Jawa Timur menatap peluang lebih besar dari sekadar menjaga produksi pangan di tengah tekanan cuaca. Pemerintah provinsi menilai surplus beras yang diproyeksikan bertahan hingga 2027 membuka ruang untuk melirik pasar luar negeri, termasuk Timur Tengah.
Peluang itu tidak berdiri sendiri. Di saat yang sama, Jatim tetap harus mengejar target luas tanam padi 2,43 juta hektare agar produksi beras tetap aman ketika ancaman kekeringan dan El Nino menekan pasokan pangan.
Surplus dan pasar ekspor
Khofifah Indar Parawansa menyebut produksi beras Jatim diproyeksikan surplus hingga 2027. Karena itu, pemerintah daerah mulai melihat kemungkinan pengiriman ke luar negeri bila kualitas dan kebutuhan pasar sesuai.
Salah satu pasar yang disorot adalah Arab Saudi. Khofifah mengatakan telah berkomunikasi dengan duta besar Arab Saudi untuk melihat kesesuaian kualitas sekaligus potensi pengiriman beras dari Jawa Timur.
Sinyal positif juga terlihat dari harga gabah di tingkat petani. Di wilayah Madiun, gabah kering panen berada di kisaran Rp 7.500 per kilogram.
Target tanam tetap dikejar
Di sisi produksi, percepatan tanam menjadi langkah utama untuk mengejar luas tanam padi 2,43 juta hektare. Pemerintah provinsi menempatkan strategi ini sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan daerah dan nasional.
Khofifah menilai laju tanam perlu terus digenjot agar hasil produksi tidak terganggu meski cuaca memberi tekanan. Modernisasi di lapangan juga didorong supaya produktivitas tetap terjaga dan kerja petani menjadi lebih efisien.
Pemprov Jatim memperkuat dukungan sarana produksi agar petani punya lebih banyak penopang saat menghadapi kondisi yang tidak pasti. Dorongan ini berjalan seiring dengan kebutuhan untuk menjaga pasokan tetap stabil.
Alsintan jadi tumpuan modernisasi
Peralatan pertanian modern menjadi salah satu fokus utama. Pemprov Jatim mendorong penggunaan transplanter, drone, dan combine harvester untuk mempercepat pekerjaan di lahan.
Langkah itu juga diarahkan agar sektor pertanian lebih menarik bagi generasi muda. Pemerintah provinsi menilai efisiensi produksi menjadi faktor penting supaya target tanam dan hasil panen bisa tetap terjaga.
Di Kabupaten Madiun, dukungan alat pertanian ikut memperkuat upaya tersebut. Sepanjang 2025, Pemkab Madiun menerima 14 unit alsintan dari Pemprov Jatim, mulai dari hand tractor, power weeder, cultivator, hingga combine harvester.
Peran penting Madiun
Madiun menjadi salah satu daerah kunci dalam menjaga produksi gabah Jawa Timur. Bupati Madiun Hari Wuryanto menegaskan wilayahnya memiliki peran strategis dalam ketahanan pangan provinsi.
Luas lahan sawah di Kabupaten Madiun saat ini lebih dari 32.418 hektare. Pada periode 2024–2025, daerah ini tercatat sebagai produsen beras terbesar ke-6 di Jawa Timur dengan rata-rata produksi sekitar 480.000 ton gabah kering giling.
Produktivitas pertanian di Madiun berada di kisaran 6,9 hingga 7,2 ton per hektare. Harga gabah kering panen di daerah itu juga tercatat berada di kisaran Rp 7.500 hingga Rp 7.700 per kilogram.
Dengan percepatan tanam, dukungan irigasi, dan modernisasi pertanian, target luas tanam 2,43 juta hektare tetap dibidik secara optimistis. Di tengah ancaman kekeringan, Jawa Timur berusaha menjaga posisinya sebagai lumbung pangan sekaligus menyiapkan jalan menuju pasar ekspor.
Source: www.beritasatu.com






