Banyak perangkat yang dianggap lahir dari era digital ternyata punya akar jauh lebih tua. Internet, email, layar sentuh, sampai mobil listrik menunjukkan bahwa ide besar sering muncul lebih awal, lalu baru benar-benar populer ketika teknologinya siap dipakai luas.
Pola itu juga terlihat pada sejumlah inovasi lain seperti kecerdasan buatan, realitas virtual, rumah pintar, komputasi awan, pencetakan 3D, dan CD. Di banyak kasus, yang baru bukan gagasannya, melainkan momen ketika teknologi itu akhirnya cukup murah, praktis, dan cocok untuk kebutuhan publik.
Transportasi dan media yang ternyata lebih tua dari bayang-bayangnya
Mobil listrik sudah ada sebelum mobil bensin mendominasi jalan raya. Prototipe awalnya muncul pada 1830-an, dan jika menghitung kendaraan dengan baterai isi ulang, jejaknya mundur sampai 1859.
Minat pada mobil listrik sempat tertahan oleh biaya, melimpahnya minyak, produksi massal Ford Model T, dan keterbatasan baterai. Meski begitu, kendaraan ini sejak awal dinilai lebih senyap dan lebih mudah dikendalikan daripada mobil awal berbahan bakar bensin.
CD juga sering disangka produk 1990-an, padahal pengembangannya sudah dimulai pada akhir 1970-an. Sony dan Philips kemudian merilis pemain CD pertama pada awal 1980-an, dan pada 1988 penjualan CD melampaui vinyl.
Format itu tidak berhenti sebagai media musik. CD juga berkembang menjadi media penyimpanan data dan ikut memengaruhi perangkat seperti game console, DVD, serta Blu-ray.
Dari jaringan militer hingga pesan elektronik modern
Internet berawal dari 1960-an lewat ARPANET, proyek Departemen Pertahanan Amerika Serikat. Tujuan utamanya adalah membuat jaringan tetap berjalan meski sebagian titik rusak, sehingga lahirlah konsep paket data yang bisa diarahkan melalui jalur fisik berbeda.
Saat internet mulai berkembang, komputer pribadi belum menjadi perangkat umum seperti sekarang. Komputer kala itu masih berupa mesin besar di dalam gedung, dan banyak orang harus berbagi waktu pakai untuk bisa mengaksesnya.
Email pun muncul jauh sebelum banyak orang mengira. Ray Tomlinson mengirim email pertama pada 1971 saat bekerja dengan komputer time-sharing, lalu mengembangkan konsep pesan lintas jaringan dengan simbol “@”.
Antarmuka yang kini terasa sangat akrab
Layar sentuh juga bukan ciri khas smartphone modern. Teknologi ini sudah ada sejak pertengahan 1960-an, ketika Leon D. Harmon dari Bell Labs membuat layar sentuh pertama yang hanya bisa mengenali stylus khusus.
Sesudah itu, E.A. Johnson dari U.K. Royal Radar Establishment mengembangkan layar sentuh kapasitif yang digerakkan jari untuk membantu pengendalian lalu lintas udara. Perangkat seperti PDA kemudian memakai layar resistif yang membutuhkan stylus, dan Newton milik Apple menjadi salah satu contoh awalnya.
Mesin pintar, dunia virtual, dan rumah yang bisa saling berbicara
Gagasan tentang kecerdasan buatan sudah lama hadir dalam cerita automata dan mesin hitung mekanik selama berabad-abad. Titik awal modernnya paling sering dikaitkan dengan Perang Dunia II, ketika Alan Turing menjadi salah satu tokoh penting, menulis sejumlah makalah tentang AI, dan mengusulkan Turing Test untuk mengukur kecerdasan mesin.
Realitas virtual juga punya sejarah panjang. Babak awalnya muncul pada akhir 1960-an melalui “Sword of Damocles” karya Ivan Sutherland, yang dikenal sebagai head-mounted display pertama di dunia meski bentuknya besar dan rumit.
VR sempat kembali populer pada 1990-an lewat gim arcade dan produk konsumen yang mahal. Namun pada masa itu teknologinya belum matang, sampai Oculus Rift pada 2015 dianggap menyelesaikan banyak masalah teknis.
Rumah pintar pun bukan konsep baru. X10, sistem otomasi rumah pertama, lahir pada 1975 dan memungkinkan perangkat saling berkomunikasi lewat kabel listrik di dalam rumah.
Awan digital dan pencetakan yang dulu hanya milik industri besar
Komputasi awan punya akar yang bisa ditelusuri ke masa sebelum PC menjadi arus utama. Dahulu komputer besar memang dipakai bersama oleh banyak orang, dan prinsip serupa kini hidup kembali lewat server jarak jauh untuk streaming gim, dokumen online, dan layanan seperti Chromebook.
Pencetakan 3D juga mengalami perjalanan yang panjang sebelum hadir di meja kerja banyak orang. Stereolithography dipatenkan Charles Hull pada 1984, lalu selective laser sintering dan fused deposition modeling menyusul pada akhir 1980-an.
Pada awalnya, teknologi itu berada di ranah bisnis besar karena mahal dan rumit. Baru pada akhir 2000-an proyek RepRap menunjukkan printer 3D desktop yang terjangkau, dan kini printer multi-material berwarna bisa dibeli di bawah $500.
Melihat deretan teknologi itu, jelas bahwa usia sebuah inovasi tidak selalu sama dengan usia popularitasnya. Banyak hal yang kini tampak modern ternyata sudah lama ada, hanya menunggu waktu sampai dunia siap memakainya setiap hari.
