Adopsi Agentic AI di Indonesia mulai bergerak dari pembahasan menuju penerapan yang lebih nyata di lingkungan kerja. Sinyal paling kuat terlihat dari OpenClaw Meetup Jakarta #4 di Lintasarta, Jakarta, yang menarik lebih dari 500 pendaftar dan memperlihatkan besarnya minat terhadap penggunaan AI Agents untuk kebutuhan industri.
Pergeseran ini penting karena perusahaan kini tidak hanya mencari otomatisasi, tetapi juga efisiensi operasional dan peningkatan produktivitas yang bisa dijalankan lebih cerdas. Di titik itu, komunitas OpenClaw mengambil peran sebagai ruang temu bagi praktisi, pengembang, dan pemimpin teknologi untuk membahas bagaimana Agentic AI bisa dipakai secara lebih relevan.
Fokus pembahasan makin teknis
Pada pertemuan tersebut, topik yang dibahas mencakup otomatisasi kecerdasan buatan hingga sistem multi-agen. Arah diskusinya tidak berhenti pada konsep, melainkan bergeser ke persoalan implementasi yang berhadapan langsung dengan kebutuhan bisnis di berbagai sektor.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa ekosistem AI di Indonesia kian matang. Banyak peserta dan pelaku industri tampak membutuhkan ruang yang lebih praktis untuk memahami cara membangun, mengelola, dan mengoperasikan AI Agents di tempat kerja.
Proyeksi Gartner ikut menguatkan momentum
Momentum di Jakarta sejalan dengan proyeksi Gartner yang menyebut sekitar 33 persen aplikasi perangkat lunak perusahaan akan mulai mengadopsi Agentic AI pada 2028. Angka ini jauh di atas kondisi 2024, ketika adopsi teknologi tersebut masih berada di bawah 1 persen.
Gartner juga memperkirakan sekitar 15 persen keputusan operasional harian perusahaan dapat dijalankan secara otonom oleh AI Agents. Proyeksi itu menegaskan bahwa Agentic AI mulai dipandang sebagai bagian dari perubahan operasional yang lebih luas, bukan sekadar tren percobaan di laboratorium.
Infrastruktur digital menjadi penentu
Di sisi lain, adopsi AI skala besar tetap membutuhkan fondasi digital yang kuat. Chief Cloud Officer Lintasarta, Gidion Suranta Barus, menegaskan bahwa keberhasilan Agentic AI tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kesiapan infrastruktur yang menopangnya.
Lintasarta memperkuat Intelligent Core sebagai fondasi yang mengintegrasikan konektivitas, cloud, cybersecurity, dan AI dalam satu ekosistem. Pendekatan ini diarahkan untuk mendukung kebutuhan industri secara aman, terintegrasi, dan selaras dengan kebutuhan kedaulatan data perusahaan.
Kolaborasi ekosistem diposisikan sebagai kunci
OpenClaw dan Lintasarta sama-sama menyoroti bahwa percepatan adopsi AI berdaulat tidak bisa berjalan sendirian. Sinergi antara komunitas pengembang, penyedia infrastruktur, akademisi, dan regulator pemerintah dinilai perlu agar implementasi AI bergerak lebih terarah.
Perwakilan OpenClaw, Sofian Hadiwijaya, menilai ruang diskusi terbuka membantu mematangkan konsep implementasi teknologi di dunia kerja nyata. Ia juga menekankan bahwa AI Agents memiliki potensi besar mengubah cara organisasi bekerja, tetapi realisasinya tetap memerlukan kolaborasi yang memungkinkan pertukaran pengetahuan dan pengalaman implementasi.
Dorongan untuk talenta digital dan startup lokal
Penguatan ekosistem teknologi juga diarahkan untuk melahirkan lebih banyak talenta digital lokal yang kompeten di bidang AI melalui program pelatihan intensif. Di saat yang sama, startup didorong agar mampu menghadirkan solusi digital di sektor-sektor strategis.
Dalam konteks itu, komunitas seperti OpenClaw menjadi jembatan penting antara kebutuhan industri dan kesiapan sumber daya manusia. Ruang pertemuan yang terbuka memberi kesempatan bagi pelaku teknologi untuk memahami kebutuhan pasar sekaligus menyesuaikan pengembangan solusi AI agar lebih aplikatif.
Kemitraan OpenClaw dan Lintasarta menegaskan bahwa percepatan adopsi Agentic AI bergantung pada ekosistem yang saling terhubung, mulai dari komunitas hingga infrastruktur. Jika kolaborasi semacam ini terus berkembang, Indonesia berpeluang membangun pemanfaatan AI yang lebih inklusif, aman, dan relevan untuk kebutuhan industri.
Source: www.suara.com






