Model Baru untuk Hubungan Dokter dan Rumah Sakit yang Selama Ini Abu-Abu

Hubungan kerja dokter dan rumah sakit selama ini berada di wilayah yang belum sepenuhnya jelas. Kekosongan norma itu membuat status dokter, perlindungan hak ketenagakerjaan, dan pembagian tanggung jawab hukum kerap sulit dipastikan ketika sengketa muncul.

Di tengah situasi itu, Dr. Iskandar Zulkarnain, S.H., M.H., menawarkan Model Hubungan Kerja Hybrid Sui Generis melalui disertasinya yang dipertahankan dalam Sidang Terbuka Program Doktor Fakultas Hukum Universitas Lampung pada Kamis (9/7/2026). Model ini dirancang untuk mengakui hubungan kerja dokter dan rumah sakit tanpa meniadakan independensi profesi dokter.

Otonomi dokter tetap dijaga

Iskandar menilai karakter profesi dokter tidak bisa disamakan dengan hubungan kerja pada umumnya. Dokter memang bekerja dalam organisasi rumah sakit, memakai fasilitas yang tersedia, dan tunduk pada standar pelayanan, jadwal kerja, tata kelola, hingga target mutu layanan.

Namun, dokter tetap memiliki otonomi profesi dalam mengambil keputusan medis yang tidak dapat diintervensi oleh manajemen rumah sakit secara hukum maupun etik. Karakter ganda inilah yang menurutnya belum sepenuhnya tertampung oleh skema PKWT, PKWTT, maupun kemitraan berbasis perjanjian kerja sama.

AspekMasalah yang DiangkatSolusi dalam Model Hybrid Sui Generis
Status hukum dokterBelum jelas, apakah pekerja atau mitraDiakui sebagai hubungan kerja dengan karakter khusus
Hak normatifPerlindungan ketenagakerjaan belum pastiTetap mendapat kepastian hubungan hukum dan jaminan sosial
Otonomi profesiBerpotensi terganggu jika disamakan dengan kerja biasaTetap dijaga dalam pengambilan keputusan medis
Tanggung jawab hukumMasih berpotensi kabur saat terjadi sengketa medisMemberi titik temu bagi rumah sakit, dokter, dan pasien

Melalui model tersebut, dokter tetap memperoleh perlindungan sebagai pekerja atas hak-hak normatif yang melekat dalam hubungan kerja. Perlindungan itu mencakup kepastian hubungan hukum, jaminan sosial ketenagakerjaan, perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja, serta mekanisme penyelesaian perselisihan hubungan industrial.

Pada saat yang sama, negara tetap mengakui otonomi profesi dokter dan memberi ruang bagi praktik profesional maupun kerja sama pelayanan kesehatan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Iskandar menyebut konsep itu sebagai titik temu antara kepentingan rumah sakit, dokter sebagai tenaga profesional, dan masyarakat sebagai penerima layanan.

Dinilai relevan bagi pembaruan regulasi

Koordinator Nasional GeberBUMN, Ais, menilai disertasi tersebut penting sebagai referensi hukum nasional. Menurutnya, karya itu tidak hanya menunjukkan kekosongan hukum, tetapi juga menawarkan model regulasi baru yang lebih adaptif terhadap karakter profesi dokter.

Ais mengatakan Model Hybrid Sui Generis layak dipertimbangkan sebagai rujukan dalam penyusunan maupun penyempurnaan regulasi di bidang kesehatan dan ketenagakerjaan. Selama ini, perdebatan status dokter kerap dipaksa masuk ke dua kutub, yaitu pekerja atau mitra, padahal praktik pelayanan kesehatan memiliki karakter khusus.

Ia juga menilai pendekatan serupa berpotensi diterapkan pada profesi lain yang bekerja dalam organisasi tetapi tetap menjalankan kewenangan profesional secara independen. Dengan begitu, model hukum yang lebih fleksibel bisa membantu menjawab kebutuhan sektor layanan yang tidak selalu cocok dengan kategori hubungan kerja konvensional.

Disertasi Iskandar diuji oleh sembilan akademisi dan pakar hukum dari unsur internal maupun eksternal Universitas Lampung. Majelis penguji menyatakan ia lulus dengan predikat sangat memuaskan dan berhak menyandang gelar Doktor Ilmu Hukum.

Di tengah kompleksitas tata kelola rumah sakit dan tuntutan perlindungan tenaga medis, temuan ini diharapkan menjadi pijakan bagi pemerintah, DPR, organisasi profesi, asosiasi rumah sakit, dan pemangku kepentingan lain. Arah akhirnya adalah membangun sistem hubungan kerja yang lebih pasti secara hukum, lebih melindungi tenaga medis, dan tetap menjaga kualitas pelayanan kesehatan nasional.

Source: www.medcom.id
Berita Terkait