Penggunaan bensin dengan oktan yang tidak sesuai bisa membuat mesin bekerja lebih berat dari seharusnya. Dalam jangka panjang, kondisi ini bukan hanya menurunkan kenyamanan berkendara, tetapi juga berpotensi menambah beban biaya perawatan.
Risiko itu perlu diperhatikan ketika pengendara tergoda berpindah ke BBM yang lebih murah karena harga nonsubsidi terus naik. Selisih harga di pompa memang terlihat menghemat pengeluaran, tetapi penghematan tersebut bisa hilang jika mesin jadi kurang bertenaga, lebih boros, atau membutuhkan perawatan lebih sering.
Oktan dan kebutuhan mesin tidak selalu sama
Nilai oktan atau Research Octane Number (RON) menunjukkan kemampuan bensin menahan kompresi sebelum terbakar di ruang bakar. Semakin tinggi angka oktan, semakin besar tekanan yang bisa ditahan bahan bakar agar pembakaran berlangsung pada waktu yang tepat.
Karena itu, pemilihan BBM tidak bisa hanya berdasar harga. Setiap mesin punya rasio kompresi yang berbeda, dan pabrikan sudah menyesuaikan rekomendasi bahan bakar sesuai karakter tersebut.
Referensi yang digunakan menyebut mesin dengan rasio kompresi 9:1 cocok memakai BBM oktan 88 atau Premium. Untuk rasio 9:1 sampai 10:1, BBM oktan 90 atau Pertalite disebut sesuai, sedangkan rasio 10:1 sampai 11:1 direkomendasikan menggunakan oktan 92 atau Pertamax. Pada mesin dengan rasio kompresi 11:1 sampai 13:1, bahan bakar yang direkomendasikan adalah oktan 98 atau Pertamax Turbo.
Pola itu menunjukkan bahwa semakin tinggi kompresi mesin, semakin tinggi pula kebutuhan oktan. Karena itulah, pilihan BBM yang tampak lebih hemat belum tentu cocok untuk semua kendaraan.
Apa yang terjadi jika oktan terlalu rendah
Bensin beroktan rendah cenderung lebih mudah terbakar pada suhu yang lebih rendah. Jika digunakan pada mesin yang seharusnya memakai oktan lebih tinggi, pembakaran bisa terjadi terlalu cepat dan memicu detonasi atau pembakaran dini.
Kondisi tersebut membuat mesin terasa tidak optimal. Tenaga bisa menurun, mesin bisa lebih sulit dihidupkan, dan respons saat dipakai cenderung tidak sebaik biasanya.
Dampaknya tidak berhenti pada performa. Penggunaan BBM yang tidak sesuai dalam jangka panjang dapat mempercepat keausan komponen mesin, terutama piston dan ring piston. Bagian itu disebut berisiko aus lebih cepat ketika bahan bakar yang dipakai tidak cocok dengan kebutuhan mesin.
Biaya murah belum tentu berujung hemat
Dorongan memilih BBM yang lebih murah memang bisa dimengerti saat harga bahan bakar naik. Namun, hemat di awal tidak selalu berarti hemat di akhir jika mesin harus bekerja lebih keras untuk menyesuaikan diri dengan karakter BBM yang tidak pas.
Toyota Indonesia juga disebut menilai pemakaian BBM yang tidak sesuai dapat meningkatkan emisi gas buang dan memicu kerak di ruang bakar. Sisa pembakaran yang tidak sempurna membuat kondisi dalam mesin kurang bersih dan bisa menambah masalah dalam pemakaian jangka panjang.
Akibatnya sering tidak terasa langsung setelah pengisian. Namun, seiring waktu bisa muncul lewat tarikan yang kurang halus, performa yang menurun, dan kebutuhan perawatan yang lebih sering.
Langkah aman sebelum menurunkan oktan
Pemilik kendaraan sebaiknya melihat buku manual atau rekomendasi pabrikan sebelum mengganti jenis bensin. Langkah ini penting karena batas toleransi setiap mesin berbeda, sehingga satu jenis BBM belum tentu aman untuk semua kendaraan.
Jika ingin berpindah ke oktan yang lebih rendah, pertimbangannya perlu matang dan tidak semata-mata karena harga lebih murah. Konsultasi dengan produsen atau bengkel resmi juga bisa membantu memastikan pilihan BBM tetap sesuai dengan karakter mesin.
Dengan memilih bahan bakar yang tepat, performa kendaraan bisa lebih stabil, efisiensi pemakaian tetap terjaga, dan risiko kerusakan komponen dapat ditekan. Saat harga BBM terasa memberatkan, ketepatan memilih oktan justru menjadi cara yang lebih aman agar biaya tidak membengkak di sisi perawatan.
