Minyak Kemiri Belu Berpeluang Masuk Pasar Ekspor, Tri Tito Karnavian Soroti Nilai Ekonomi Keluarga

Author: Redaksi Android62

Minyak kemiri dari Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, dinilai punya peluang besar untuk berkembang menjadi produk unggulan daerah. Ketua Umum TP PKK Tri Tito Karnavian menilai komoditas ini tidak sekadar bernilai jual, tetapi juga bisa menjadi sumber penghasilan keluarga yang lahir dari potensi dapur rumah.

Pandangan itu disampaikan Tri saat menghadiri Pelatihan Pembuatan dan Pengelolaan Minyak Kunir di Rumah Jabatan Bupati Belu. Dalam kesempatan tersebut, ia menyoroti bahwa bahan baku kemiri di Belu tersedia melimpah, sehingga masyarakat tidak kesulitan memperoleh bahan utama untuk memulai usaha.

Bahan Lokal yang Mudah Ditemukan

Tri melihat kemiri Belu sebagai modal penting bagi pengembangan usaha berbasis rumah tangga. Menurutnya, melimpahnya ketersediaan kemiri membuat proses produksi lebih realistis dijalankan oleh warga setempat.

Ia menilai kondisi itu memberi keuntungan tersendiri karena pelaku usaha tidak perlu bergantung pada pasokan dari luar daerah. Dengan bahan baku yang ada di sekitar masyarakat, pengolahan minyak kemiri bisa dimulai dari skala kecil dan berkembang secara bertahap.

Berpotensi Menjangkau Pasar yang Lebih Luas

Selain sebagai kebutuhan lokal, Tri menilai minyak kemiri termasuk minyak asiri yang layak diarahkan ke pasar yang lebih besar. Jika diolah dengan tepat, produk ini tidak hanya bisa dipasarkan di daerah sendiri, tetapi juga berpeluang masuk pasar ekspor.

Ia juga menekankan bahwa nilai tambah produk akan semakin kuat bila proses pengolahannya dilakukan secara serius. Dengan begitu, minyak kemiri tidak berhenti sebagai hasil olahan rumahan, melainkan bisa naik kelas menjadi komoditas yang lebih kompetitif.

Nilai Tambah dari Proses Organik

Salah satu hal yang mendapat perhatian Tri adalah cara pengolahan minyak kemiri Belu yang dinilai masih organik. Produk itu disebut dihasilkan tanpa campuran bahan kimia, sehingga memiliki keaslian yang menjadi nilai jual tambahan di mata pasar.

Kondisi tersebut membuat minyak kemiri Belu memiliki identitas khas yang dapat membedakannya dari produk sejenis. Keaslian proses ini juga menjadi salah satu alasan mengapa komoditas tersebut dinilai layak didorong lebih jauh sebagai produk lokal unggulan.

Peluang Ekonomi untuk Ibu Rumah Tangga

Tri menilai dampak paling terasa dari pengembangan minyak kemiri ada pada ekonomi keluarga. Ia menyebut pengolahan komoditas ini bisa membuka sumber pendapatan baru, terutama bagi ibu-ibu rumah tangga yang ingin memiliki usaha dari lingkungan tempat tinggalnya.

Menurut Tri, usaha kecil seperti ini dapat membantu memperkuat kesejahteraan masyarakat di daerah. Meski hasilnya tidak langsung besar, produksi yang dijalankan secara konsisten tetap bisa memberi dampak nyata bagi ekonomi rumah tangga.

Pemasaran Perlu Diperluas

Agar manfaatnya tidak berhenti di tingkat lokal, Tri mendorong pemasaran digital untuk produk minyak kemiri dari Belu. Ia menyebut media sosial dapat menjadi jalur penting untuk menjangkau pembeli yang lebih luas di seluruh Indonesia.

Dorongan itu juga sejalan dengan harapan agar usaha ini tidak hanya digerakkan oleh kelompok tertentu. Tri ingin lebih banyak warga ikut terlibat, termasuk anak-anak dan tetangga di sekitar, sehingga pengembangannya berlangsung sebagai usaha bersama.

Koordinasi dan Penguatan Produk Unggulan

Tri berharap pengembangan minyak kemiri tidak berhenti pada pelatihan semata. Ia mendorong TP PKK Kabupaten Belu untuk berkoordinasi dengan unit kementerian agar minyak kemiri benar-benar diposisikan sebagai produk lokal unggulan PKK.

Dengan dukungan pelatihan, penguatan kelembagaan, dan strategi promosi yang tepat, minyak kemiri Belu dinilai memiliki jalan untuk tumbuh dari produksi rumah tangga menjadi komoditas daerah yang memberi nilai tambah lebih besar bagi masyarakat Kabupaten Belu.

Source: www.viva.co.id
Berita Terbaru