Minyak Jelantah Masuk Bahan Bakar Pesawat, Pertamina Percepat Transisi Energi Di Tiga Moda Transportasi

Sustainable aviation fuel atau SAF dari minyak jelantah menjadi salah satu titik paling menonjol dalam langkah transisi energi Pertamina. Di sektor udara, bahan bakar ini sudah dipakai Pelita Air untuk mendukung agenda rendah emisi tanpa mengubah kebutuhan utama penerbangan akan bahan bakar cair.

Pendekatan itu menunjukkan bahwa limbah rumah tangga pun bisa masuk ke rantai energi baru. Dalam strategi yang lebih luas, Pertamina tidak hanya menyiapkan satu solusi, tetapi membangun ekosistem transisi energi untuk darat, laut, dan udara sekaligus.

Di transportasi darat, penguatan ekosistem dilakukan lewat penyediaan charging station dan battery swapping untuk kendaraan listrik. Pertamina juga menyiapkan pabrik bioetanol terintegrasi di area perkebunan tebu Glenmore, Banyuwangi, Jawa Timur.

Fokus pada bioetanol itu tidak berdiri sendiri. Pabrik tersebut diarahkan untuk menjaga pasokan bahan baku dan memperkuat ketahanan energi lokal agar transisi di sektor darat tidak hanya bergantung pada kendaraan baru, tetapi juga pada ketersediaan energi yang stabil.

Di sektor laut, Pertamina memilih jalur yang menggabungkan efisiensi operasi dan sumber energi baru. Perusahaan mendorong penggunaan dual fuel, sekaligus mengembangkan green ammonia dan memasang panel surya di dek kapal.

Rangkaian langkah tersebut memperlihatkan bahwa transisi di laut tidak dipusatkan pada satu teknologi. Pertamina mengombinasikan beberapa pendekatan agar pengurangan emisi bisa berjalan lebih luas di aktivitas pelayaran.

Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, menegaskan seluruh upaya itu diarahkan untuk mendukung target Net Zero Emission Indonesia pada 2060. Ia menyampaikan hal tersebut saat mengisi Studium Generale Sustainability di Universitas Pertamina pada Kamis (21/5/2026).

Agung juga menyinggung bahwa langkah Pertamina sejalan dengan komitmen kuat Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Pernyataan itu menempatkan transisi energi sebagai agenda jangka panjang yang melibatkan perusahaan energi dan arah kebijakan nasional secara bersamaan.

Dukungan dari dunia pendidikan ikut dipandang penting dalam proses ini. Acting Rector Universitas Pertamina, Djoko Triyono, menilai transisi energi tidak bisa dikerjakan sendiri oleh pemerintah atau industri.

Menurut dia, kolaborasi akademisi, pemerintah, masyarakat, dan sektor industri dibutuhkan untuk merumuskan solusi atas persoalan energi nasional. Universitas Pertamina sendiri menempatkan diri sebagai penghubung antara riset, inovasi, pengembangan sumber daya manusia, dan aksi nyata.

Keterhubungan itu menjadi penting karena percepatan transisi energi tidak berhenti pada pembangunan infrastruktur. Riset, pengembangan SDM, dan implementasi di lapangan perlu bergerak searah agar teknologi yang disiapkan benar-benar dapat berjalan efektif.

Dengan kombinasi charging station, battery swapping, bioetanol, dual fuel, green ammonia, panel surya, hingga SAF dari minyak jelantah, Pertamina mendorong transisi energi sebagai sebuah sistem. Arah itu membuat perubahan di darat, laut, dan udara terhubung dalam ekosistem yang sama.

Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow UsGoogle NewsFlipboard
Berita Terkait
Berita Terbaru
Populer