2026 sama-sama mendukung penurunan LDL-C yang intensif, pemberian terapi berbasis bukti lebih dini, dan pencapaian target LDL-C secara cepat.
“Semakin rendah kadar LDL-C dicapai sejak dini dan dipertahankan lebih lama, semakin besar pula potensi penurunan risiko kardiovaskular sepanjang hidup pasien,” ujarnya.
Di sisi lain, PT Daewoong Pharmaceutical Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus hadir sebagai mitra layanan kesehatan. Brand and Marketing Head Daewoong Pharmaceutical Indonesia, Wicak Prasetiadi, mengatakan perusahaan telah membangun kepercayaan dengan komunitas medis Indonesia selama 20 tahun.
