Mozilla menyiapkan langkah yang cukup berani lewat Project Nova, karena browser Firefox akan mendapat kontrol baru yang memungkinkan pengguna mematikan seluruh fitur terkait AI. Di tengah tren browser yang semakin berlomba menambah kecerdasan buatan, Mozilla justru menonjolkan kendali pengguna sebagai pembeda utama.
Perubahan ini tidak berhenti di sisi AI saja. Project Nova juga membawa pembaruan besar pada tampilan, privasi, dan pengalaman memakai Firefox di desktop maupun ponsel, dengan peluncuran yang dijadwalkan meluas pada akhir tahun.
Tampilan dibuat lebih rapi dan menyatu
Mozilla menyentuh banyak bagian antarmuka agar Firefox terasa lebih halus dan konsisten. Tab, ikon, jarak antar elemen, pilihan warna, menu, dan panel dirombak supaya tampilannya lebih menyatu di berbagai perangkat.
Bentuk tab kini dibuat lebih bulat dan lembut, lengkap dengan efek gradasi yang menonjolkan tab aktif. Palet warnanya juga berubah dari warna datar menjadi kombinasi ungu gelap berasap dan nuansa hangat yang lebih terang.
Di desktop, fitur yang berkaitan dengan pekerjaan juga dibuat lebih menonjol. Tab groups, vertical tabs, dan split view akan tampil lebih jelas, sementara Compact mode dihidupkan kembali untuk pengguna yang menyukai tata letak lebih rapat.
Privasi dibuat lebih mudah ditemukan
Selain tampilan, Mozilla juga merapikan bagian Settings agar pengaturan data lebih cepat dipahami. Built-in VPN access dan private browsing akan dibuat lebih terlihat di dalam antarmuka, sehingga pengguna tidak perlu mencari terlalu jauh.
Mozilla juga menyederhanakan bahasa untuk Enhanced Tracking Protection. Tujuannya agar perbedaan antara privasi dan kemudahan pakai terasa lebih jelas bagi pengguna.
Langkah ini memperkuat arah Firefox sebagai browser yang tidak hanya menambah fitur, tetapi juga memberi kontrol yang lebih tegas atas cara data diperlakukan. Mozilla ingin pengguna tetap leluasa menentukan pengalaman browsing tanpa merasa dipaksa mengikuti desain yang terlalu kompleks.
Ada tombol mati untuk fitur AI
Di saat banyak browser berlomba menambahkan fungsi berbasis AI, Mozilla mengambil posisi yang berbeda. Perusahaan itu menyiapkan kill switch khusus untuk mematikan semua fitur AI bila pengguna memilih demikian.
Pendekatan ini menjadi pembeda penting karena Mozilla tidak sekadar menambahkan AI sebagai pelengkap. Firefox justru diberi opsi untuk menarik rem penuh jika pengguna merasa fitur tersebut tidak dibutuhkan.
Dengan strategi itu, Mozilla tampak ingin menunjukkan bahwa integrasi AI tidak harus mengurangi kontrol atas browser. Fokusnya tetap pada privasi, pilihan pengguna, dan pengelolaan fungsi yang lebih transparan.
Pengalaman mobile ikut diselaraskan
Perubahan Project Nova juga menyentuh pengguna ponsel. Mozilla menyatukan pengalaman phone dan desktop lewat set warna, ikon, dan komponen desain dasar yang sama.
Selain itu, tema baru dan wallpaper sedang disiapkan untuk menambah opsi kustomisasi. Mozilla juga memberi sinyal bahwa pengguna akan mendapat kontrol yang lebih besar atas tampilan komponen antarmuka tertentu, termasuk bentuk tab, pada pembaruan berikutnya.
Performa ikut terdorong
Mozilla menyebut pemblokiran third-party trackers telah membantu menurunkan waktu muat konten halaman penting sebesar 9% dalam 12 bulan terakhir. Penjelasannya sederhana, karena makin sedikit skrip eksternal, makin sedikit pula kode yang harus diproses halaman.
Bagi Mozilla, hasil itu ikut menguatkan arah Project Nova. Pembaruan visual ini tidak hanya dimaksudkan agar Firefox terlihat lebih modern, tetapi juga untuk memberi pengalaman yang lebih cepat, rapi, dan mudah dikendalikan.
Bagi pengguna yang ingin melihat lebih awal, perubahan Nova sudah muncul di kanal eksperimental Firefox Nightly. Aktivasi dilakukan lewat about:config dengan membuat entri boolean baru bernama “browser.nova.enabled” lalu mengubahnya menjadi true sebelum browser dimulai ulang, meski kanal tersebut tetap berstatus prarilis dan bisa tidak stabil.







