Migrasi XLSMART Rampung Tanpa Downtime, Tencent Cloud Andalkan AI di 4,5 Bulan

Migrasi sistem skala besar XLSMART ke lingkungan baru selesai dalam 4,5 bulan tanpa waktu henti. Proyek ini menarik perhatian karena Tencent Cloud mengandalkan kecerdasan buatan terintegrasi di hampir seluruh tahapan pekerjaan, sesuatu yang disebut sebagai implementasi pertama di industri untuk migrasi ke public cloud.

Keberhasilan itu penting karena proses berlangsung di tengah agenda modernisasi digital jangka panjang setelah konsolidasi perusahaan. Di tengah skala pekerjaan yang besar, hasil akhir tetap menunjukkan perpindahan sistem berjalan mulus dan tetap menjaga layanan inti.

Skala migrasi yang sangat besar

Dalam proyek tersebut, lebih dari 1.200 microservices, 1.100 API, dan 900 antarmuka bisnis dipindahkan ke sistem baru. Selain itu, aset data inti dengan volume lebih dari 15 terabyte juga ikut dimigrasikan dengan tingkat keamanan tertinggi.

Selama masa transisi, Tencent Cloud menyiapkan lebih dari 20 produk inti untuk mendukung proses tersebut. Cakupannya meliputi database, manajemen kontainer, hingga keamanan siber.

AI dipakai dari analisis sampai cutover

Tencent Cloud menanamkan kapabilitas AI di seluruh tahapan migrasi, bukan hanya pada satu titik pekerjaan. Dukungan datang dari CodeBuddy, WorkBuddy, dan TokenHub yang membantu memangkas kerja manual dari hitungan bulan menjadi beberapa hari.

Lebih dari 20 fitur pintar atau Skills juga dibuat untuk memandu alur migrasi dari identifikasi hingga pengalihan sistem. Fitur-fitur itu kemudian dilebur menjadi platform migrasi AI yang utuh dan disiapkan sebagai blueprint untuk proyek transformasi cloud global berikutnya.

Pada fase analisis arsitektur lama, Tencent Cloud menghadirkan dua Skills utama untuk mempercepat pekerjaan yang biasanya paling menyita waktu. Satu fitur memindai lingkungan lintas akun secara otomatis, sementara fitur lain menghasilkan dokumen Low-Level Design dan diagram visual secara instan.

Otomasi tersebut mengurangi beban administratif yang biasanya melekat pada pekerjaan berbasis Excel. Engineer pun bisa lebih fokus pada penyempurnaan desain arsitektur, sementara alur kerja tetap terhubung lewat konversi Terraform dan pembuatan cutover playbook otomatis.

Tantangan integrasi pasca-merger

XLSMART lahir dari merger strategis XL Axiata dan Smartfren yang resmi terbentuk pada April 2025. Perusahaan ini kini melayani lebih dari 69 juta pelanggan dan menjadi salah satu tulang punggung telekomunikasi nasional.

Namun, integrasi pasca-merger meninggalkan arsitektur teknologi yang terfragmentasi di berbagai platform multi-cloud. Kondisi itu makin kompleks karena ada 60 aplikasi inti yang harus disatukan, sehingga manajemen XLSMART memilih strategi penyatuan sistem pada Desember 2025.

Tantangan lain datang dari restrukturisasi organisasi dan keterlibatan lebih dari 10 vendor pihak ketiga yang berbeda bahasa. Karena itu, XLSMART tidak memilih metode lift-and-shift yang instan, melainkan merancang ulang arsitektur sistem secara menyeluruh.

Lokalisasi dan keamanan jadi penentu

Selama proses migrasi, Tencent Cloud melakukan lebih dari 200 adaptasi fitur kustom agar ekosistem global itu sesuai dengan kebiasaan pengguna lokal di Indonesia. Salah satu solusi yang digunakan adalah Database Claw, agen pintar yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan basis data.

Melalui pengujian ketat dan infrastructure hardening, migrasi besar ini disebut berjalan tanpa gangguan dan tanpa waktu henti. Fokus proyek tidak hanya pada kecepatan, tetapi juga pada ketahanan layanan dan perlindungan data.

Poshu Yeung, Senior Vice President of Tencent Cloud International, menyebut pencapaian ini sebagai tolok ukur baru di industri teknologi. Sementara itu, Chief Information & Technology Officer XLSMART, Yessie D. Yosetya, menegaskan bahwa proyek tersebut membangun fondasi digital yang tangguh untuk fase pertumbuhan berikutnya.

Source: id.mashable.com
Berita Terkait