Nama PCOS Akan Berganti Menjadi PMOS, Diagnosis Tertunda Kini Lebih Diwaspadai

Author: Redaksi Android62

Banyak perempuan tidak menyadari bahwa keluhan yang mereka alami bisa berkaitan dengan gangguan yang lebih luas dari sekadar masalah pada ovarium. Pada kondisi yang selama ini dikenal sebagai PCOS, gejala yang muncul sering menyentuh siklus haid, kesuburan, metabolisme, hingga perubahan fisik dan emosional.

Karena itulah sindrom ovarium polikistik kini diusulkan resmi berganti nama menjadi polyendocrine metabolic ovarian syndrome atau PMOS. Nama baru ini dinilai lebih tepat untuk menggambarkan kondisi yang tidak hanya berhubungan dengan ovarium, tetapi juga melibatkan hormon, metabolisme, dan banyak organ tubuh.

Perubahan istilah tersebut lahir dari konsensus global yang melibatkan ribuan pasien dan tenaga kesehatan dari berbagai negara. Tim peneliti menilai nama lama terlalu menonjolkan istilah “polycystic ovary”, sehingga banyak orang mengira kondisi ini selalu identik dengan kista ovarium.

Padahal, tidak semua penderita memiliki kista ovarium. Fokus pada ovarium juga dianggap membingungkan karena penyakit ini memiliki cakupan yang jauh lebih luas dan kerap membuat pasien terlambat mendapatkan diagnosis.

Gejala yang kerap tidak disadari

PMOS dapat muncul dengan gejala yang beragam, sehingga keluhannya sering tidak langsung dikenali. Pada sebagian orang, masalah paling terlihat ada pada reproduksi, tetapi pada yang lain justru tampak dari perubahan metabolik atau fisik sehari-hari.

Keluhan yang umum ditemukan antara lain siklus menstruasi tidak teratur, sulit hamil, berat badan mudah naik, jerawat, kulit berminyak, rambut menipis atau rontok, serta tumbuh rambut berlebih di wajah atau tubuh. Penderita juga bisa merasa mudah lelah, mengalami gangguan gula darah dan kolesterol, hingga mengalami depresi, kecemasan, dan gangguan tidur.

Variasi gejala inilah yang membuat banyak perempuan tidak menyadari kondisi yang dialami sejak awal. Akibatnya, diagnosis sering tertunda meski tanda-tandanya sudah muncul dalam bentuk yang berbeda-beda.

Bukan hanya soal haid dan ovarium

PMOS digambarkan sebagai gangguan multisistem yang memengaruhi hormon, metabolisme, dan fungsi ovarium secara bersamaan. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada menstruasi yang tidak lancar atau ovulasi yang tidak teratur, tetapi juga bisa memengaruhi kesehatan tubuh secara menyeluruh.

Kondisi ini juga dikaitkan dengan obesitas, diabetes tipe 2, hipertensi, kolesterol tinggi, dan penyakit jantung. Peneliti menyebut sekitar 85 persen penderita PMOS mengalami resistensi insulin, yaitu kondisi ketika tubuh kesulitan mengontrol gula darah dan gangguan hormon dapat semakin memburuk.

Karena hubungan antargejalanya cukup luas, istilah baru dinilai lebih cocok untuk menjelaskan kenyataan klinis yang dialami pasien. Ketua peneliti dari Monash University Australia, Prof. Helena J. Teede, menilai perubahan nama dibutuhkan agar diagnosis dan penanganan menjadi lebih tepat.

Proses panjang menuju PMOS

Nama baru ini tidak muncul secara tiba-tiba. Proses penyusunannya melibatkan 56 organisasi akademik, klinis, dan komunitas pasien dari berbagai negara, disertai survei global terhadap 14.360 responden dari kalangan pasien dan tenaga kesehatan multidisiplin.

Selain survei, penetapan nama juga ditempuh melalui workshop internasional dan diskusi ilmiah bertahap. PMOS dipilih berdasarkan sejumlah prinsip, termasuk akurat secara ilmiah, mudah dipahami, tidak menimbulkan stigma, dan mudah diterapkan dalam sistem kesehatan global.

Tim peneliti menilai pendekatan ini penting agar komunikasi antara pasien dan tenaga medis menjadi lebih jelas. Nama baru juga diharapkan membantu mengurangi stigma yang selama ini melekat pada penderita.

Dampak pada layanan dan diagnosis

Perubahan istilah ini diharapkan tidak hanya memperbaiki pemahaman publik, tetapi juga mempercepat diagnosis. Selama ini, nama PCOS dinilai terlalu sempit karena lebih menonjolkan ovarium, padahal gangguan ini juga menyangkut aspek endokrin dan metabolik.

Dengan istilah yang lebih tepat, pelayanan kesehatan diharapkan bisa lebih menyeluruh. Penanganan pasien dapat lebih fokus pada risiko jangka panjang, termasuk gangguan gula darah, tekanan darah, dan kesehatan mental.

Perubahan dari PCOS ke PMOS akan dilakukan bertahap selama tiga tahun. Setelah itu, istilah PMOS akan dimasukkan ke sistem klasifikasi penyakit internasional milik WHO dan digunakan dalam pembaruan pedoman internasional penanganan penyakit pada 2028.

Dalam publikasi di The Lancet, tim peneliti menulis bahwa nama lama tidak mencerminkan kompleksitas penyakit ini. Mereka juga menegaskan bahwa perubahan nama ini ditujukan untuk meningkatkan kesadaran, mempercepat diagnosis, dan memperbaiki kualitas hidup pasien di seluruh dunia.

Source: lifestyle.bisnis.com
Berita Terbaru