Dorong Investasi AI, Microsoft Pangkas 4.800 Karyawan di Tengah Tekanan Biaya

Author: Redaksi Android62

Microsoft memangkas sekitar 4.800 karyawan dalam gelombang efisiensi terbaru di industri teknologi. Jumlah itu setara sekitar 2,1 persen dari total tenaga kerja perusahaan, di tengah dorongan investasi besar pada kecerdasan buatan.

Keputusan pemangkasan diumumkan pada Senin, 6 Juli 2026, saat perusahaan masih menanggung biaya pengembangan AI yang terus membesar. Microsoft tetap memperluas infrastruktur untuk menopang layanan AI di berbagai lini bisnisnya, tetapi langkah itu ikut menekan pengeluaran operasional.

Investasi AI menekan struktur biaya

Belanja untuk AI kini menjadi beban besar bagi banyak perusahaan teknologi. Di industri ini, pengeluaran untuk pengembangan AI diperkirakan mencapai sekitar US$700 miliar sepanjang 2026, menunjukkan besarnya kompetisi untuk menguasai pasar.

Microsoft termasuk di antara perusahaan paling agresif dalam memperbesar kemampuan AI, termasuk melalui penguatan layanan komputasi awan Azure. Di saat yang sama, kebutuhan membangun pusat data untuk mendukung layanan tersebut juga ikut naik dan menambah tekanan pada biaya.

Informasi Rincian
Karyawan terdampak 4.800 orang
Porsi dari total tenaga kerja Sekitar 2,1 persen
Tanggal pengumuman Senin, 6 Juli 2026
Belanja modal 2026 US$190 miliar

Tekanan pasar ikut menyertai langkah efisiensi

Pengumuman PHK ini datang ketika Microsoft berada di bawah tekanan pasar modal sepanjang semester pertama 2026. Saham perusahaan tercatat turun hampir 23 persen dalam enam bulan pertama tahun ini, yang menjadi kinerja semester pertama terburuk sejak 2022.

Microsoft diperkirakan akan mengumumkan laporan keuangan terbaru pada akhir bulan ini. Sebelumnya, perusahaan menyebut pendapatan layanan Azure masih berada di atas ekspektasi analis Wall Street, meski proyeksi belanja modal pada 2026 mencapai US$190 miliar.

Restrukturisasi bukan langkah pertama

Gelombang pemangkasan tenaga kerja kali ini juga bukan yang pertama dilakukan Microsoft sepanjang 2026. Sebelumnya, perusahaan menawarkan program pensiun sukarela kepada sekitar 7 persen tenaga kerja di Amerika Serikat, atau sekitar 9.000 karyawan.

Microsoft juga kerap melakukan penyesuaian jumlah pegawai menjelang berakhirnya tahun fiskal pada Juni. Langkah itu biasa dipakai untuk menyusun ulang anggaran dan menyesuaikan struktur organisasi dengan kebutuhan bisnis berikutnya.

Efisiensi meluas ke bisnis gim dan perangkat keras

Dampak investasi AI tidak hanya terasa pada tenaga kerja, tetapi juga pada lini bisnis lain. Lonjakan permintaan pusat data mendorong kenaikan harga chip memori yang dipakai untuk mendukung teknologi AI, sehingga biaya produksi sejumlah perangkat keras Microsoft ikut meningkat.

Situasi itu turut memengaruhi konsol Xbox, termasuk kenaikan harga perangkat di tengah permintaan yang belum sepenuhnya pulih. Kepala divisi Xbox, Asha Sharma, sebelumnya menyebut bisnis tersebut memerlukan penyesuaian menyeluruh karena margin keuntungannya turun menjadi sekitar 3 persen.

Dalam memo kepada karyawan, Sharma menyampaikan bahwa Microsoft telah menggelontorkan lebih dari US$20 miliar selama lima tahun terakhir untuk konten, platform, dan perangkat keras, di luar akuisisi Activision Blizzard King. Namun, pendapatan tahunan bisnis itu justru turun sekitar setengah miliar dolar AS dalam periode yang sama.

“Ke depannya, ini tidak bisa dilanjutkan,” tulis Sharma dalam memo tersebut. Sejalan dengan tekanan itu, Microsoft juga disebut tengah mengevaluasi opsi untuk unit Xbox, termasuk restrukturisasi atau menjadikannya anak perusahaan yang dimiliki sepenuhnya.

Di tengah dorongan besar pada AI, Microsoft berusaha menjaga keseimbangan antara ekspansi infrastruktur dan efisiensi biaya. Kombinasi keduanya kini membentuk arah baru perusahaan teknologi raksasa yang harus tumbuh lebih cepat sambil menekan pengeluaran di banyak lini bisnis.

Source: www.viva.co.id
Berita Terbaru