Motor Listrik Ini Irit Dan Bisa Dikontrol Dari HP, Tapi Bagian Bawahnya Mudah Gasruk

Author: Redaksi Android62

Hal yang paling cepat terasa dari Yadea Orla justru bukan fitur pintarnya, melainkan batasan bawah bodinya saat dipakai harian. Motor listrik ini disebut mudah gasruk ketika diajak menikung miring, terutama karena standar samping dan standar tengah posisinya sangat rendah.

Kondisi itu membuat Orla lebih cocok dipakai tenang di rute kota yang dominan datar. Bagi pengendara yang terbiasa bermanuver lebih agresif, bagian bawah motor bisa lebih cepat bersentuhan dengan aspal dan mengganggu rasa percaya diri.

Fitur pintar jadi pembeda utama

Di sisi lain, Orla punya daya tarik yang sulit diabaikan di kelasnya. Lewat aplikasi Yadea, motor ini bisa dinyalakan dan dimatikan dari ponsel hanya dengan menggeser layar, sementara posisi kendaraan juga bisa dipantau lewat GPS secara real-time.

Aplikasi tersebut juga menampilkan catatan perjalanan dan sisa baterai dengan cukup akurat. Untuk pengguna perkotaan, kombinasi ini membuat pengalaman memakai motor terasa lebih praktis dan modern.

Panel layar dan bantuan berkendara

Orla sudah dibekali panel instrumen TFT yang tampil tajam dan tetap mudah dibaca di bawah terik matahari. Informasinya juga cukup lengkap, mulai dari jam, odometer, sampai status TCS dan HDC.

Fitur HDC menjadi salah satu detail yang menonjol karena membantu menahan laju saat motor berada di turunan. Kehadiran fitur ini membuat motor terasa lebih mudah dikendalikan pada kondisi tertentu.

Nyaman untuk mobilitas kantor

Dari sisi ergonomi, posisi baterai yang ditempatkan di bawah bagasi memberi efek positif pada ruang kaki. Dek jadi terasa lebih rendah, sehingga posisi duduk tidak membuat pengendara seperti nangkring.

Dek yang luas juga berguna saat membawa barang bawaan. Dalam pemakaian harian, ruang ini masih bisa dimanfaatkan untuk barang cukup besar seperti galon air atau tabung gas.

Suspensi belakangnya juga disebut sangat empuk dan tetap stabil. Bahkan ketika menopang bobot pengendara yang cukup besar, karakter bantingannya masih dianggap mendukung kebutuhan harian.

Lampu utama Orla juga mendapat catatan positif karena dinilai sangat terang untuk ukuran motor listrik. Pencahayaan seperti ini membantu visibilitas saat motor dipakai malam hari.

Irit untuk komuter rutin

Untuk urusan biaya, Orla menawarkan efisiensi yang menarik bagi komuter. Dengan jarak tempuh sekitar 78 km pulang-pergi kantor, biaya listrik yang habis disebut tidak sampai Rp5.000 per hari.

Angka itu jelas jauh lebih murah dibanding motor berbensin. Dengan baterai lithium berkapasitas 45 Ah, Orla terasa relevan bagi pengguna yang ingin menekan ongkos transportasi harian.

Keuntungan itu bisa makin besar bila pemilik punya akses pengisian daya di kantor. Dalam skenario seperti itu, biaya perjalanan harian bahkan bisa ditekan hingga nol rupiah.

Performa yang masih menyisakan kompromi

Meski unggul di efisiensi dan fitur, performa Orla belum terasa meyakinkan di semua kondisi. Dinamo 1.500 watt yang dipakai motor ini disebut kurang kuat saat menghadapi tanjakan curam.

Dalam pengujian, kecepatan motor turun dari 34 km per jam menjadi 12 km per jam ketika mencapai puncak tanjakan. Hasil itu menunjukkan karakter Orla lebih pas untuk jalan kota yang rata daripada medan dengan kontur berat.

Di jalan datar, top speed-nya juga hanya berada di kisaran 70-an km per jam. Dengan harga mendekati Rp25 juta, angka tersebut dinilai belum terlalu memuaskan bagi pembeli yang mengejar performa lebih agresif.

Pada akhirnya, Yadea Orla paling menonjol sebagai motor listrik komuter yang mengandalkan teknologi, kenyamanan, dan biaya operasional rendah. Namun, batas ground clearance dan performanya di tanjakan tetap menjadi catatan penting sebelum memutuskan membeli.

Berita Terbaru