Francesco Farioli datang ke Dragão dengan tugas yang sangat berat. FC Porto harus membalas kekalahan 0-1 dari leg pertama di Alvalade jika ingin merebut tiket ke final Taça de Portugal, dan hanya kemenangan dengan selisih dua gol yang bisa langsung mengantar mereka lolos.
Jika Porto hanya menang tipis, nasib mereka belum selesai. Laga akan berlanjut ke babak tambahan dan kemungkinan berakhir lewat adu penalti, membuat malam di kandang sendiri punya tekanan yang jauh lebih besar dari sekadar laga semifinal biasa.
Beban besar di kandang sendiri
Situasi itu membuat Porto tidak punya banyak ruang untuk bermain aman. Mereka perlu agresif sejak awal, tetapi tetap harus menjaga keseimbangan agar tidak terbuka terhadap serangan Sporting.
Di sisi lain, Sporting juga datang dengan beban besar. Tim Rui Borges baru saja melewati periode sulit setelah tersingkir dari Liga Champions oleh Arsenal dan kemudian kalah dari Benfica.
Kondisi tersebut ikut memengaruhi ambisi Sporting yang sedang mengejar gelar ketiga beruntun. Karena itu, laga di Dragão bukan hanya soal mempertahankan keunggulan agregat, tetapi juga soal merespons tekanan dari hasil-hasil terakhir yang kurang memuaskan.
Porto masih punya pijakan penting
Meski baru tersingkir dari Liga Europa di Nottingham pada Kamis lalu, Porto tetap masuk ke pertandingan ini dengan modal yang cukup jelas di kompetisi domestik. Mereka unggul delapan poin atas Sporting di liga, sebuah jarak yang memberi Farioli sedikit ruang untuk menjaga harapan tim tetap hidup di dua jalur sekaligus.
Jarak itu memang bisa menyusut menjadi lima poin bila tim Rui Borges memenangkan laga tunda. Namun, dengan empat jornada tersisa, Porto masih berada di posisi yang memungkinkan mereka terus memberi tekanan dalam perebutan gelar.
Karena itu, duel semifinal ini terasa lebih dari sekadar pertandingan piala. Hasilnya bisa ikut membentuk arah sisa musim Porto, terutama karena mereka masih bersaing di kompetisi domestik dengan keuntungan yang belum hilang.
Target yang jarang disentuh Porto
Ada lapisan lain yang membuat laga ini semakin menonjol bagi Farioli. Ia tidak hanya mengejar tiket final, tetapi juga memburu pencapaian yang dalam format semifinal dua leg Taça de Portugal hanya pernah dituntaskan André Villas-Boas bersama FC Porto.
Rujukan itu datang dari musim 2010/11, ketika Porto kalah 0-2 dari Benfica pada leg pertama di kandang. Saat itu situasinya juga terlihat sulit, tetapi mereka sanggup membalikkan keadaan dengan menang 3-1 di Luz, pada masa ketika gol tandang masih bernilai ganda.
Perjalanan itu kemudian berujung pada kemenangan atas V. Guimarães di Jamor. Karena itu, apa yang kini dihadapi Farioli bukan hanya soal membalikkan agregat, melainkan juga soal mendekati satu catatan yang sangat langka dalam sejarah klub.
Satu laga, banyak dampak
Jika Porto mampu melewati Sporting, mereka tidak hanya menghapus defisit dari leg pertama. Mereka juga akan membuka jalan menuju final dengan lawan yang secara teori lebih ringan, yaitu pemenang semifinal lain antara Torreense dari II Liga dan Fafe dari Liga 3.
Kondisi tersebut membuat peluang ke final terasa nyata, tetapi jalan menuju ke sana tetap menuntut malam yang sempurna. Porto harus efisien saat menyerang, disiplin saat bertahan, dan kuat secara mental ketika pertandingan masuk ke fase yang bisa berubah sangat cepat.
Di tengah semua tekanan itu, Farioli memimpin Porto dalam duel yang bisa menentukan banyak hal sekaligus. Bila misi ini berhasil, Dragão akan mencatat malam yang bukan hanya membawa Porto ke final, tetapi juga menempatkan sang pelatih dalam jejak sejarah yang selama ini hanya pernah dibuat Villas-Boas di klub tersebut.
Source: onefootball.com






