Lintasarta mendorong pendekatan baru untuk membantu bank menghadapi serangan siber yang semakin mahal. Perusahaan ini tidak lagi memandang keamanan sebagai satu solusi tunggal, melainkan sebagai rangkaian layanan yang saling terhubung melalui konektivitas, cloud, cybersecurity, dan collaboration.
Dorongan itu muncul di tengah percepatan transformasi digital perbankan. Di satu sisi, bank mendapat peluang pertumbuhan yang besar, tetapi di sisi lain permukaan serangan ikut melebar dan menuntut ketahanan operasional yang jauh lebih kuat.
4C jadi kerangka utama
President Director & CEO Lintasarta Armand Hermawan menjelaskan bahwa perusahaan hadir sebagai enabler transformasi digital lewat kerangka layanan 4C. Empat unsur itu terdiri atas Connectivity, Cloud, Cybersecurity, dan Collaboration yang dirancang sebagai satu kesatuan untuk sektor perbankan.
Armand menilai ketahanan operasional digital tidak bisa dibangun secara terpisah-pisah. Deteksi, respons, dan pemulihan ancaman harus berjalan secara real time karena serangan siber kini bergerak seiring tuntutan era AI.
Lintasarta juga ingin diposisikan lebih dari sekadar penyedia infrastruktur. Perusahaan itu menempatkan diri sebagai mitra teknologi yang membantu bank membangun ketahanan operasional yang adaptif di tengah perubahan digital yang cepat.
Risiko siber tak lagi sekadar masalah teknis
Menurut Lintasarta, kebutuhan bank tidak bisa dijawab secara parsial. Konektivitas, cloud, keamanan siber, AI cyber, dan kolaborasi AI perlu disusun sebagai satu bundel agar manfaatnya maksimal bagi industri.
Pendekatan ini juga sejalan dengan kondisi ancaman yang makin kompleks. Karena itu, perlindungan bank tidak cukup hanya mengandalkan satu lapisan teknologi, tetapi memerlukan integrasi layanan yang menyeluruh.
Chief CyberSecurity Officer Lintasarta Wahyu Anggoro Adi menyoroti tantangan umum yang kerap muncul, yakni dari mana harus memulai pengamanan sistem digital dan seberapa besar investasi yang dibutuhkan. Untuk menjawab itu, Lintasarta menawarkan metodologi yang mengubah risiko siber yang bersifat kualitatif menjadi kuantitatif.
Metode tersebut membantu perusahaan memahami jenis risiko, besarnya ancaman, dan dampak finansial yang mungkin timbul. Setelah prioritasnya jelas, perusahaan dapat memilih solusi yang paling sesuai dengan tingkat risikonya.
Wahyu mencontohkan phishing sebagai ancaman yang dapat memicu kerugian besar. Dengan kerangka yang tepat, perusahaan bisa menentukan strategi mitigasi yang paling efektif sesuai profil risikonya.
Tekanan regulasi dan pengawasan ikut meningkat
Dari sisi industri, Wakil Ketua Umum Perbanas Hendra Lembong menilai digitalisasi yang semakin luas otomatis memperbesar risiko yang harus dikelola. Ia menekankan bahwa risiko siber kini tidak bisa lagi dipandang sebagai persoalan teknis semata.
Menurut Hendra, risiko tersebut juga menyentuh bisnis, operasional, reputasi, dan kepercayaan publik terhadap industri perbankan. Karena itu, penguatan keamanan siber menjadi bagian penting dari keberlangsungan usaha bank.
Otoritas Jasa Keuangan juga memperkuat arah tersebut lewat POJK Keamanan Siber. Bank umum dan lembaga jasa keuangan wajib memiliki sistem manajemen keamanan informasi, termasuk audit keamanan berkala dan pelaporan insiden maksimal 3×24 jam kepada regulator.
Tekanan perlindungan data ikut naik seiring penerapan UU Pelindungan Data Pribadi. Aturan itu memuat ancaman sanksi administratif hingga 2% dari pendapatan tahunan perusahaan, sehingga perlindungan data nasabah menjadi isu yang semakin strategis.
Deputi Komisioner Pengaturan, Perizinan, dan Pengendalian Kualitas OJK Deden Firman Hendarsyah mengatakan OJK bergerak ke arah supervisory technologies. Tujuannya agar industri keuangan tetap bisa bertransformasi, sementara pengawasan tetap berjalan dengan baik.
Lintasarta perkuat posisi di ekosistem perbankan
Melalui CXO Forum Banking Update 2026, Lintasarta kembali menegaskan dukungannya terhadap transformasi digital sektor keuangan. Dukungan itu mencakup penguatan infrastruktur, keamanan siber, dan pemanfaatan AI yang terintegrasi.
Armand mengatakan Lintasarta ingin menjadi bagian dari ekosistem perbankan agar ketahanan siber industri semakin kuat menghadapi tantangan yang ada. Ia juga menegaskan bahwa perusahaan memiliki solusi yang menyeluruh dan dibangun untuk tumbuh bersama mitra yang dipercaya.
Lintasarta memposisikan diri sebagai Beyond AI Factory dengan layanan terintegrasi 4C. Perusahaan itu menyatakan komitmennya menjadi mitra teknologi jangka panjang bagi industri perbankan Indonesia untuk mendukung pertumbuhan yang aman, berdaulat, dan berkelanjutan menuju visi Indonesia Emas 2045.
Source: www.cnbcindonesia.com