Met Gala 2026 Diwarnai Seruan Boikot, Jeff Bezos Picu Pecahnya Dunia Mode

Author: Redaksi Android62

Pengamanan Met Gala 2026 meningkat tajam setelah gelombang penolakan terhadap Jeff Bezos makin meluas di New York. Di balik kemewahan acara yang selama ini menjadi sorotan dunia mode, ajang ini kini ikut terseret ke perdebatan soal uang, kekuasaan, dan etika.

Salah satu pemicunya adalah posisi Bezos sebagai sponsor utama sekaligus honorary co-chair bersama Lauren Sánchez. Kontribusi keduanya dilaporkan mencapai sekitar US$ 10 juta atau setara Rp 173,8 miliar, sehingga nama pendiri Amazon itu langsung menjadi pusat perhatian.

Keterlibatan Bezos memunculkan reaksi keras karena banyak pihak melihatnya sebagai tanda semakin besarnya pengaruh modal dalam ruang budaya. Met Gala yang identik dengan seni dan fashion pun dinilai mulai bergeser menjadi panggung yang sangat bergantung pada kekuatan finansial.

Penolakan terhadap Bezos juga berkaitan dengan kritik lama yang melekat pada Amazon. Isu yang kembali diangkat mencakup tuduhan kondisi kerja yang buruk, praktik pajak yang dianggap agresif, dan keterlibatan teknologi dalam kebijakan imigrasi.

Di New York, kritik tersebut berubah menjadi gerakan yang terlihat jelas di ruang publik. Poster-poster protes muncul di trotoar hingga gerbong kereta bawah tanah, dengan pesan yang menolak kehadiran sponsor utama acara itu.

Salah satu tulisan yang banyak disorot berbunyi, “Met Gala Bezos: Dipersembahkan oleh eksploitasi pekerja.” Pesan itu menunjukkan bahwa penolakan tidak hanya tertuju pada satu nama, tetapi juga pada sistem yang dianggap memberi ruang terlalu besar bagi kekuatan ekonomi di panggung budaya.

Protes terhadap Met Gala 2026 bahkan tidak berhenti pada seruan di jalanan. Amazon Labor Union bersama kelompok aktivis menggelar acara tandingan bertajuk “Ball Without Billionaires” sebagai bentuk kritik terhadap dominasi orang superkaya dalam acara bergengsi tersebut.

Acara alternatif itu menonjolkan isu keadilan sosial dan fashion etis. Kehadirannya membuat Met Gala 2026 semakin dipandang sebagai simbol perebutan makna tentang siapa yang layak memimpin narasi budaya.

Gelombang penolakan juga menjalar ke kalangan fashion sendiri. Sejumlah tokoh disebut memilih absen sebagai bentuk protes simbolis, termasuk Lauren Santo Domingo, Nicolas Ghesquière, dan Jonathan Anderson.

Meryl Streep juga dikabarkan menolak peran sebagai pembawa acara, meski sebelumnya tampil di sampul Vogue edisi Mei 2026. Absennya nama-nama besar ini memperlihatkan bahwa perpecahan tidak hanya datang dari luar acara, tetapi juga dari lingkaran yang dekat dengan dunia mode.

Sorotan lain datang dari biaya kehadiran di Met Gala yang mencapai sekitar US$ 100.000 atau setara Rp 1,7 miliar per kursi. Harga itu semakin menguatkan penilaian bahwa acara ini bergerak menjauh dari fungsi artistik dan makin lekat dengan sisi komersial.

Dalam situasi seperti ini, Bezos dipandang sebagai simbol perubahan arah yang membuat akses dan pengaruh semakin ditentukan oleh modal. Bagi para pengkritik, Met Gala 2026 kini bukan hanya soal busana mewah, tetapi juga tentang siapa yang mengendalikan panggung paling bergengsi di dunia fashion.

Meski kontroversinya membesar, acara ini tetap diperkirakan menarik perhatian besar dunia. Kehadiran nama-nama seperti Beyoncé dan Nicole Kidman masih menjaga daya tarik Met Gala 2026 di tengah gelombang boikot yang belum mereda.

Source: www.beritasatu.com
Berita Terbaru