Nyeri akibat cacar api tidak selalu selesai saat ruam di kulit menghilang. Pada sebagian penderita, rasa sakit bisa menetap dan tetap mengganggu aktivitas harian meski tampilan kulit sudah membaik.
Kondisi itu membuat herpes zoster perlu dipandang lebih serius, terutama pada orang dengan daya tahan tubuh lemah. Dampaknya bukan hanya soal keluhan kulit, tetapi juga soal kemampuan bekerja, beristirahat, dan menjalani rutinitas seperti biasa.
Risiko lebih besar pada kelompok tertentu
Cacar api atau herpes zoster dapat menyerang 1 dari 3 orang dewasa sepanjang hidupnya. Risiko ini meningkat pada orang dengan kondisi immunokompromi, termasuk penderita HIV/AIDS, pasien kanker, dan orang dengan penyakit autoimun.
dr. Nurwestu Rusetiyanti, M.Kes., Sp.D.V.E., Subsp.Ven., anggota PERDOSKI, menjelaskan bahwa usia lanjut, riwayat keluarga herpes zoster, dan jenis kelamin perempuan juga termasuk faktor yang membuat seseorang lebih rentan. Sejumlah penyakit kronis seperti jantung, diabetes, gangguan ginjal, PPOK, dan asma ikut memperbesar peluang terkena herpes zoster.
Pada kondisi tertentu, risiko tersebut bahkan dapat meningkat lebih dari dua kali lipat. Karena itu, cacar api bukan sekadar ruam sementara bagi kelompok rentan, melainkan ancaman yang bisa memicu gangguan lebih berat.
Nyeri bisa menetap setelah kulit sembuh
Sekitar 42% penderita melaporkan nyeri hebat yang mengganggu aktivitas, termasuk setelah ruam sembuh. Nyeri berkepanjangan ini dikenal sebagai neuralgia pasca-herpetik dan dapat menurunkan kualitas hidup secara signifikan.
Sebanyak 33% penderita juga mengaku produktivitas mereka terdampak. Artinya, herpes zoster dapat ikut mengganggu kemampuan seseorang untuk bekerja dan menjalani kegiatan harian.
Survei global GSK memperlihatkan bahwa kekhawatiran ini memang terasa di kalangan pasien. Sebanyak 78% orang dewasa dengan penyakit kronis khawatir cacar api mengganggu aktivitas harian mereka, sementara 72% cemas harus menjalani rawat inap jangka panjang.
Beban kasus dan biaya di Indonesia
Di Indonesia, data periode 2015–2022 mencatat sekitar 390.000 kasus cacar api di berbagai provinsi besar. Angka tersebut menunjukkan bahwa herpes zoster masih menjadi persoalan kesehatan yang nyata dan tidak bisa diabaikan.
Beban ekonominya juga cukup besar. Biaya rawat inap dapat mencapai hingga Rp10 juta per kasus, sedangkan total pembiayaan oleh BPJS Kesehatan pada 2021 menyentuh Rp27,1 miliar.
Kesadaran publik masih perlu ditingkatkan
Meski risikonya tinggi, pemahaman masyarakat tentang cacar api masih tertinggal. Satu dari empat orang masih percaya penyakit kronis yang dimilikinya tidak memengaruhi sistem imun atau risiko cacar api.
Reswita Dery Gisriani dari GSK Indonesia menegaskan bahwa banyak orang belum menyadari hubungan antara penyakit kronis dan lemahnya sistem kekebalan tubuh. Situasi ini menjadi lebih kompleks seiring bertambahnya usia karena imunitas juga menurun secara alami.
Komunikasi dengan dokter menjadi penting agar risiko bisa dikenali sejak dini. Namun, 54% responden dalam survei GSK belum pernah membicarakan risiko cacar api dengan dokter.
Kondisi tersebut menunjukkan masih ada jarak antara kekhawatiran pasien dan langkah pencegahan yang semestinya bisa dibahas lebih awal. Membicarakan cacar api berarti memahami risiko sebelum penyakit berkembang lebih jauh, terutama bagi orang dewasa dengan penyakit kronis.
Source: www.suara.com






