Di tengah ketatnya pasar kerja teknologi Amerika Serikat, Nvidia justru mengambil arah yang berbeda. Perusahaan pembuat chip AI itu memperoleh sertifikasi untuk sekitar 1.200 posisi H-1B selama dua kuartal pertama fiskal 2026, naik dari sekitar 1.000 pada periode yang sama tahun lalu.
Langkah itu kontras dengan Google dan Amazon, yang sama-sama memangkas persetujuan perekrutan H-1B. Di saat dua nama besar tersebut melambat, persaingan untuk mendapatkan sponsor visa di perusahaan teknologi papan atas ikut terasa makin keras.
Bagi banyak profesional India, perubahan ini bukan sekadar angka di atas kertas. Mereka selama ini sangat bergantung pada jalur sponsor H-1B untuk masuk ke pasar kerja teknologi Amerika Serikat, sehingga setiap pengetatan dari perusahaan besar langsung mempersempit peluang.
Data pengajuan federal menunjukkan Google hanya mencatat sekitar 2.200 persetujuan H-1B pada kuartal kedua tahun ini. Angka itu turun tajam dibanding sekitar 5.100 persetujuan pada periode yang sama setahun sebelumnya.
Amazon juga mengalami penurunan yang jelas. Persetujuan H-1B perusahaan itu turun dari sekitar 6.100 menjadi 4.300, sehingga jika digabung dengan Google, penurunannya mencapai sekitar 2.900 posisi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pasar yang makin selektif
Penurunan di dua perusahaan besar itu memberi sinyal bahwa perekrutan tenaga kerja asing di sebagian industri teknologi AS sedang melambat. Kondisi tersebut bukan hanya memangkas lowongan, tetapi juga membuat setiap kursi yang tersisa diperebutkan lebih banyak kandidat.
Tekanan itu datang bersamaan dengan kebijakan imigrasi AS yang makin ketat. Dalam situasi seperti ini, perusahaan yang sebelumnya sangat bergantung pada pekerja H-1B cenderung lebih berhati-hati saat memberi sponsor.
Tahun lalu, pemerintahan Trump memperkenalkan biaya pengajuan visa H-1B sebesar $100,000. Kebijakan itu dimaksudkan untuk mencegah perusahaan lebih mengutamakan pekerja asing dibanding tenaga kerja yang lahir di AS.
Biaya dan proses yang membuat pelamar tertekan
Menurut Menteri Keamanan Dalam Negeri Markeayne Mullin, ada 286.000 pelamar visa H-1B secara year-to-date. Dari jumlah itu, lebih dari 200.000 memilih membayar biaya $100,000 agar proses pengajuan bisa dipercepat.
Mullin mengatakan jalur tersebut memungkinkan pemrosesan dalam sekitar 15 hari. Sementara itu, pelamar lain tetap harus menghadapi waktu tunggu yang jauh lebih lama, sehingga ketidakpastian bagi pekerja asing ikut bertambah.
Beban terbesar terasa pada profesional India karena mereka menyumbang lebih dari 70 persen visa H-1B yang disetujui. Saat sponsor dari perusahaan besar menyusut, ruang gerak mereka untuk masuk atau bertahan di pasar kerja AS ikut mengecil.
Nvidia memberi sinyal berbeda
Di saat Google dan Amazon menahan laju, Nvidia justru menunjukkan ekspansi. Perekrutan perusahaan itu mencakup rekayasa perangkat keras, pengembangan perangkat lunak, serta posisi yang berhubungan langsung dengan pelanggan untuk membantu implementasi sistem AI.
Permintaan global terhadap infrastruktur AI ikut menopang langkah tersebut. Kenaikan harga saham Nvidia juga disebut memperkuat paket kompensasi, dengan insentif ekuitas menjadi daya tarik besar bagi pekerja terampil.
Dokumen federal hanya menampilkan gaji pokok, bukan kompensasi berbasis saham atau bonus. Meski begitu, data itu tetap memperlihatkan upaya Nvidia menarik talenta terbaik dari pasar global.
CEO Nvidia Jensen Huang, yang lahir di Taiwan, sebelumnya pernah menegaskan pentingnya imigran bagi misi perusahaan. Sikap itu memperkuat kesan bahwa Nvidia masih terbuka terhadap tenaga kerja internasional ketika sebagian perusahaan lain mulai menahan sponsor.
Kekhawatiran belum sepenuhnya hilang
Tekanan di pasar kerja ini juga bertemu dengan kekhawatiran yang lebih luas soal aturan imigrasi AS. Awal tahun ini, usulan perubahan pada aturan pemrosesan green card sempat memicu kekhawatiran bahwa pemegang H-1B harus meninggalkan AS dan menyelesaikan proses residensi permanen dari negara asal mereka.
Kekhawatiran itu kemudian mereda setelah US Citizenship and Immigration Services memberi klarifikasi. Lembaga itu menyatakan pekerja yang pekerjaannya memberi manfaat ekonomi atau melayani kepentingan nasional masih dapat diizinkan tetap berada di AS saat menjalani proses menuju residensi permanen.
Bagi profesional India, penjelasan tersebut penting karena kelompok ini mendominasi penerima H-1B yang disetujui. Namun dengan turunnya persetujuan di Google dan Amazon, jalur menuju perusahaan teknologi besar kini terlihat jauh lebih ketat, sementara ruang yang tersisa justru lebih terlihat di perusahaan seperti Nvidia.
Source: www.indiatoday.in






