Perjalanan tujuh relawan kemanusiaan asal Indonesia menuju Gaza berakhir di Libia setelah jalur darat yang mereka tempuh tertutup oleh situasi keamanan yang memburuk. Rombongan yang semula berharap bisa membuka akses bantuan justru harus menghentikan langkah setelah berhadapan dengan penolakan masuk, pengawalan ketat, dan ancaman dari milisi bersenjata.
Kepulangan para relawan itu menandai ujung dari misi yang sejak awal tidak mudah. Mereka akhirnya tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, pada Jumat malam setelah perjalanan panjang yang lebih banyak diwarnai ketegangan daripada kemajuan.
Tekanan di lapangan memaksa rombongan mundur
Dewan Pengarah Global Peace Convoy Indonesia, Irvan Nugraha, menyebut seluruh delegasi Indonesia berusaha tetap tenang saat kondisi di lapangan semakin sulit. Ia menjelaskan, rombongan sempat mendekati wilayah Libia Timur sebelum akhirnya memutuskan kembali ke Tripoli demi keselamatan.
Keputusan itu diambil setelah upaya diplomasi dengan kelompok bersenjata yang menguasai kawasan tersebut tidak berjalan mulus. Irvan menegaskan, jalur darat menuju Gaza melalui Libia memang sudah menghadapi tantangan besar sejak awal perjalanan.
Ancaman langsung dari pos pemeriksaan
Salah satu relawan, Muhammad Rikar Tayusani, menggambarkan suasana yang sangat menegangkan saat konvoi berhenti di kamp gurun tak jauh dari pos pemeriksaan pertama. Di tempat itu, rombongan berhadapan langsung dengan kelompok milisi bersenjata yang tidak diakui secara resmi oleh negara.
Rikar mengatakan pasukan di Libia Timur mengusir para relawan dan sempat mengancam akan menyerang truk bantuan jika rombongan tetap melaju. Ancaman itu membuat para sopir truk bantuan dan pengemudi bus relawan ketakutan, sementara proses negosiasi belum juga memberi jalan keluar.
Pengawalan ketat sepanjang perjalanan
Selama bergerak di wilayah itu, rombongan tidak dibiarkan berjalan sendiri. Rikar menyebut militer Libia Barat mengawal mereka dengan ketat karena ada kekhawatiran serangan terhadap konvoi bantuan kemanusiaan.
Menurut dia, perjalanan sempat beberapa kali terhenti di pos pemeriksaan. Kekhawatiran terhadap penyusup yang dapat menyerang bus relawan membuat pengamanan harus dilakukan secara ekstra ketat sepanjang rute yang mereka lalui.
Jalur masuk ke Mesir ikut tertutup
Irvan juga menyoroti penolakan izin masuk menuju Mesir dari wilayah Libia Timur. Kondisi tersebut membuat jalur darat yang diharapkan bisa menjadi akses menuju Gaza akhirnya tertutup.
Setelah situasi dinilai makin tidak kondusif, rombongan memilih bermalam satu malam di sebuah masjid di Jeritan City. Langkah itu diambil demi keamanan sebelum mereka kembali ke wilayah awal keberangkatan.
Misi kemanusiaan belum berhenti
Meski perjalanan kali ini gagal mencapai Gaza, Irvan menegaskan misi kemanusiaan itu tidak berhenti di Libia. Ia menyebut pembatasan yang dihadapi di lapangan menunjukkan betapa sulitnya membuka jalur bantuan menuju Gaza.
Ia berharap negara-negara di sekitar Gaza dapat memberi dukungan agar jalur kemanusiaan lebih aman dan lebih terbuka. Menurut dia, bantuan baru bisa benar-benar sampai jika relawan mendapat ruang gerak yang memadai di lapangan.
Pengalaman tujuh relawan Indonesia ini juga mengingatkan pada perjalanan relawan kemanusiaan lain yang pernah mengalami pencegatan di perairan internasional antara Cyprus dan Gaza. Bagi mereka, kegagalan menembus jalur Libia menegaskan bahwa upaya menuju Gaza masih menghadapi hambatan besar, baik di darat maupun di rute lain.
