Nonmigas Terseret Turun 15,14 Persen, Libur Lebaran Dan Geopolitik Menekan Impor Maret

Author: Redaksi Android62

Total impor Indonesia pada Maret tercatat US$ 19,21 miliar, turun 8,08 persen dibanding bulan sebelumnya. Namun, bila dilihat secara tahunan, angka itu masih naik 1,51 persen dibanding Maret 2025, sehingga pelemahan bulanan belum menghapus tren pertumbuhan yang masih terbentuk.

Barang modal ikut melemah tajam

Penurunan pada Maret paling terasa di kelompok barang modal, yang terkoreksi 15,75 persen. Setelah itu, impor barang konsumsi turun 11,64 persen, sementara bahan baku dan penolong menyusut 5,21 persen secara bulanan.

Pola ini menunjukkan pelemahan terjadi hampir di seluruh kelompok penggunaan barang. Di saat yang sama, dunia usaha tampak lebih berhati-hati dalam memasuki periode libur panjang.

Nonmigas tertekan, migas justru melonjak

Penyusutan terbesar datang dari impor nonmigas yang terkontraksi 15,14 persen. Sebaliknya, impor migas justru naik 58,73 persen, sehingga pergerakan impor pada Maret terlihat tidak seragam antar kelompok barang.

Menteri Perdagangan Budi Santoso menyebut libur panjang Idulfitri, tekanan geopolitik di Timur Tengah, dan melemahnya permintaan domestik sebagai faktor yang menekan kinerja impor bulan itu. Kondisi Idulfitri juga kerap menahan aktivitas produksi, pengiriman, dan pembelian bahan baku di dalam negeri.

Awal tahun masih menunjukkan pertumbuhan

Meski Maret melemah, total impor Indonesia sepanjang Januari–Maret 2026 masih mencapai US$ 61,30 miliar. Angka itu naik 10,05 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, menandakan kinerja awal tahun masih solid.

Kenaikan kumulatif tersebut terutama ditopang impor nonmigas yang tumbuh 12,16 persen. Sementara itu, impor migas masih turun 1,72 persen selama tiga bulan pertama tahun ini.

Seluruh komponen tetap tumbuh dalam tiga bulan

Berdasarkan golongan penggunaan barang, seluruh komponen impor tetap mencatat pertumbuhan selama Januari–Maret 2026. Barang modal tumbuh paling tinggi sebesar 24,02 persen, disusul bahan baku dan penolong 6,89 persen, serta barang konsumsi 6,12 persen.

Kenaikan barang modal antara lain didorong kebutuhan atas telepon pintar, komputer, dan pesawat terbang. Data ini memperlihatkan bahwa kebutuhan industri dan konsumsi masih memberi dorongan penting pada impor di awal tahun.

Sejumlah komoditas mencatat lonjakan tajam

Dari sisi komoditas, kendaraan udara dan bagiannya menjadi salah satu pendorong terbesar dengan kenaikan impor nonmigas 546,55 persen. Lonjakan lain datang dari garam, belerang, batu, dan semen yang naik 71,95 persen.

Impor bijih logam, terak, dan abu tumbuh 60,64 persen. Logam mulia, perhiasan, dan permata naik 44,71 persen, sementara produk kimia mencatat kenaikan 36,31 persen.

Asal pasokan makin beragam

China, Australia, dan Jepang masih menjadi tiga negara asal utama impor nonmigas Indonesia. Ketiganya menyumbang gabungan 52,97 persen dari total impor nonmigas.

Di luar negara utama tersebut, pertumbuhan paling tinggi justru datang dari sumber yang lebih beragam. Meksiko mencatat lonjakan 383,37 persen, disusul Spanyol 177,70 persen dan Oman 138,90 persen secara kumulatif.

Budi Santoso menegaskan pemerintah tetap berupaya menjaga momentum perdagangan sambil memperkuat ketahanan sektor domestik. Pemerintah juga akan terus memperluas pasar dan menyesuaikan kebijakan dengan dinamika global agar stabilitas industri dalam negeri tetap terjaga.

Source: www.beritasatu.com
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru