Idgitaf kembali menarik perhatian lewat single baru berjudul Mungkin di Depan Buram. Lagu ini menampilkan arah bunyi yang lebih luas karena membawa warna country, namun tetap menjaga emosi khas yang selama ini melekat pada dirinya.
Sentuhan itu membuat lagu terasa hangat sejak awal, meski benang merahnya tetap berada di wilayah galau. Petikan gitar bernuansa sendu membuka ruang emosi sebelum meluncur ke melodi yang lebih ringan dan mudah diikuti.
Cinta, ragu, dan dorongan untuk bertahan
Di balik lagu ini, Idgitaf atau Gita menulis sendiri seluruh liriknya. Ia merangkai pengalaman batin tentang momen pertama merasakan cinta, terutama saat dua orang sama-sama berusaha melihat kebaikan dan mendorong versi terbaik dari diri masing-masing.
Gita mengakui bahwa rasa seperti itu tidak selalu mudah dipahami. Meski begitu, ada dorongan yang membuatnya terus berjalan, sehingga emosi yang hadir di lagu ini terasa lebih rumit daripada kisah romantis yang sederhana.
Lagu ini juga membawa unsur sedih, perjuangan, dan hujan yang ikut menguatkan suasana. Semua elemen tersebut membentuk karya yang terasa sangat personal, tetapi masih memberi ruang bagi pendengar untuk menafsirkan maknanya sendiri.
Rasa buram yang tetap menyisakan harapan
Jika didengar lebih dekat, Mungkin di Depan Buram justru bertumpu pada ketidakpastian. Liriknya menyentuh masa depan yang samar, arah yang belum jelas, dan hubungan yang berada dalam kondisi serba kabur.
Salah satu penggalan liriknya berbunyi, “Mungkin di depan buram/Mungkin di depan seram/Tapi tak bisa kubaca mana arahku/Yang tak berakhir selain di pelukanmu”. Kalimat itu memperlihatkan bahwa keraguan masih ada, tetapi harapan juga belum padam.
Di titik ini, lagu tidak berhenti pada rasa cemas. Idgitaf justru menempatkan kedekatan dua orang sebagai ruang untuk tetap bertahan, bahkan ketika kepastian belum hadir dan keadaan masih sulit dibaca.
Warna country yang memberi napas baru
Dari sisi aransemen, lagu ini digarap bersama Michael Rodovan dan Ricco. Kehadiran warna country menjadi pembeda penting karena memberi identitas baru tanpa melepaskan karakter emosional Idgitaf.
Warna musik tersebut membuat lagu terasa lebih luas secara rasa. Di satu sisi ada kesan sendu yang kuat, tetapi di sisi lain ada energi yang membuatnya terdengar lebih hidup dan tidak tenggelam dalam kesedihan semata.
Eksplorasi ini juga menunjukkan bahwa Idgitaf tidak sekadar mengulang formula lama. Ia memilih jalur yang masih dekat dengan kekuatan utamanya, tetapi membuka ruang yang lebih segar melalui pilihan bunyi dan nuansa yang berbeda.
Arah menuju album berikutnya
Idgitaf menyebut Mungkin di Depan Buram sebagai bagian dari fase menuju album yang akan dirilis dalam waktu dekat. Dengan begitu, single ini tidak berdiri sendiri, melainkan ikut memberi penanda arah musikal yang sedang ia bangun.
Gita juga memberi sinyal bahwa lagu ini dapat dibaca sebagai pengantar untuk album penuh keduanya. Album mendatang dikabarkan akan membawa pendekatan yang berbeda dari karya sebelumnya, terutama dalam eksplorasi tema cinta dan dialog batin dengan diri sendiri.
Dengan basis 15,2 juta pendengar bulanan di Spotify, ruang untuk mengenalkan eksperimen ini terbuka lebar. Melalui Mungkin di Depan Buram, Idgitaf memperlihatkan bahwa galau tetap bisa terdengar jujur ketika dibawa ke warna yang lebih segar dan tetap dekat dengan pendengarnya.
Source: lifestyle.bisnis.com






