Akmal Marhali menilai naturalisasi pemain belum menyelesaikan persoalan mendasar dalam sepak bola Indonesia. Pengamat sepak bola itu menyebut kebijakan tersebut sebagai jalan instan yang tidak menjawab akar masalah di level pembinaan dan kompetisi.
Pernyataan itu kembali mencuat setelah Mitchell Baker resmi menjadi Warga Negara Indonesia pada Senin, 13 Juli 2026. Di tengah kritiknya terhadap kebijakan naturalisasi PSSI, Akmal tetap menyampaikan ucapan selamat dan berharap penyerang berusia 19 tahun itu mampu memberi kontribusi terbaik untuk Timnas Indonesia.
Naturalisasi Dinilai Belum Berhasil Mengangkat Prestasi
Kepada Medcom.id, Akmal menyebut jumlah pemain yang telah dinaturalisasi di sepak bola Indonesia sudah mendekati 50 orang. Namun, menurut dia, angka itu belum berbanding lurus dengan prestasi yang diraih tim nasional.
“Saya konsisten menyatakan bahwa naturalisasi adalah delusi karena merupakan jalan instan. Faktanya, hampir 50 pemain telah dinaturalisasi dalam konteks sepak bola, tetapi proses itu belum sejalan dengan prestasi yang diraih,” kata Akmal pada Senin (13/7/2026).
Ia menegaskan bahwa masalah utama justru masih berada pada pembinaan usia muda dan ekosistem sepak bola nasional. Karena itu, Akmal meminta perhatian lebih besar diarahkan pada kompetisi yang sehat dan pembinaan yang berkelanjutan.
Tak Sepakat Disamakan dengan Maroko
Akmal juga menolak perbandingan naturalisasi Indonesia dengan Maroko. Menurut dia, kedua negara memiliki sistem kewarganegaraan dan mekanisme pembinaan sepak bola yang berbeda, sehingga keberhasilan satu negara tidak bisa langsung dijadikan pembanding untuk negara lain.
Indonesia menganut kewarganegaraan tunggal berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006. Dalam aturan itu, naturalisasi pada dasarnya dilakukan melalui jalur umum dengan syarat menetap di Indonesia selama lima tahun berturut-turut atau 10 tahun tidak berturut-turut.
Sementara itu, naturalisasi di sektor olahraga umumnya dilakukan melalui mekanisme khusus. Perbedaan itulah yang membuat Akmal menilai penyamaan kasus Indonesia dan Maroko kurang tepat.
Peringatan Soal Jalan Pintas
Akmal menilai jalan pintas dalam membangun tim nasional berisiko memunculkan masalah baru. Ia bahkan menyebut keberhasilan sesaat tidak akan bertahan lama bila fondasi pembinaan dan kompetisi tidak dibenahi.
“Jadi menurut saya, dinaturalisasinya Michael Becker tidak kemudian secara serta-merta menyelesaikan masalah fundamental sepak bola Indonesia, mulai dari ekosistemnya, pembinaannya, sampai kemudian kompetisinya,” jelas Akmal.
Ia menambahkan, “Karena jalan pintas biasanya tidak seelok yang kita harapkan. Biasanya akan memunculkan dua masalah. Kalau sukses pasti dianggap sebuah kesuksesan, tapi itu pun tidak akan lama.”
Selamat untuk Mitchell Baker
Meski bersikap kritis, Akmal tetap memberi selamat kepada Mitchell Baker atas status barunya sebagai WNI. Ia berharap pemain muda itu dapat membuktikan kualitasnya dan memberi kontribusi nyata untuk sepak bola Indonesia.
Akmal juga kembali menekankan perlunya PSSI membenahi kompetisi dan pembinaan usia muda secara serius. Menurut dia, dua hal itu merupakan fondasi utama untuk membangun tim nasional yang kuat, bukan sekadar mengandalkan naturalisasi sebagai solusi cepat.
| Fakta | Keterangan |
|---|---|
| Status Mitchell Baker | Resmi menjadi Warga Negara Indonesia pada Senin, 13 Juli 2026 |
| Pandangan Akmal | Naturalisasi dinilai sebagai jalan instan yang belum menyelesaikan masalah fundamental |
| Fokus pembenahan | Pembinaan usia muda, kompetisi, dan ekosistem sepak bola nasional |
Di tengah perdebatan soal naturalisasi, Akmal menempatkan pembenahan dasar sepak bola nasional sebagai prioritas utama. Baginya, tim nasional yang kuat hanya bisa lahir dari pembinaan yang baik dan kompetisi yang sehat.
Source: www.medcom.id






