China Uji Turbin Terapung 16 Megawatt, Langkah Besar Menuju Angin Lepas Pantai Yang Lebih Dalam

Author: Redaksi Android62

Dengan kapasitas 16 megawatt dan diameter rotor hampir 830 kaki, Sanxia Linghang atau Three Gorges Pilot langsung mencuri perhatian sebagai turbin angin lepas pantai terapung unit tunggal terbesar di dunia. Ujung bilahnya juga menjulang lebih dari 885 kaki di atas permukaan air, membuat proyek ini menonjol bukan hanya karena ukurannya, tetapi juga karena ambisinya.

Yang membuatnya semakin penting adalah lokasi operasinya. Turbin ini tidak ditanam di dasar laut seperti turbin konvensional, melainkan mengapung di atas platform pada perairan sedalam 164 kaki, sebuah pendekatan yang membuka peluang pengembangan energi angin di wilayah laut dalam.

Desain untuk laut yang lebih ganas

Three Gorges Pilot dirancang untuk menghadapi kondisi ekstrem di laut lepas. Sistemnya dibuat agar tetap stabil saat diterpa gelombang setinggi 65 kaki dan angin hingga 164 mph, setara dengan badai topan Kategori 5.

Untuk menjaga posisi platform, China Three Gorges Corporation atau CTG memakai sistem tambat baru. Platform terapung seluas 79.000 kaki persegi itu ditahan oleh sembilan suction anchor dan sistem ballast otomatis yang membantu mempertahankan kestabilan.

Uji coba yang jadi penentu

CTG mulai menguji turbin tersebut bulan lalu. Tahap ini menjadi penting karena membawa teknologi terapung ke skala yang belum pernah dicapai satu turbin pun sebelumnya.

Listrik dari sistem ini disalurkan ke darat melalui kabel dinamis 66 kilovolt. Kabel itu harus bertahan terhadap suhu ekstrem, gerakan ombak, korosi air asin, dan tekanan mekanis lain yang muncul di lingkungan laut.

Potensi produksi listrik yang besar

Three Gorges Pilot diperkirakan menghasilkan 44,65 gigawatt-jam listrik per tahun. Jumlah itu cukup untuk memasok sekitar 24.000 rumah tangga berisi tiga orang selama setahun.

Selama fase pengujian, para insinyur kemungkinan memantau performa turbin, kestabilan platform, dan kinerja penyaluran daya. Hasilnya akan menjadi penentu apakah sistem ini bisa dijadikan dasar untuk ladang angin terapung yang lebih dalam dan lebih berombak.

Arah baru untuk angin lepas pantai

Teknologi terapung seperti ini dianggap bisa memperluas wilayah pengembangan energi angin lepas pantai. Dengan tidak bergantung pada dasar laut, proyek semacam ini dapat menjangkau area yang sebelumnya sulit dimanfaatkan oleh turbin tetap.

Ukuran yang besar juga membawa keuntungan tersendiri. Jumlah turbin dan komponen pendukung bisa lebih sedikit, sehingga instalasi dan pemeliharaan berpotensi lebih sederhana dan biaya bisa ditekan.

Rotor yang lebih besar pun memungkinkan penangkapan angin yang lebih banyak dalam satu putaran. Di area dengan lahan dangkal yang terbatas, satu unit besar dapat memberi daya lebih besar dibanding banyak turbin kecil yang tersebar di area yang sama.

Persaingan yang makin rapat

Pembangkit angin terapung di perairan dalam sebenarnya sudah lebih dulu hadir di sejumlah negara. Beberapa proyek yang sudah dikenal antara lain Hywind Scotland di Inggris, WindFloat Atlantic di Portugal, Hywind Tampen di Norwegia, dan Provence Grand Large di Prancis.

Namun, unit-unit pada proyek tersebut masih lebih kecil dibanding turbin 16 megawatt milik CTG yang kini diuji. Perbedaan skala ini membuat langkah China menjadi sorotan tersendiri dalam persaingan teknologi energi bersih.

Meski begitu, skala raksasa juga menyisakan tantangan. Transportasi dan pemasangan menjadi lebih sulit, terutama karena ukuran besar dan kondisi kerja di laut dalam yang berisiko.

Ada juga risiko lain jika satu unit besar mengalami gangguan. Dalam sistem seperti ini, kapasitas yang hilang langsung besar, berbeda dengan skema yang memakai lebih banyak turbin kecil.

Walau penuh tantangan, perkembangan ini menunjukkan arah baru bagi energi angin. Saat teknologi terapung makin matang dan keandalannya meningkat, perannya dalam peralihan dari bahan bakar fosil ke energi bersih tampak akan semakin besar.

Berita Terbaru