Menstruasi Pada Remaja Sering Disalahpahami, Padahal Ini Bagian Penting Pubertas

Author: Redaksi Android62

Menstruasi pada remaja kerap dianggap hanya sebagai tanda “datang bulan” yang harus dijalani setiap bulan. Padahal, haid pertama merupakan bagian penting dari pubertas yang menunjukkan tubuh sedang memasuki tahap perkembangan reproduksi secara bertahap.

Di saat yang sama, banyak remaja putri belum mendapatkan penjelasan yang memadai saat mengalaminya untuk pertama kali. Akibatnya, rasa bingung dan cemas mudah muncul, bahkan aktivitas belajar bisa ikut terganggu ketika lingkungan tidak memberi dukungan yang cukup.

Menstruasi pertama bukan peristiwa yang berdiri sendiri

Dokter spesialis obstetri dan ginekologi, dr. Dinda Derdameysia, Sp.OG., menjelaskan bahwa menstruasi adalah bagian akhir dari rangkaian pubertas. Sebelum haid pertama datang, tubuh biasanya sudah lebih dulu menunjukkan tanda perkembangan lain, seperti pertumbuhan payudara dan munculnya rambut di area tertentu.

Penjelasan ini penting karena perkembangan setiap remaja tidak selalu berjalan sama. Jika seorang remaja belum menstruasi sementara teman sebaya sudah mengalaminya, kondisi itu tidak otomatis berarti ada gangguan kesehatan.

Usia pubertas memang bisa berbeda-beda

Kecemasan sering muncul ketika remaja membandingkan dirinya dengan orang lain. Menurut dr. Dinda, hal seperti itu wajar, tetapi tidak selalu harus dipahami sebagai masalah medis.

Ia menyebut menstruasi pertama atau menarche umumnya terjadi pada usia 10–11 tahun. Namun, rentang waktunya tetap bisa berbeda selama tanda pubertas lain muncul sesuai tahapan yang normal.

Kapan orang tua perlu mulai waspada

Ada batas yang perlu diperhatikan agar pemeriksaan tidak terlambat. Jika sampai usia 14 tahun belum ada tanda pubertas sama sekali, seperti pertumbuhan payudara atau rambut di area tertentu, pemeriksaan medis sebaiknya dilakukan.

Sebaliknya, jika tanda pubertas sudah terlihat, tubuh masih dapat diberi waktu hingga usia 16 tahun untuk mengalami menstruasi pertama. Dengan begitu, perhatian tidak hanya tertuju pada haid semata, tetapi juga pada keseluruhan proses perkembangan pubertas.

Mitos yang masih sering membuat remaja cemas

Salah satu anggapan yang masih sering beredar adalah keyakinan bahwa menstruasi pertama yang datang lebih cepat akan membuat menopause lebih awal. dr. Dinda meluruskan anggapan tersebut dan menegaskan bahwa faktor yang lebih berperan adalah kualitas sel telur dan faktor genetik.

Informasi yang keliru seperti ini bisa memperbesar kecemasan remaja dan orang tua. Alih-alih memahami proses tubuh secara utuh, mereka justru bisa mengaitkan satu fase dengan fase lain tanpa dasar yang jelas.

Sekolah belum selalu ramah bagi siswi yang sedang haid

Persoalan menstruasi di kalangan remaja tidak berhenti pada pengetahuan tubuh. Kondisi fasilitas di sekolah juga sangat menentukan apakah siswi bisa menjalani hari belajar dengan nyaman atau justru kesulitan menjaga kebersihan diri.

Data Kementerian Pendidikan menunjukkan rasio toilet untuk siswi perempuan masih jauh dari ideal, yakni 1:74. Situasi seperti ini membuat banyak remaja sulit mengganti pembalut dan merawat kebersihan saat berada di sekolah.

Muhammad Zainal, Water Sanitation and Hygiene Specialist UNICEF Indonesia, menegaskan bahwa fasilitas dan edukasi harus berjalan bersama. Ia mengatakan, “Tanpa lingkungan yang mendukung, remaja putri akan kesulitan menjalani aktivitas belajar secara optimal saat menstruasi.”

Edukasi perlu menyentuh rumah dan sekolah

Kebutuhan akan pemahaman yang lebih baik mendorong hadirnya program edukasi Manajemen Kebersihan Menstruasi di sekolah. Program yang dijalankan WINGS for UNICEF bersama Hers Protex dan UNICEF ini menyasar 20 SMP di Kabupaten Bandung Barat dan Makassar.

Targetnya mencakup 2.000 siswi dan 2.000 orang tua, dengan fokus pada edukasi yang tidak hanya membahas biologi tubuh. Remaja juga perlu mengetahui cara menjaga kebersihan saat haid, memilih produk yang tepat, serta memahami dukungan yang bisa didapat dari keluarga dan sekolah.

Stella Eidelina dari WINGS Group mengatakan, “Dengan pemahaman yang baik, remaja putri bisa lebih percaya diri dan tetap aktif saat menstruasi.” Karena itu, orang tua perlu membuka ruang bicara yang aman, sementara sekolah perlu menyediakan fasilitas yang layak agar siswi tidak merasa tertekan saat menjalani menstruasi.

Source: www.suara.com
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru