Meryl Streep kembali menjadi sorotan bukan karena proyek baru, melainkan karena penolakannya untuk menulis memoar. Aktris peraih Oscar itu menyatakan dengan tegas bahwa dirinya tidak berminat menuangkan perjalanan hidupnya ke dalam buku otobiografi.
Dalam obrolan bersama Anne Hathaway, Emily Blunt, Stanley Tucci, dan Andy Cohen, Streep menjawab singkat ketika ditanya soal kemungkinan menerbitkan memoar. “Tidak, tidak,” ucapnya, lalu menambahkan bahwa hidupnya terasa terlalu membosankan untuk dijadikan buku.
Penolakan yang datang tanpa ragu
Momen itu muncul dalam acara SiriusXM Front Row yang dipandu Andy Cohen. Saat topik memoar disinggung, Streep tidak terlihat sedang menimbang-nimbang, melainkan langsung menutup kemungkinan tersebut.
Sikap itu membuat percakapan berlangsung ringan. Jawaban Streep bahkan memancing tawa dari para lawan bicaranya, termasuk Stanley Tucci yang ikut hadir dalam sesi tersebut.
Respons singkat itu juga memperlihatkan cara Streep menjaga batas antara kehidupan pribadi dan sorotan publik. Meski sudah lama menjadi salah satu nama terbesar di Hollywood, ia tampak tidak tertarik mengubah kisah pribadinya menjadi bacaan resmi.
Tetap menghargai kisah orang lain
Menariknya, penolakan itu bukan berarti Streep menjauh dari memoar sepenuhnya. Ia justru mengaku menikmati buku Barbra Streisand, My Name Is Barbra, yang menurutnya luar biasa.
Streep bahkan memilih versi buku audio untuk menikmati karya tersebut. Pilihan itu menunjukkan bahwa ia tetap senang mendengar atau membaca pengalaman hidup orang lain, selama tidak harus menempatkan dirinya sendiri sebagai subjek utama.
Perbedaan itu tampak jelas dalam sikapnya. Streep terbuka sebagai penikmat cerita, tetapi belum tertarik menjadi penulis kisah hidupnya sendiri.
Nama besar yang sudah lama dibahas orang lain
Walau enggan menulis memoar, perjalanan hidup Streep memang bukan hal yang asing bagi para penulis biografi. Buku Her Again: Becoming Meryl Streep karya Michael Schulman menjadi salah satu contoh karya yang menyorot perjalanan karier dan kehidupannya.
Namun, buku semacam itu berada di tangan penulis dari luar, bukan dari sudut pandang Streep sendiri. Karena itu, kisahnya sudah lebih dulu dibingkai dan ditafsirkan oleh pihak lain, bukan hadir sebagai pengakuan langsung dari sang aktris.
Itulah yang tampaknya menjadi garis pembeda bagi Streep. Ia tidak menolak agar hidupnya dibicarakan, tetapi juga tidak menunjukkan minat untuk mengambil peran sebagai narator utama atas seluruh perjalanan pribadinya.
Perhatian masih tertuju pada layar lebar
Di tengah obrolan soal memoar, Streep justru tetap berada di jalur yang paling lekat dengan namanya, yakni dunia film. Ia bersiap kembali memerankan Miranda Priestly dalam sekuel The Devil Wears Prada, film yang pertama kali dirilis pada 2006.
Film baru itu juga menghadirkan kembali sejumlah nama penting dari proyek terdahulu. David Frankel kembali duduk di kursi sutradara, sementara Aline Brosh McKenna kembali menulis naskah.
Selain itu, beberapa wajah baru ikut bergabung, di antaranya Kenneth Branagh, Lucy Liu, Justin Theroux, dan B.J. Novak. Kehadiran mereka menegaskan bahwa proyek tersebut tetap mendapat perhatian besar, sekaligus menjaga posisi Streep sebagai figur sentral di layar.
Dalam percakapan yang sama, Streep juga sempat menyinggung inspirasi karakter Miranda Priestly yang terhubung dengan Anna Wintour, serta rencana kembali ke panggung Broadway setelah terakhir tampil pada 1977. Namun soal memoar, sikapnya tetap sama: kehidupan pribadinya tidak ia anggap perlu dijadikan buku, meski justru hal itu membuat banyak orang semakin penasaran.
Source: mediaindonesia.com






