Kursi pesawat kini lebih cepat menghilang bukan hanya karena permintaan perjalanan meningkat, tetapi juga karena banyak penumpang menahan dua opsi penerbangan sekaligus. Dalam situasi tiket yang mahal dan jadwal yang mudah berubah, miles berubah fungsi menjadi alat untuk mengunci pilihan tanpa menanggung risiko besar.
Perubahan ini mendorong pemesanan bayangan atau pemesanan spekulatif makin sering terjadi. Penumpang memakai tiket penghargaan untuk menjaga fleksibilitas, lalu membatalkan salah satu pesanan jika harga, jadwal, atau kondisi perjalanan bergeser.
Miles Dipakai untuk Mengamankan Opsi Perjalanan
Dibanding tiket tunai, tiket penghargaan memberi ruang gerak yang lebih besar bagi penumpang. Biaya pembatalannya biasanya rendah, bahkan dalam beberapa kasus gratis, sehingga banyak orang lebih berani memesan lebih awal.
Leigh Rowan, pendiri Savanti Travel, menilai perilaku itu sebagai respons yang masuk akal terhadap pasar yang tidak stabil. Ia mengatakan, “Volatilitas adalah norma baru dan mitigasi risiko menjadi kunci,” lalu menambahkan, “Kami menganggap miles sebagai kelas aset.”
Pernyataan itu menunjukkan bahwa miles tidak lagi dilihat semata sebagai bonus loyalitas. Bagi sebagian pelancong, miles kini berfungsi sebagai cadangan untuk menjaga rencana perjalanan tetap aman tanpa harus menanggung penalti besar.
Dampaknya Terasa di Ketersediaan Kursi
Saat satu penumpang memegang lebih dari satu opsi perjalanan, kursi di sistem pemesanan ikut lebih cepat menipis. Efek ini paling terasa pada rute yang banyak diburu atau rute yang dinilai punya risiko perubahan lebih tinggi.
Rob Burgess, pendiri situs loyalitas perjalanan Head for Points, menyebut penggunaan miles dalam kondisi seperti ini sebagai perlindungan berbiaya rendah. Ia mengatakan, “Menggunakan miles di saat seperti sekarang ini seperti asuransi berisiko rendah.”
Kondisi tersebut membuat kursi pada tiket penghargaan semakin sulit ditemukan. Penumpang yang mencari penukaran poin kerap berhadapan dengan pilihan yang terbatas, terutama di rute populer.
Pencarian Kursi Ikut Naik
Lonjakan minat itu terlihat dari data pencarian kursi penerbangan. Roame mencatat pencarian kursi naik 44% pada akhir Februari, yang menandakan semakin banyak penumpang ingin segera mengamankan opsi perjalanan.
PointsYeah juga melihat pencarian rute dari Amerika Serikat ke Asia naik 50% karena penumpang berusaha menghindari wilayah konflik. Di saat yang sama, aplikasi HeyMax mencatat transfer poin ke Asia Miles milik Cathay Pacific melonjak 130% setelah pecahnya konflik pada akhir Februari.
Transfer poin ke United Airlines bahkan naik 800%, didorong kebijakan pembatalan gratis yang ditawarkan maskapai tersebut. David Wang, kepala kemitraan loyalitas HeyMax, mengatakan pengguna kini lebih cermat menghitung nilai poin agar miles yang dimiliki benar-benar maksimal.
Maskapai Mulai Menutup Celah
Lonjakan pemesanan spekulatif membuat maskapai menghadapi tekanan baru dalam mengelola inventaris kursi. Bryan Terry dari Alton Aviation Consultancy menyebut perubahan tren penukaran frequent flyer sedang menguji algoritma inventaris maskapai.
Ia menilai praktik pemesanan spekulatif perlu dibatasi karena dapat mengganggu pengaturan kursi secara keseluruhan. Sejumlah maskapai kemudian memperketat aturan untuk menekan kebiasaan tersebut.
Etihad Airways membatasi pembatalan hingga 72 jam dan mengenakan penalti miles. United Airlines dan Qantas Airways juga memperbarui ketentuan untuk melarang pemesanan tiket ganda yang bertujuan menekan tarif.
Di sisi lain, perusahaan kartu kredit mulai menurunkan rasio konversi poin ke sejumlah mitra maskapai. Situasi ini membuat sebagian pelancong memilih kartu kredit dengan poin yang bisa ditransfer agar tetap memiliki ruang menentukan waktu penukaran.
Dengan harga tiket yang masih tinggi dan ketidakpastian perjalanan yang belum mereda, miles semakin diperlakukan sebagai alat fleksibilitas yang bernilai besar. Akibatnya, kursi pesawat, khususnya pada skema penukaran poin, makin cepat lenyap dari sistem pemesanan.
