Dorongan terbesar kinerja Metrodata datang dari bisnis distribusi teknologi informasi dan komunikasi yang kembali melesat di awal tahun. Segmen ini tumbuh 23,8 persen secara tahunan dan menjadi penopang utama pendapatan perseroan pada kuartal I-2026.
Di saat pendapatan bergerak cepat, laba Metrodata justru naik jauh lebih pelan. Perusahaan membukukan laba bersih Rp158,9 miliar, hanya naik 3,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, meski laba sebelum pajak masih tumbuh 10,3 persen menjadi Rp295,7 miliar.
Kenaikan di lini distribusi terutama ditopang oleh penjualan smartphone yang melonjak 45,5 persen. Susanto Djaja, Presiden Direktur MTDL, menyebut pertumbuhan itu sejalan dengan tingginya permintaan produk TIK di Indonesia, khususnya lewat kanal distribusi.
Aktivitas belanja di level dealer juga ikut menguat selama periode tersebut. Kondisi pasokan produk yang terbatas mendorong pergerakan pembelian di jalur distribusi dan mengangkat posisi Metrodata di pasar domestik.
Secara keseluruhan, Metrodata Electronics mencatat pendapatan bersih Rp6,71 triliun pada kuartal I-2026. Angka itu naik 21,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan menunjukkan skala bisnis perseroan masih berkembang kuat.
Namun, pertumbuhan pendapatan yang cepat belum sepenuhnya tercermin pada profitabilitas akhir. Laba kotor perusahaan mencapai Rp510,2 miliar, naik 17,0 persen, tetapi laju kenaikan itu tetap lebih tinggi daripada laba bersih yang hanya tumbuh tipis.
Selain distribusi, unit bisnis solusi dan konsultasi digital juga tetap bergerak positif. Pendapatannya naik 7,2 persen secara tahunan, dengan layanan awan dan managed services menyumbang 60,5 persen dari total pendapatan segmen tersebut.
Kontribusi besar lain datang dari pendapatan eksternal di segmen distribusi yang mencapai Rp5,07 triliun dari total pendapatan bruto perusahaan. Angka ini menegaskan bahwa jalur distribusi masih menjadi mesin utama bagi Metrodata dalam menjaga skala usaha.
Dari sisi neraca, total aset perusahaan meningkat 24,9 persen menjadi Rp14,64 triliun. Kenaikan itu sejalan dengan penambahan stok persediaan perangkat keras untuk memenuhi pipeline proyek yang sudah berjalan.
Untuk menopang ekspansi modal kerja di bisnis distribusi, Metrodata juga memperbesar pinjaman jangka pendek menjadi Rp2,03 triliun. Di saat yang sama, total ekuitas naik 11,9 persen menjadi Rp6,55 triliun sehingga basis permodalan masih terjaga.
Meski kinerja operasional membaik, risiko nilai tukar tetap menjadi perhatian. Sebagian besar produk TIK yang dijual Metrodata masih diimpor menggunakan dolar AS, sehingga pelemahan rupiah berpotensi menekan margin.
Pada akhir Maret 2026, rupiah berada di level Rp16.993 per dolar AS. Posisi itu melemah dibandingkan akhir tahun sebelumnya dan menambah tantangan bagi emiten yang bergantung pada pasokan impor.
