Penjualan mobil premium masih bertahan kuat ketika pasar kendaraan mass market melemah. Di tengah penjualan mobil nasional yang turun dari sekitar 1,01 juta unit pada 2023 menjadi sekitar 865.000 unit pada 2024, stan mobil mewah tetap ramai dan sejumlah model baru bahkan langsung mengantongi surat pemesanan kendaraan dalam jumlah signifikan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa perlambatan ekonomi tidak dirasakan merata. Yang tertekan terutama adalah daya beli mayoritas masyarakat, sementara kelompok berpendapatan tinggi masih memiliki ruang belanja yang relatif luas karena ditopang aset finansial, portofolio investasi, dan sumber pendapatan yang lebih beragam.
Dua Mesin Konsumsi yang Berjalan Berbeda
Pasar otomotif memperlihatkan dua pola konsumsi yang tidak bergerak dengan kecepatan sama. Segmen di bawah Rp 400 juta, yang sangat bergantung pada kredit dan daya beli kelas menengah, menjadi yang paling terasa penurunannya.
Di sisi lain, mobil premium seperti BMW, Mercedes-Benz, Lexus, Porsche, hingga merek ultra-luxury tetap mencatat minat yang stabil di berbagai pameran otomotif nasional. Beberapa model edisi terbatas disebut habis dipesan selama pameran berlangsung.
Pola serupa juga terlihat pada pasar sepeda motor. Penjualan roda dua masih bertahan di kisaran 6,2–6,5 juta unit per tahun selama periode 2023–2025, tetapi pertumbuhannya cenderung stagnan.
| Segmen | Gambaran Performa | Ciri Utama |
|---|---|---|
| Mobil mass market | Penjualan melemah | Sangat bergantung pada kredit dan kelas menengah |
| Mobil premium | Minat tetap stabil | Didukung kelompok berpendapatan tinggi |
| Sepeda motor | Stabil tetapi stagnan | Masih dibeli untuk kebutuhan mobilitas |
Perbedaan ini memperlihatkan bahwa konsumsi rumah tangga tidak bisa dibaca hanya dari angka rata-rata. Ketika agregat terlihat bertahan, kondisi itu belum tentu menggambarkan kemampuan belanja semua lapisan masyarakat secara setara.
Ketika Konsumsi Kaya Tetap Berputar
Kelompok berpendapatan tinggi cenderung lebih kebal terhadap inflasi dan perlambatan ekonomi. Mereka biasanya tetap terdorong oleh kenaikan nilai aset, keuntungan investasi, dan ekspansi bisnis, sehingga konsumsi barang mahal tidak langsung tersendat.
Joseph Stiglitz menyebut kondisi seperti ini sebagai ekonomi dengan konsentrasi kekayaan yang meningkat. Saat distribusi pendapatan makin timpang, sebagian masyarakat turun kesejahteraannya sementara sebagian lain justru menambah kekayaan.
Gambaran tersebut membuat showroom mobil premium tetap hidup saat pasar umum melemah. Satu pembelian mobil bernilai miliaran rupiah memang besar dalam transaksi, tetapi tidak otomatis mencerminkan kuatnya daya beli masyarakat luas.
Pola yang Juga Muncul di Luar Indonesia
Amerika Serikat mengalami gejala serupa setelah pandemi. Inflasi sempat mencapai level tertinggi dalam empat dekade dan suku bunga dinaikkan agresif oleh bank sentral, sementara penjualan rumah dan kendaraan kelas menengah melemah.
Dalam kondisi itu, merek seperti Ferrari, Lamborghini, Porsche, Rolls-Royce, dan Bentley tetap kuat. Ferrari bahkan beberapa kali menyatakan daftar tunggu pembelian mobilnya mencapai lebih dari satu tahun, sedangkan Bentley menegaskan pelanggan mereka berasal dari kelompok ultra-high-net-worth individuals.
India juga menunjukkan pola yang mirip. Di tengah pengangguran kaum muda yang masih tinggi, kesenjangan pendapatan yang melebar, dan dominasi sektor informal, BMW, Mercedes-Benz, Audi, dan Lexus justru mencetak rekor penjualan selama beberapa tahun setelah pandemi.
Baru memasuki 2026, pasar India mulai menunjukkan tanda perlambatan setelah lima tahun berturut-turut bertumbuh. Ekonom di sana menyebut gejala itu sebagai consumption bifurcation, atau konsumsi masyarakat yang terbelah menjadi dua dunia berbeda.
Risiko Salah Baca bagi Indonesia
China memberi pelajaran lain. Saat krisis properti menekan banyak pengembang besar dan konsumsi rumah tangga melemah, merek seperti Hermès, Louis Vuitton, Ferrari, dan Porsche sempat masih kuat pada fase awal perlambatan.
Namun, memasuki 2025, perlambatan yang berkepanjangan mulai menjangkau segmen premium. Penjualan mobil mewah asing ikut turun ketika kepercayaan konsumen kaya melemah, krisis properti berlanjut, dan preferensi terhadap merek domestik seperti BYD meningkat.
Bagi Indonesia, risikonya adalah salah membaca sinyal pasar. Tekanan ekonomi terjadi bersamaan dengan melemahnya permintaan domestik, efisiensi tenaga kerja di sejumlah perusahaan, pertumbuhan lapangan kerja formal yang lebih lambat dari pertumbuhan angkatan kerja, dan kenaikan harga pangan yang menggerus pendapatan riil rumah tangga.
Di beberapa daerah, distribusi BBM juga sempat terganggu dan menambah biaya logistik. Dalam situasi seperti ini, ramainya penjualan mobil mewah bisa menciptakan ilusi bahwa ekonomi nasional masih kuat.
Padahal, indikator yang lebih penting tetap sama, yakni seberapa luas masyarakat mampu membeli kebutuhan pokok, bertahan dengan pekerjaan layak, dan menjaga kualitas hidupnya. Dalam ekonomi Indonesia, konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari separuh PDB, sehingga pelemahan daya beli kelas menengah jauh lebih menentukan dibanding naiknya konsumsi kelompok kaya.
Karena itu, pameran mobil premium yang ramai tidak cukup dijadikan ukuran kesehatan ekonomi nasional. Yang terlihat di showroom mahal kerap hanya mencerminkan segmen kecil dari populasi, sementara tekanan terbesar tetap dirasakan mayoritas rumah tangga.
