Model Baru Ilmuwan Jepang Ungkap Cara Energi Sel Surya Perovskite Bisa Diatur Lebih Presisi

Tim peneliti dari Chiba University merumuskan model universal pertama yang menjelaskan penyelarasan tingkat energi pada antarmuka elektroda, hole-collecting monolayer, dan perovskit. Kerangka ini memberi cara yang lebih konsisten untuk membaca aliran energi di sel surya perovskite sekaligus membuka jalan desain yang lebih terarah untuk menaikkan efisiensi perangkat.

Yang membuat pendekatan ini menonjol adalah fokusnya pada titik paling rumit dalam perangkat, yakni antarmuka. Sel surya perovskite memang sudah lama dipandang sebagai kandidat kuat energi terbarukan generasi berikutnya karena efisiensinya tinggi, proses pembuatannya berbasis larutan dan berbiaya lebih rendah, serta strukturnya ringan.

Antarmuka yang menentukan performa

Perkembangan besar pada sel surya perovskite banyak ditopang oleh hole-collecting monolayers, atau HCM, yaitu lapisan antarmuka yang sangat tipis untuk mengekstrak muatan positif dari perovskit. Kehadiran lapisan ini mendorong efisiensi sel surya perovskite single-junction hingga 26,9 persen dan sekaligus membantu meningkatkan stabilitas perangkat.

Meski hasilnya menjanjikan, mekanisme dasarnya masih belum tuntas dijelaskan. Penyelarasan tingkat energi pada antarmuka elektroda–HCM–perovskit selama ini masih menjadi perdebatan, sementara model yang berbeda-beda kerap dipakai tanpa kerangka yang seragam.

Kerangka baru dari Chiba University

Profesor Hiroyuki Yoshida memimpin tim yang mencoba menyatukan penjelasan itu lewat model universal pertama untuk keselarasan tingkat energi pada antarmuka elektroda/HCM/perovskit. Model tersebut dirancang agar bisa menjelaskan cara kerja HCM di berbagai sistem material dengan pendekatan yang sama.

Untuk membangun kerangka itu, para peneliti menggunakan ultraviolet photoelectron spectroscopy dan low-energy inverse photoelectron spectroscopy. Dua teknik ini dipakai untuk mengukur sifat energi penting pada material representatif, termasuk work function dan ionization energy.

Dua wilayah antarmuka, dua mekanisme berbeda

Dari hasil pengukuran, antarmuka elektroda/HCM/perovskit dipisahkan menjadi dua wilayah. Pada batas elektroda–HCM, penyelarasan energi terutama dikendalikan oleh interface dipole, yakni medan listrik yang muncul dari dipol molekul terarah pada hole-collecting monolayer.

Berbeda dengan itu, batas HCM–perovskit dijelaskan melalui teori semiconductor heterojunction. Kerangka ini digunakan untuk memahami interaksi dua material dengan tingkat energi berbeda ketika digabungkan, sehingga aliran muatan di antarmuka menjadi lebih mudah dipetakan.

Pembagian ini penting karena performa perangkat sangat ditentukan oleh seberapa efisien muatan positif dapat dipindahkan. Dengan struktur penjelasan yang lebih rapi, hubungan antara lapisan-lapisan di dalam perangkat tidak lagi bergantung pada tafsir yang terlalu terpisah-pisah.

Dua faktor utama penentu koleksi muatan

Tim peneliti menilai ada dua faktor kunci yang paling berpengaruh terhadap hole collection efficiency. Faktor pertama adalah band bending, yaitu perubahan bertahap pada tingkat energi akibat medan listrik bawaan di antarmuka material.

Faktor kedua adalah interfacial energy barrier height, atau ketidaksesuaian energi yang dapat membantu atau justru menghambat perpindahan muatan antar lapisan. Keduanya bergantung pada parameter fundamental yang terbatas, termasuk work function elektroda serta work function dan ionization energy dari HCM dan perovskit.

Dengan set data yang kecil namun relevan, model baru itu mampu menjelaskan secara konsisten mengapa sebagian material HCM bekerja lebih baik daripada yang lain. Validitasnya juga diperkuat lewat perbandingan prediksi model dengan hasil eksperimen pada berbagai kombinasi material.

Arah desain material yang lebih terukur

Temuan ini memberi selection rules dan prinsip desain molekuler yang lebih jelas untuk hole-collecting monolayers. Artinya, penyelarasan energi antarmuka dapat dioptimalkan tanpa harus bergantung terlalu banyak pada eksperimen berulang.

Dampaknya tidak hanya terkait efisiensi konversi daya yang berpotensi naik. Reproduktibilitas perangkat di berbagai sistem material juga berpeluang membaik, sehingga pengembangan sel surya perovskite yang lebih andal dapat berjalan lebih cepat.

Bagi pengembangan teknologi energi, pemetaan energi yang lebih presisi di antarmuka menjadi langkah penting. Pendekatan seperti ini memberi dasar yang lebih kuat untuk sel surya perovskite yang lebih efisien, lebih stabil, dan lebih siap dipakai secara luas.

Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow UsGoogle NewsFlipboard
Berita Terkait
Berita Terbaru
Populer