Di balik kisah seorang remaja yang mengejar mimpi di dunia gim, Nobody Loves Kay justru menempatkan konflik keluarga dan pertemanan sebagai penggerak utama cerita. Film garapan Visinema Pictures ini mengangkat perjalanan Kay, tokoh yang diperankan Bima Azriel, sebagai anak sederhana yang harus berhadapan dengan banyak penolakan saat ingin menembus dunia esports profesional.
Yang membuat kisah ini menonjol bukan hanya ambisinya menjadi pro player, tetapi juga tekanan yang datang dari orang-orang terdekat. Kay tidak berjalan sendirian, karena mimpi itu bersinggungan langsung dengan restu keluarga, hubungan dengan sahabat, dan pilihan hidup khas remaja yang masih mencari arah.
Mimpi yang tidak langsung mendapat dukungan
Di film ini, Kay digambarkan tinggal bersama eyang dan hidup dalam keterbatasan ekonomi. Dari kondisi itu, ia tetap berusaha mengejar masa depan lewat game online, meski jalan yang ditempuh tidak mudah.
Ambisi Kay untuk menjadi atlet esports profesional tidak langsung mendapat dukungan dari ibunya yang bekerja di luar negeri. Sikap itu muncul dari pandangan umum orang tua terhadap anak yang terlalu banyak menghabiskan waktu di dunia gim.
Film ini lalu memperlihatkan usaha Kay untuk membuktikan bahwa kemampuan bermain gim juga bisa membuka jalan menuju kesuksesan. Bima Azriel menyebut tokohnya melalui proses panjang untuk mencapai tujuan tersebut, dan perjuangan itu menjadi inti cerita yang dibawa film.
Persahabatan yang ikut berubah arah
Selain soal mimpi, Nobody Loves Kay juga memberi ruang besar pada hubungan antarsahabat. Kay berada dalam lingkaran pertemanan bersama Ido yang diperankan Reybong dan Aurelio yang diperankan Joshia Frederico.
Kehadiran Bebe, yang dimainkan Ayastrophiile, menambah dinamika di antara ketiganya. Karakter ini disebut memunculkan konflik baru dalam hubungan mereka, sehingga sisi persahabatan ikut diuji sepanjang cerita.
Aya, nama akrab Ayastrophiile, memberi isyarat bahwa Bebe memiliki lapisan sikap yang tidak langsung terbaca penonton. Dengan begitu, film ini tidak hanya bergerak di jalur impian menjadi atlet gim, tetapi juga memperlihatkan gesekan yang muncul di dalam pergaulan remaja.
Ada pendidikan, romansa, dan pilihan hidup
Aurora Ribero tampil sebagai Amanda, teman sekolah Kay di SMA. Karakter ini hadir sebagai pengingat agar Kay tetap menjaga keseimbangan antara pendidikan dan cita-cita menjadi pro player.
Keberadaan Amanda memperkuat sisi remaja dalam film ini. Di saat Kay sibuk mengejar target di dunia game, ia juga harus menghadapi urusan sekolah dan kedekatan emosional yang membuat pilihan hidupnya terasa lebih nyata.
Cerita Nobody Loves Kay pada akhirnya bergerak dari ruang bermain ke persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari anak muda. Film ini memperlihatkan bahwa perjalanan menuju sukses tidak selalu mulus, apalagi ketika mimpi berhadapan dengan harapan keluarga, teman, dan lingkungan sekitar.
Dengan latar remaja sederhana yang ingin menembus dunia e-sport, film ini mencoba menampilkan sisi personal dari sebuah cita-cita besar. Perjuangan Kay menjadi pusatnya, tetapi konflik di sekelilingnya membuat kisah ini terasa lebih berlapis dan dekat dengan realitas banyak anak muda.
Source: www.suara.com