Nintendo kini berada di titik yang membuat keputusan harga Switch 2 terasa semakin sensitif. Di satu sisi, investor mendesak agar harga konsol itu dinaikkan untuk menghadapi biaya produksi yang terus membengkak, tetapi di sisi lain langkah tersebut berisiko mengganggu minat beli di fase awal penjualan.
Tekanan itu muncul karena pasar elektronik sedang bergerak ke arah yang makin mahal. Bloomberg melaporkan bahwa para investor melihat harga Switch 2 belum cukup tinggi untuk menutup beban produksi yang ikut terdorong naik oleh kondisi industri saat ini.
Harga awal yang jadi sorotan
Saat diluncurkan, Switch 2 dibanderol 449 dolar AS atau sekitar Rp7,3 juta untuk model standar. Nintendo juga menyiapkan paket bundel bersama Mario Kart World seharga 499 dolar AS atau setara Rp8,1 juta.
Setelah itu, Nintendo menambah pilihan lain, termasuk bundel game Pokemon Legends: Z-A. Namun, penambahan paket tersebut belum menghapus pertanyaan utama dari pasar, yaitu apakah harga dasar Switch 2 masih cukup kuat untuk bertahan di tengah tekanan biaya.
Biaya produksi ikut terjepit kondisi global
Kenaikan biaya di sektor elektronik tidak datang dari satu sumber saja. Tarif impor, kelangkaan komponen memori akibat tingginya permintaan teknologi kecerdasan buatan, serta konflik perang Iran disebut ikut menekan harga di industri teknologi dan video game.
Tekanan serupa juga sudah dirasakan para pesaing Nintendo. Sony dan Microsoft lebih dulu menaikkan harga perangkat mereka di sejumlah negara, termasuk PlayStation 5 di beberapa pasar internasional serta Xbox Series X dan Series S di Amerika Utara sepanjang tahun terakhir.
Perubahan itu memperlihatkan arah baru di industri game. Harga konsol yang dulu cenderung turun seiring waktu kini justru bergerak naik, meski perangkatnya sudah lama beredar di pasar.
Investor menilai masih ada ruang untuk naik
Bloomberg menyebut investor masih melihat ruang bagi Nintendo untuk menaikkan harga Switch 2 tanpa langsung menghilangkan daya tariknya di pasar. Pandangan itu muncul karena penjualan konsol tersebut masih sangat kuat, bahkan disebut melampaui capaian Switch generasi pertama pada periode yang sama.
Meski begitu, pasar juga memahami risikonya. Kenaikan harga bisa memengaruhi minat konsumen, terutama karena Switch 2 masih berada pada fase awal pertumbuhan penjualan dan masih sangat bergantung pada momentum.
Kinerja bisnis belum sepenuhnya meredakan tekanan
Di luar persoalan harga konsol, Nintendo sebenarnya masih mencatat hasil yang positif. Game Pokemon Pokopia yang dirilis pada Maret 2026 dilaporkan terjual 2,2 juta unit hanya dalam empat hari pertama.
Film The Super Mario Galaxy Movie juga menjadi film dengan pendapatan tertinggi sepanjang 2026 sejauh ini. Namun, kinerja bisnis itu belum cukup menenangkan pasar karena saham Nintendo turun dalam lima bulan terakhir setelah sempat menyentuh posisi tertinggi pada Agustus tahun lalu.
Laporan keuangan bisa memberi petunjuk baru
Nintendo dijadwalkan merilis laporan keuangan terbaru pada Jumat mendatang, dan investor menunggu sinyal apakah perusahaan akan mulai menyesuaikan harga Switch 2. Bloomberg menulis bahwa jika belum ada pengumuman kenaikan harga, pasar akan melihat apakah laporan pendapatan itu cukup untuk meredakan kekhawatiran investor.
Spekulasi soal kenaikan harga sebenarnya sudah muncul sejak Switch 2 diperkenalkan. Beberapa mantan pegawai Nintendo juga sempat memperkirakan perusahaan pada akhirnya akan menaikkan harga konsol tersebut.
Nintendo sendiri sebelumnya pernah menaikkan harga sejumlah aksesori seperti Pro Controller dan amiibo setelah pengumuman resmi Switch 2 tahun lalu akibat dampak tarif impor. Di saat yang sama, perusahaan tetap menahan harga utama konsol agar tetap kompetitif, dan keputusan itu kini makin sulit karena Nintendo sedang berusaha menjaga momentum pertumbuhan Switch 2.
Source: id.mashable.com